61

745 Kata

Pagi berikutnya, sinar matahari masuk pelan lewat celah gorden. Shila terbangun duluan, tapi tubuhnya masih setengah malas bergerak. Di sebelahnya, Arga sudah membuka mata dan menatapnya sambil tersenyum kecil. "Pagi, Mama cantik," suaranya serak tapi hangat. Shila tersipu, memukul pelan dadanya. "Jangan manggil mama, berasa tua." "Kalau gitu … pagi, pacar aku," bisik Arga sambil memeluknya dari belakang. Ia menarik Shila lebih dekat, hidungnya menyentuh lehernya, menghirup aroma wangi sabun yang masih tertinggal dari malam tadi. Shila tertawa pelan. "Eh, nanti Nayara kebangun kalau kita kelamaan begini." Arga menggeleng santai. "Masih pagi. Dia biasanya baru bangun setengah jam lagi. Kita punya waktu buat … cuddling dulu." Tangannya mengusap perut Shila lembut, bukan dengan niat naka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN