"Jadi maksudmu, kau baru kembali dari kematian?" ucap Ryoto ragu, merasa bahwa dia salah mendengar cerita putrinya.
"Ya!" jawab Rie dengan tegas, matanya penuh keyakinan.
Ryoto menatap wajah putrinya yang tampak serius. Dia merasa tidak yakin, seolah-olah cerita yang didengarnya terlalu sulit untuk dipercaya. Dilihat dari logika manapun, kembali dari kematian adalah sesuatu yang mustahil. Namun, Rie tampaknya sungguh-sungguh.
Bagaimana cara meyakinkan ayahnya?
"Rie, Papa tidak tahu apa yang kau alami. Bisa saja itu hanya mimpi saat kau tidur dan kau merasa seolah-olah itu nyata," bujuk Ryoto lembut. Dia tidak ingin melukai perasaan putrinya yang tampak rapuh. Biasanya, Rie akan merajuk jika Ryoto tidak mendengarkan atau menuruti keinginannya.
"Tapi, ini benar, Papa. Aku tidak ingin hal buruk menimpa Papa. Papa tahu aku tidak bisa hidup tanpa Papa," kata Rie, suaranya gemetar. Dia mendekat dan memeluk ayahnya erat, berusaha mencari rasa aman dalam pelukan yang selama ini dia kenal.
Ryoto membalas pelukan itu, tetapi pikirannya tetap dipenuhi dengan keraguan. "Papa tahu, Sayang," jawabnya, mencoba menenangkan Rie. Namun, di dalam hatinya, dia masih meragukan cerita itu. Bagaimana mungkin putrinya mengalami sesuatu yang tidak masuk akal seperti itu?
Rie melepaskan pelukan dan menatap ayahnya dengan tatapan penuh tekad. Dia harus menemukan cara untuk membuat ayahnya percaya. Rie mulai memutar ingatannya, mencari kejadian yang akan segera terjadi—sesuatu yang bisa membuktikan bahwa dia tidak sedang berbohong atau mengarang cerita.
Tiba-tiba, Rie teringat bukti-bukti yang diberikan Ryu kepadanya di masa lalu. Bukti bahwa beberapa hari sebelum peperangan antar geng yang menyebabkan kematian sang ayah, geng motor Fujiomi akan didatangi oleh geng Kobayashi untuk 'mengetes kekuatan' mereka. Semua itu hanyalah tipuan untuk membunuh ayahnya.
"Papa, apakah Papa mendapat tawaran dari geng Kobayashi untuk mengetes kekuatan geng kita?" tanya Rie hati-hati. Dia tahu, di kehidupan yang ini, dia tidak mungkin tahu tentang bisnis ayahnya, apalagi tentang siapa saja musuhnya.
Ryoto terkejut, dan wajahnya memucat. Bagaimana putrinya bisa tahu? Ryoto telah berusaha keras menyembunyikan semua ini dari Rie agar dia bisa menjalani hidup yang normal. Rie seharusnya tidak tahu apa-apa tentang kehidupan gelap ayahnya.
"Bagaimana kau tahu?" Ryoto memandang Rie dengan tatapan yang serius, mencoba memahami apa yang terjadi.
"Papa heran, bukan? Padahal aku tidak pernah tahu tentang usaha yang Papa lakukan," kata Rie, suaranya penuh keyakinan.
Ryoto hanya bisa mengangguk, membenarkan perkataan putrinya. Selama ini, dia sangat menjaga agar Rie tidak terlibat dalam dunia hitam yang dia geluti. Tapi kini, putrinya tampaknya tahu lebih dari yang seharusnya.
"Jadi maksudmu, kau tahu semua ini dari masa lalu?" Ryoto mencoba memahami situasi yang semakin rumit ini.
Rie mengangguk pelan, menggenggam tangan ayahnya. "Papa, percayalah. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi," katanya dengan nada penuh permohonan.
Ryoto menghela napas panjang. Akhirnya, dia memutuskan untuk mempercayai Rie. Meskipun hatinya masih diliputi keraguan. "Baiklah, Papa percaya padamu. Papa akan memanggil anak buah untuk membahas cara menghadapinya," kata Ryoto, kemudian dia berjalan ke pintu dan memanggil anak buahnya masuk kembali ke dalam ruang kerja.
Para anak buah Ryoto segera masuk dan mengambil posisi duduk di sofa, menunggu instruksi selanjutnya dari pemimpin mereka. Sebelum Rie datang, mereka memang sudah mulai membahas tentang tantangan dari geng musuh.
