"Ini di mana?" Rie memandang langit-langit yang berwarna putih, kelopak matanya terasa berat saat ia membuka mata. Gadis itu memperhatikan sekeliling kamar dengan bingung. Ia berada di atas tempat tidur mewah di rumahnya sendiri.
Bagaimana mungkin? Bagaimana dia bisa berada di kamarnya sendiri? Apa semua yang dialaminya tadi hanya mimpi? Kilas balik berbagai peristiwa yang menyakitkan memenuhi benaknya, membuatnya merasa seolah-olah semua itu baru saja terjadi.
Rie segera memeriksa tubuhnya, memastikan dirinya baik-baik saja. Ia berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, menatap refleksi dirinya dengan cermat. Tubuhnya tampak normal, tanpa luka atau cedera. Namun, hati dan pikirannya dipenuhi keraguan. Rie mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Dengan cepat, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di samping ranjang. Layar ponselnya menunjukkan tanggal satu bulan sebelum ayahnya meninggal. Artinya ini satu tahun lebih sebelum kejadiaan naas yang menimpanya dan Ryu?
Apakah Tuhan benar-benar mengabulkan permintaannya? Apakah ia diberi kesempatan untuk hidup kembali, untuk mengubah takdir yang tragis dan membalas dendam pada Kenji, suaminya dan musuh-musuh ayahnya?
Rie merasa yakin ini bukan sekadar mimpi. Ini adalah kesempatan yang diberikan kepadanya untuk memperbaiki semua kesalahan dan menyelamatkan orang-orang yang ia cintai, terutama ayahnya, dari nasib yang mengerikan.
"Papa?" Rie berbisik pelan, setengah berharap sang ayah muncul di hadapannya. Ia harus memastikan bahwa ini bukan khayalan. Ia harus menemui ayahnya dan memastikan bahwa dirinya benar-benar diberi kesempatan kedua.
Dengan langkah tergesa-gesa, Rie meninggalkan kamarnya, berlari menuruni tangga besar menuju lantai bawah. Ia merasa bahagia melihat rumah mewahnya yang masih utuh, seperti baru pertama kali melihatnya. Rie hampir tidak mengenali tempat yang ia tinggali selama bertahun-tahun. Selama ini, ia tidak peduli pada sekelilingnya, hanya menjadi gadis manja yang selalu mendapat apa yang diinginkannya dari sang ayah.
Saat tiba di lantai bawah, Rie langsung menuju ruang kerja ayahnya, tempat yang paling sering didatangi oleh Ryoto, sang ayah. Namun, ia merasa ragu untuk masuk. Apa yang akan ia lakukan jika semua ini hanyalah mimpi? Bagaimana jika ayahnya tidak berada di sana?
Ryoto, ayah Rie melihat Rie yang tergesa-gesa merasa aneh, seketita muncul ide untuk menjahili putrinya. Dia akan mengejutkan Rie yang sedang mengintip ruang kerjanya. Ryoto dengan cepat telah berdiri di belakang putrinya.
Rie terus melihat ke dalam, dia pun tidak berani masuk. Takut jika ini hanya mimpi. Rie hanya membuka sedikit pintu ruang kerja ayahnya. Dia terus memandang ke dalam mencaritahu keberadaan orang yang sangat dirindukannya.
Saking seriusnya Rie mengintai ruang kerja ayahnya. Dia tidak menyadari bahwa Ryoto telah berdiri di belakannya mengikuti gerakan kepala sang putri. Cukup lama memperhatikan tingkah sang putri, Ryoto akhirnya bersuara.
"Apa sekarang putri manjaku menjadi mata-mata?" suara Ryoto terdengar lembut namun penuh keusilan di belakang Rie.
Rie terkejut bukan main. Ia segera berbalik dan melihat ayahnya yang berdiri tak jauh darinya. Perasaan lega yang luar biasa mengalir melalui tubuhnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk ayahnya dengan erat, air mata membasahi pipinya.
"Papa, aku sangat merindukanmu," isak Rie di tengah pelukannya, rasa rindu dan syukur membanjiri hatinya.
Ryoto kebingungan dengan sikap putrinya yang tiba-tiba ini. Ia membalas pelukan Rie dengan lembut, meskipun rasa khawatir mulai mengusik benaknya.
"Apa yang telah terjadi, Rie? Mengapa kau menangis?" tanya Ryoto lembut, ingin tahu apa yang membuat putri satu-satunya ini terlihat begitu sedih dan terguncang.
Rie tidak langsung menjawab. Ia hanya memeluk ayahnya lebih erat lagi, seolah takut kehilangannya. Ryoto semakin khawatir. Ia tak terbiasa melihat Rie bersikap seperti ini. Biasanya, Rie adalah gadis yang ceria dan manja, yang selalu merasa aman di bawah perlindungannya.
Ryoto mencoba menenangkan Rie dengan mengusap lembut punggungnya. "Apakah ada yang menjahilimu? Katakan, siapa yang membuatmu bersedih seperti ini?" tanyanya lagi, berusaha mendapatkan jawaban dari putrinya yang masih terisak.
