Dunia di sekitar Bella seolah kehilangan suaranya selama beberapa detik. Tatapannya tertuju pada keranjang sampah, tempat map perak berisi kerja kerasnya semalaman dibuang begitu saja seperti sampah tak berharga.
Penghinaan itu begitu menghancurkan, begitu dingin, hingga rasa panas yang membakar dadanya kini berubah menjadi dingin yang membekukan.
Surat pemecatan. Damian tidak sedang bermain-main. Pria ini datang bukan untuk berkompromi, melainkan untuk melakukan pembersihan total.
"Kau..." Bella bersuara, nadanya luar biasa rendah. Sifat impulsifnya mendesak untuk meraih cangkir kopi panas di meja Damian dan menyiramkannya ke wajah sombong itu. Namun, kilat menantang di mata Damian membuat Bella tersadar tepat waktu.
Pria ini sedang menungguku meledak. Dia butuh pembenaran emosional untuk menarik surat itu dari lacinya.
Itu tidak akan pernah terjadi.
Bella menarik napas perlahan melalui hidung, mengembuskannya lewat mulut. Perlahan, dia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kaki jenjangnya dengan keanggunan seorang pewaris tunggal yang terlatih.
"Investor dari London," ucap Bella, membalas tatapan Damian dengan senyum sinis yang tak kalah tajam. "Biarkan aku menebak. Apex Capital? Atau Sovereign Group? Hanya dua raksasa itu yang punya likuiditas cukup untuk mendanai akuisisi mendadak di Asia Tenggara dalam kuartal ini."
Kedua alis Damian bertaut hampir tak kentara. Perubahan kecil pada ekspresi terkontrol pria itu tidak luput dari pengamatan Bella.
Bingo.
"Kau cerdas, Damian, tapi kau terlalu meremehkan koneksi keluarga yang mendirikan tempat ini," Bella menopang dagunya, meniru gestur Damian beberapa menit lalu. "Sovereign Group dipimpin oleh Arthur Sterling. Pria tua itu adalah sahabat kakekku. Dia tidak akan menandatangani kontrak apa pun jika dia tahu bahwa restrukturisasi yang kau maksud adalah mendepak satu-satunya darah daging Vellara yang tersisa di manajemen ini."
Bella berdiri, merapikan blazer desainer yang melekat sempurna di tubuhnya. Dia tidak lagi terlihat seperti wanita yang terpojok. Aura kemewahan dan otoritas yang mengalir di darahnya memancar penuh.
"Tandatangani saja surat pemecatan itu sekarang, Damian. Mari kita lihat apakah Arthur Sterling akan tetap menyuntikkan dananya besok pagi, atau justru menarik seluruh penawaran dan membiarkan resume cemerlangmu ternoda oleh kegagalan akuisisi terbesar tahun ini."
Damian tidak bergerak. Matanya yang cokelat gelap menyipit, mengunci Bella dengan intensitas yang sanggup membuat nyali orang awam menciut. Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam, seolah-olah dua petarung sedang mengukur sisa kekuatan lawan di tengah arena.
"Kau sedang menggertak, Bells," desis Damian, suaranya terdengar berbahaya seperti desis ular. "Arthur Sterling adalah pebisnis tulen. Dia tidak akan mempertaruhkan keuntungan triliunan hanya demi sentimen masa lalu."
"Silakan dicoba," tantang Bella, suaranya tenang namun sarat ancaman mutlak. "Uji sentimen itu, CEO. Tarik suratnya dari lacimu sekarang, dan mari kita hancur bersama."
Damian menatap Bella lurus-lurus, mencari setitik saja keraguan atau ketakutan di mata wanita itu. Namun, Bella berdiri dengan kokoh. Kali ini, sikap bertindak dulu berpikir kemudian telah bertransformasi menjadi keberanian yang mematikan.
Setelah keheningan yang menyiksa, Damian perlahan menegakkan tubuhnya. Seringai sinis yang tadi menghiasi wajahnya memudar, digantikan oleh ekspresi datar tak terbaca.
Wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun.
Pria itu melirik arloji Rolex-nya sekilas. "Dua menit lagi rapat koordinasi dimulai. Masuk ke ruang rapat, Bella. Dan pastikan presentasimu tidak membuang waktuku."
Bella tersenyum tipis, sebuah kemenangan kecil yang rasanya semanis nektar. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Damian yang masih berdiri di balik meja mahoninya dengan sikap tubuh bagai patung yang dipahat.
Namun, kepuasan Bella tidak bertahan lama.
Tepat saat dia membuka pintu ruang rapat utama yang megah, di mana seluruh jajaran direksi dan kepala divisi sudah duduk melingkari meja kaca besar, Laura berlari kecil menghampirinya dengan wajah seputih kertas. Sekretarisnya itu memegang sebuah ponsel yang masih tersambung dalam panggilan suara.
"Bella..." bisik Laura dengan suara bergetar, menyerahkan ponsel itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Ini... ini dari firma hukum Arthur Sterling di London."
Bella mengernyit, firasat buruk mendadak mencengkeram tenggorokannya. Dia merebut ponsel itu dan menempelkannya ke telinga. "Ya, Bella Vellara di sini."
Suara bariton seorang pengacara Inggris terdengar di seberang lini, dingin dan tanpa basa-basi.
"Nona Vellara, saya menyampaikan pesan resmi dari Tuan Arthur Sterling. Beliau baru saja merestrukturisasi Sovereign Group, dan seluruh kendali atas investasi Grand Vellara telah dialihkan sepenuhnya kepada perwakilan mutlak mereka yang baru di Jakarta."
Jantung Bella mencelos. "Apa? Siapa?"
"Tuan Damian Vance. Beliau bukan sekadar CEO yang kirim oleh ayah Anda, Nona Vellara. Dua puluh persen saham Sovereign Group di hotel Anda kini berada di bawah nama pribadinya. Segala keputusan operasional, termasuk posisi Anda, adalah hak mutlak Tuan Vance tanpa perlu persetujuan pihak London lagi."
Panggilan itu terputus.
Bella membeku di ambang pintu. Di dalam ruangan, dari kejauhan, dia bisa melihat Damian berjalan santai menyusuri koridor menuju ruang rapat. Pria itu menatapnya dari jauh, senyum tipis tersungging di wajahnya yang dingin. Bibirnya bergerak membentuk satu kata yang benar-benar membuat Bella mempertimbangkan untuk memakannya hidup-hidup.
"Skakmat."