Rie merasa canggung berada di ruangan itu. Dia ingin segera keluar dan meninggalkan mereka untuk membahas rencana tanpa dirinya.
"Mau ke mana?" cegat Ryoto saat melihat Rie mencoba berdiri dan menuju pintu.
"Tentu saja keluar. Bukankah Papa akan rapat membahas sesuatu yang penting?" jawab Rie dengan bingung, melirik ke arah ayahnya.
"Tidak. Kau akan tetap di sini dan ikut membahas rencana yang akan kita lakukan," putus Ryoto tegas. Dia memberi isyarat kepada Rie untuk duduk di sampingnya.
Para anak buah Ryoto terkejut, melihat Rie dengan pandangan meremehkan. Mereka saling berbisik, tidak percaya gadis manja seperti Rie bisa berguna dalam pembahasan penting seperti ini. Rie yang mereka kenal hanya tahu belanja dan sering bersikap sombong. Dia tidak pernah peduli dengan bisnis ayahnya, bahkan mungkin dia tidak tahu berapa anggota geng motor yang dipimpin oleh ayahnya.
Rie merasakan pandangan merendahkan dari mereka, tetapi dia memilih untuk tetap tenang. Dia tahu, ini adalah kesempatan untuk membuktikan diri, bukan hanya kepada mereka, tetapi juga kepada ayahnya.
Rapat dimulai kembali. Ryoto meminta setiap ketua wilayah memberikan usulan terhadap tantangan yang diberikan oleh geng Kobayashi. Ketua geng motor Fujiomi wilayah timur memaparkan rencananya, diikuti oleh ketua wilayah utara, selatan, dan barat. Ketua wilayah selatan bahkan membuat peta pertempuran untuk membantu mereka mengalahkan geng musuh.
Namun, setiap usulan dari para ketua wilayah memiliki kelebihan dan kekurangan. Ryoto menimbang dengan seksama apa yang sebaiknya mereka lakukan agar bisa mengalahkan geng Kobayashi.
Selama rapat, Rie hanya menjadi pendengar yang memperhatikan dengan saksama cara ayahnya memimpin. Dia merasa kagum dengan ketegasan dan kewibawaan yang ditunjukkan Ryoto. Tidak heran ayahnya berhasil memimpin dan mengelola organisasi sebesar ini.
Namun, rapat itu berlangsung cukup lama karena terjadi perdebatan di antara para ketua geng wilayah. Mereka masing-masing bersikeras dengan usulan mereka, bahkan ada yang terang-terangan menolak usulan dari yang lainnya.
"Tidak bisa begitu, itu akan sangat berbahaya bagi kita semua!" ujar ketua geng wilayah selatan dengan nada keras.
"Jadi maksudmu, ide kami tidak bisa dipakai?" hardik ketua geng wilayah timur dengan nada menantang.
"Bukan begitu, kami hanya memberikan cara yang lebih efisien untuk mengalahkan mereka," balas ketua geng selatan, tetap mempertahankan pendapatnya.
"Tapi, cara kalian jelas tidak efisien," sahut ketua geng wilayah barat, menambahkan ketegangan dalam ruangan.
Debat semakin memanas. Masing-masing ketua geng wilayah saling berusaha memberikan usulan terbaik, namun justru menimbulkan ketegangan yang tidak perlu.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, Ryoto akhirnya mengambil alih. Dengan wibawa tinggi, dia mengatur tugas masing-masing anak buahnya sehingga tidak ada lagi perdebatan yang tidak penting. Meski maksud mereka baik, jiwa merasa hebat yang masih kuat di antara mereka membuat situasi semakin sulit. Ryoto memutuskan untuk menggabungkan ide-ide yang ada dan membuat keputusan yang adil untuk semua pihak.
"Ada pertanyaan?" tanya Ryoto sebelum menutup rapat.
"Tidak ada, Tuan," jawab mereka serempak. Tampaknya, para anak buah sudah mulai tenang dan menerima tugas yang diberikan.
"Kalau begitu, kalian boleh keluar dan mempersiapkan semuanya. Ingat! Jangan ada yang terlupakan atau terlewatkan. Kita tidak mau mati konyol hanya karena sebuah tantangan, bukan?" lanjut Ryoto dengan nada serius.
"Siap, Tuan." Satu per satu dari mereka keluar dari ruangan itu, meninggalkan Rie dan Ryoto.