Rie tetap tidak menjawab, hanya air matanya yang terus mengalir. Setelah beberapa saat, akhirnya Rie melepaskan pelukan itu. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berbalik dan pergi meninggalkan ayahnya yang masih berdiri dengan kebingungan di depan ruang kerja.
Ryoto hanya bisa menatap kepergian putrinya dengan penuh tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Rie? Dengan wajah penuh kebingungan, Ryoto memanggil seorang pengawal yang biasa mengawal Rie.
"Kau, ke sini!" perintah Ryoto dengan suara yang tegas.
Pengawal itu segera berjalan mendekat, menundukkan kepala dengan hormat. "Ya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Apa kau tahu apa yang terjadi dengan putriku belakangan ini?" tanya Ryoto dengan nada penuh curiga.
Pengawal itu mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat. "Tidak, Tuan. Nona baik-baik saja sejauh yang saya tahu."
Ryoto tidak puas dengan jawaban itu. "Apakah dia memiliki kekasih?" tanyanya lagi, mencurigai bahwa mungkin putrinya sedang mengalami patah hati.
Pengawal itu menggeleng. "Tidak, Tuan. Selama saya mengawalnya, Nona tidak pernah bertemu dengan pria manapun."
Ryoto mendesah, lalu melambaikan tangan tanda pengawal itu boleh pergi. "Baiklah, kau boleh pergi."
Sementara itu, Rie kembali ke kamarnya. Ia mondar-mandir, pikirannya penuh dengan kebingungan. Bagaimana ia bisa memberitahu ayahnya tentang semua yang terjadi? Bagaimana ia bisa meyakinkan ayahnya bahwa mereka sedang berada di ambang bahaya? Rie merasa ini adalah kesempatannya untuk mengubah masa depan, dan ia tidak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja.
Setelah menenangkan dirinya, Rie memutuskan untuk kembali menemui ayahnya. Ia tahu bahwa ia harus berbicara dengan Ryoto secepat mungkin.
Rie menemukan Ryoto sedang berbicara dengan beberapa anak buahnya di ruang tamu. Dengan langkah tegas, Rie mendekati ayahnya, mencoba mengabaikan tatapan penasaran dari para anak buah.
"Papa, maaf, aku ingin berbicara. Ini sangat penting," ujar Rie, menyela pembicaraan ayahnya dengan nada serius.
Ryoto menoleh ke arah putrinya yang tampak penuh tekad. "Bicaralah, Papa akan mendengarkanmu," balas Ryoto, meskipun ia merasa sedikit tidak nyaman karena harus meninggalkan pembicaraan dengan anak buahnya.
"Papa, aku tidak bisa membicarakannya di sini," kata Rie, melirik ke arah para anak buah ayahnya dengan ragu.
Ryoto mengangguk, paham bahwa mungkin putrinya tidak ingin membicarakan sesuatu yang pribadi di depan orang lain. "Baiklah, ayo kita berbicara di ruang kerja Papa," ajak Ryoto sambil berdiri dan mengajak Rie menuju ruang kerja.
Saat mereka sampai di depan pintu ruang kerja, Ryoto menoleh ke belakang, melihat anak buahnya yang mengikuti mereka. "Kalian pergilah dulu, nanti aku akan melanjutkan pembicaraan kita," kata Ryoto kepada para anak buahnya.
Setelah para anak buahnya pergi, Ryoto membuka pintu ruang kerja dan mempersilakan Rie masuk. Ruangan itu luas dengan rak-rak penuh senjata di sepanjang dinding. Meskipun Rie sering masuk ke ruangan ini, ia baru kali ini benar-benar memperhatikan sekelilingnya. Ruangan ini begitu megah dan menakutkan pada saat yang bersamaan.
Ryoto duduk di sofa besar di tengah ruangan, menatap putrinya yang terlihat sangat serius. "Katakan, apakah kau jatuh cinta? Dengan siapa? Apakah Papa mengenalnya?" tanya Ryoto dengan senyum setengah menggoda.
"Papa, bukan itu. Ini jauh lebih penting daripada sekadar pria," jawab Rie tegas, tak habis pikir bagaimana ayahnya bisa berpikir seperti itu di saat seperti ini.
"Jadi apa? Jika bukan tentang pria?" tanya Ryoto penasaran, melihat putrinya yang semakin serius.
"Papa, tolong dengarkan aku saja, jangan menebak-nebak," pinta Rie, menghela napas panjang.
"Baiklah, katakan," jawab Ryoto, siap mendengar apa yang akan dikatakan putrinya.
Rie menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum mulai berbicara. Ia tahu apa yang akan ia sampaikan akan terdengar tidak masuk akal, bahkan mungkin gila. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain memberitahu ayahnya tentang apa yang ia alami.
"Papa, aku tahu ini akan terdengar aneh, tapi tolong dengarkan aku sampai selesai,"
Kemudian gadis itu menceritakan kejadian di kehidupan masa lalunya. Bagaimana ayahnya meninggal, Ryu dan dirinya. Pria paruh baya itu menyimak setiap detail yang dikatakan putrinya. Ryoto merasa kagum dan susah mempercayainya. Tidak mungkin putrinya ini pernah mati dan hidup kembali?
"Jadi maksudmu, kau baru kembali dari kematian?"
-TBC-