Sejak hari itu, Rie mulai belajar dengan ayahnya. Ketekunan sang putri membuat Ryoto bangga terhadap putrinya itu. Rie tidak hanya pintar, tapi dia juga gadis yang cepat memahami apa yang diterangkan Ryoto. Setiap teori dan prinsip tentang bisnis serta kepemimpinan diserapnya dengan cepat, bagaikan spons yang menyerap air. Ryoto tak henti-hentinya memuji kecerdasan putrinya di hadapan para petinggi di kelompok mereka. Baginya, Rie adalah penerus yang layak.
Seperti hari ini, Rie tengah mempelajari wilayah bisnis ayahnya di ruang kerja Ryoto. Tangannya gesit mencatat berbagai poin penting, sedangkan pandangannya terus tertuju pada peta bisnis yang terbentang di meja besar. Pikirannya sibuk memproses informasi tentang wilayah kekuasaan, aliran dana, dan potensi kerja sama dengan berbagai pihak yang selama ini sudah menjadi rekan setia mereka. Keheningan di dalam ruangan hanya ditemani oleh bunyi detik jam di dinding.
Pintu diketuk.
“Masuk!” perintah Ryoto dengan suara tegas, memecah suasana sunyi.
Seorang pria muda berusia 29 tahun masuk ke dalam ruangan. Suaranya berat saat mengucapkan salam, tapi tatapannya tegas. Rie yang sedang duduk membelakangi pintu tak langsung menyadari siapa yang datang. Namun, begitu dia mendengar suara Ryoto yang menyebut nama tamunya, tubuh Rie sedikit menegang.
"Ah, Ryu, kau sudah datang." Ryoto berdiri dari kursinya, berjalan mendekati pemuda itu. Rie masih belum menoleh. Hanya suara sepatu yang menapak di lantai kayu mengisyaratkan bahwa tamu tersebut sudah semakin dekat.
"Ya, Paman. Aku langsung ke sini saat Anda memanggil." Ryu berdiri tegap, berjarak hanya beberapa meter dari Rie, yang kini duduk diam, merasakan kehadirannya.
Rie akhirnya memutar kursi, perlahan menatap pria yang baru masuk. Matanya bertemu dengan wajah yang selama ini menghantui pikirannya—wajah seorang pria yang, dalam ingatannya, seharusnya sudah mati. Momen itu berlangsung dalam keheningan yang aneh, seolah-olah waktu berhenti. Rie berusaha menahan emosi yang tiba-tiba meluap dalam hatinya.
Pria itu, Ryu, menundukkan wajahnya, seperti biasa, tidak berani menatap langsung ke mata Rie. Gadis itu mengenalnya sebagai pria yang selalu rendah hati dan menjaga jarak, terutama ketika berhadapan dengan putri dari pemimpin tertinggi.
"Silakan duduk, Ryu," tawar Ryoto, yang kemudian duduk di sofa besar di sudut ruangan. Ryu mengikuti perintah itu dengan patuh, duduk di hadapan Ryoto, meskipun jantungnya berdebar kencang karena kehadiran Rie di ruangan yang sama.
"Ada apa, Paman memanggil saya?" tanya Ryu sopan, matanya masih sesekali melirik ke arah Rie yang kini diam memperhatikannya dari jauh.
“Aku ingin kau menjadi pengawal pribadi Rie,” ujar Ryoto dengan santai, namun jelas. Dia mengambil rokok yang ada di atas meja, dengan sigap Ryu menyalakan rokok tersebut.
Ryu mencoba tetap tenang. Dia tahu, pekerjaan ini adalah tugas yang besar, dan dia selalu menghormati Ryoto, ayah Rie. Tetapi, ada satu hal yang selalu dia hindari—berada terlalu dekat dengan Rie. Bukan karena dia tidak sanggup, tetapi...
"Apa Nona, Rie setuju?" Ryu tidak ingin menerima pekerjaan jika orang yang akan dijaganya tidak suka. Ryu tahu Rie selalu saja menganggap setiap yang dilakukan Ryu salah.
"Rie, kau mau, bukan? Jika Ryu menjadi pengawal pribadimu?"
Rie yang fokus memperhatikan setiap gerakan Ryu menjadi terkejut. Dia memperhatikan ayahnya dan kembali ke Ryu.
"Ya, aku setuju. Ryu apa kabar?" Entah kenapa Rie menanyakan hal itu.
Ryu memalingkan wajah untuk melihat Rie, dia menatap Rie dengan heran. Tumben sekali gadis 23 tahun, anak sang pimpinan bersikap ramah padanya? Biasanya Rie sangat jarang mengizinkannya untuk dikawal Ryu. Jika masih bisa orang lain yang melakukannya, mungkin tidak ada kesempatan bagi Ryu untuk mengawal Rie.
"Aku baik," jawab Ryu salah tingkah. Dia heran satu minggu yang lalu mereka masih bertemu. Saat Ryu menjadi pengawal Rie dan mengantar gadis itu untuk bertemu teman-temannya. Bahkan Rie sempat memarahinya hanya karena dia duduk terlalu dekat dengan meja, dimana Rie dan kawan-kawan berkumpul.
Apapun itu, dimata Rie, semua yang dilakukan Ryu tidak pernah benar. Ada saja komplen dari Rie untuk menegur Ryu.
