“Miss Areta!” Seruan itu terdengar lantang di telinga, menggema di koridor kampus yang saat ini tengah dipenuhi oleh para mahasiswa yang sedang tidak memiliki jadwal belajar di kelas. Terhenti sejenak. Bukan hanya Areta tapi juga sekitarnya yang terlihat terpaku pada objek yang tadi menyerukan nama di dosen kesayangan dengan begitu ambisinya. Bukan, bukan karena terpana oleh di tampan yang kini berjalan dengan senyum mengembang di wajahnya, bukan pula karena terkagum oleh karismatik yang tapak sangat cocok dengan pemuda itu. Tapi karena ingin melihat apa yang akan direaksikan oleh si pemuda pada Miss Areta. Bukan, bukan karena ingin ikut campur, hanya saja, mereka perlu memastikan apakah orang yang tengah bernteraksi dengan si dosen kesayangan termasuk kategori membahayakan atau tidak.