Ryoto menatap putrinya yang masih duduk di sofa, wajahnya menunjukkan rasa sayang yang mendalam. "Papa percaya padamu, mulai sekarang Papa akan melatihmu dengan baik dalam kehidupan ini. Papa tidak akan melepaskanmu untuk terluka atau menderita lagi," katanya tegas. Dalam hati, Ryoto bersumpah tidak akan membiarkan putrinya jatuh ke dalam situasi yang sama seperti di kehidupan sebelumnya. Di kehidupan kali ini, Rie harus selamat.
Rie menatap wajah ayahnya dengan penuh haru. Dia melihat kerutan yang mulai tampak di sekitar mata Ryoto, menandakan usia dan beban hidup yang dipikul pria itu. Tanpa disadari, air mata menetes dari mata Rie. Dia memeluk ayahnya erat dan menangis terisak.
"Terima kasih karena Papa mempercayaiku, terima kasih karena telah menjadi ayah bagiku dan memberikan kasih sayang yang begitu besar. Aku akan menjadi anak Papa terus di kehidupan selanjutnya," kata Rie sambil mempererat pelukan seolah tidak ingin kehilangan ayahnya lagi.
Ryoto mengelus rambut putri tunggalnya dengan lembut, merasa sangat kasihan melihat gadis yang begitu berharga baginya harus menghadapi kenyataan yang begitu berat. Bagaimanapun juga, ia adalah seorang ayah yang selalu ingin melindungi putrinya dari segala bahaya, baik yang tampak maupun yang tidak.
“Papa tidak akan membiarkanmu terluka lagi, Rie,” bisik Ryoto dengan suara yang dipenuhi tekad. “Apa pun yang terjadi, Papa akan memastikan kau tetap aman. Papa janji, Sayang.”
Rie mengangguk dalam pelukan ayahnya, merasakan kehangatan yang selalu membuatnya merasa tenang. Namun di balik itu semua, ada kekhawatiran yang tidak bisa ia hilangkan. Rie tahu bahwa perang yang akan datang tidak akan mudah, dan meskipun ayahnya sudah berjanji untuk melindunginya, ia harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Setelah beberapa saat dalam keheningan, Ryoto melepaskan pelukan itu dan menatap wajah putrinya dengan serius. “Rie, Papa ingin kau mulai belajar lebih banyak tentang organisasi kita. Dunia ini tidak mudah, dan Papa tidak ingin kau masuk ke dalamnya tanpa persiapan.”
Rie terdiam sejenak, menatap mata ayahnya yang kini dipenuhi dengan kesungguhan. “Papa, apa maksudnya? Apa Papa ingin aku... terlibat dalam urusan geng?”
Ryoto mengangguk perlahan. “Tidak sepenuhnya, tapi Papa ingin kau tahu apa yang terjadi di sekitarmu. Kau harus tahu siapa teman dan siapa musuh. Kau harus mengerti bagaimana menghadapi situasi sulit. Papa tidak akan selalu ada di sisimu, Rie, dan Papa ingin kau bisa melindungi dirimu sendiri.”
Kata-kata itu menghantam Rie dengan keras. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dunia ayahnya adalah sesuatu yang jauh dari dirinya, sesuatu yang tidak akan pernah menyentuh hidupnya secara langsung. Namun sekarang, kenyataan itu mulai berubah. Rie menyadari bahwa untuk melindungi dirinya dan orang-orang yang ia sayangi, ia harus memasuki dunia ayahnya, dunia yang keras dan penuh bahaya.
“Baik, Papa. Aku akan belajar,” jawab Rie akhirnya, dengan suara yang tegas. Ia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Jika ia tidak kuat, maka semua yang ia cintai akan hancur.
Ryoto tersenyum tipis, meskipun matanya masih dipenuhi dengan kekhawatiran. Ia tahu bahwa keputusan ini berat bagi Rie, tapi ia juga tahu bahwa ini adalah satu-satunya jalan. “Mulai besok, Papa akan memperkenalkanmu pada beberapa orang yang bisa kau percayai. Mereka akan membantumu belajar, tapi ingat, jangan pernah terlalu percaya pada siapa pun. Bahkan teman bisa menjadi musuh dalam situasi tertentu.”
Rie mengangguk, menyadari betapa berbahayanya dunia yang akan ia masuki. Namun, dengan tekad yang kuat, ia bersumpah dalam hati bahwa ia akan melakukan apa pun untuk melindungi ayahnya dan organisasi mereka. Jika itu berarti harus terlibat lebih dalam dalam urusan geng, maka ia akan melakukannya, tidak peduli seberapa berat jalannya.
-TBC-