Rie kembali menatap Ryu, dia telah berjanji dikehidupan kali ini. Jika dia tidak bisa mencintai Ryu, setidaknya dia akan bersikap sebaik mungkin padanya.
"Oke! Kesepakatan telah dibuat, mulai besok kau akan mengawal Rie dan menemaninya kemana pun dia mau," putus Ryoto.
"Baik, Paman. Ada lagi?" tanya Ryu sopan. Dia sedikit risi saat Rie terus memandangnya.
"Tidak, kau boleh pergi." Ryoto berdiri dari sofa. Ryu pun melangkah keluar dari ruang kerja.
***
Tingkah aneh Rie menurut Ryu semakin menjadi-jadi. Seharusnya Ryu senang karena hampir di setiap ke sempatan dan setiap hari, gadis pujaan hatinya itu menyapa Ryu dengan ramah.
"Ryu ini adalah daftar tempat yang ingin aku kunjungi hari ini." Rie menyerakan kertas yang berisi catatan wilyah yang akan di kunjungi oleh gadis itu.
Rie telah cukup untuk belajar teori, sekarang saatnya untuk mempraktekan teori yang diajarkan oleh ayah.
Ryu membaca catatan Rie tersebut. Menurutnya rute yang dibuat Rie cukup rumit.
"Bagaimana jika kita mulai dari wilayah C?" usul Ryu.
"Ah benarkah? Menurutmu itu lebih efisien?"
Jawaban dari Rie membuat Ryu terperangah tak percaya, gadis itu setuju dengan usulannya? Biasanya Rie dengan egois tidak akan mau menerima usulan Ryu. Pria muda itu merasa Rie berubah sangat jauh.
"Tentu saja. Ayo berangkat!" Ryu berjalan terlebih dahulu. Rie mengikuti Ryu dan menuju motor Ryu terparkir. Ryu memberikan helm kepada Rie, biasanya dia akan memakai mobil untuk mengantarkan Rie. Hanya saja kali ini Ryu ingin mengetahui sejauh mana, Rie akan bersikap baik padanya?
Ryu benar-benar dibuat melongo karena Rie tidak mengeluh dan tidak memarahinya. Semakin membuat Ryu curiga.
"Apa telah terjadi sesuatu?" Akhirnya Ryu tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Apa?" bingung Rie, dia masih mencoba membuka kancing helm.
"Kau tiba-tiba bersikap tamah padaku? Dan itu membuat aku sedikit berpikir aneh." Ryu mengambil helm dari Rie dan membukakannya, kemudian kembali menyerahkannya ke tangan Rie.
"A--apa, aku tidak bersikap aneh." Rie merasa malu dan marah karena perubahan sikapnya yang terlalu drastis dan kentara.
"Yakin tidak terjadi apa-apa? Kau selalu menyapaku dan hampir setiap hari dan setiap kita bertemu." Ryu menatap Rie dengan tajam, mencoba mencari kebohongan di sana.
"I-itu karena aku menjadikanmu sebagai saudara laki-lakiku, dan bukankah seorang adik wajib menyapa Abangnya?" Elak Rie. Dia mencoba menghindari tatapan Ryu yang mengintimidasi itu.
Ryu yang mendengar jawaban Rie menjadi kaget, tadinya Ryu pikir Rie telah mengetahui perasaan Ryu padanya. Ya, pria itu sebagai teman masa kecil Rie dan dari kecil sudah mempunyai perasaan yang berbeda kepada Rie. Namun gadis itu tidak menyadarinya. Sekarang wanita itu membaik padanya.
"Yakin hanya itu?" cecar Ryu.
"Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi. Kita harus segera pergi." Gados itu akhirnya memakai helm.
Mau tidak mau Ryu naik ke atas motor dan diikuti Rie. Mereka menuju wilayah C. Rie ingin melihat bisnis yang ada di sana dna beberapa tempat lainnya. Rie sangat bersemangat dalam bekerja membuat Ryu benar-benar tercengang.
Setelah puas mengelilingi wilayah, Ryu menghentikan motor di sebuah warung kaki lima yang menjual minuman. Ryu sudah siap menerima ceramah dari gadis yang dibawanya ini. Ryu menghitung sampai tiga. Namun, tidak terjadi apa-apa. Bahkan, Rie berjalan menuju penjual minuman. Setahu Ryu, gadis ini tidak pernah membili minumanan atau makanan di kaki lima.
"Kau yakin hanya menganggap aku Abang?" celetuk Ryu. Dia menyamakan langkah kaki dna berharap yang dia inginkan terjadi.
Rie menghentikan langkah kakinya dan melirik kepada Ryu.
"Apa kau berharap lebih?" tantang Rie.
Ryu menjadi gugup sendiri. Perubahan sikap Rie, semakin mencengangkan bagi Ryu. Hal yang wajar jika Ryu menjadi berharap Rie mengetahui perasaannya, sehingga memperlakukan dia dengan baik. Namun, ternyata Ryu salah, Rie masih menjadikannya Abang.
"Lupakan, sebaiknya kita minum saja, aku sudah haus!" Rie kembali berjalan dan mengabaikan Ryu. Ryu terpaksa mengikuti gadis itu.
Bullshit, siapa yang ingin menjadi abangnya!
-TBC-