Rindu

719 Kata

Baru saja pintu ruangannya terbuka, Areta langsung mendapati sang sahabat tengah meringkuk di kursi sofa dengan suara tangis yang terdengar lirih. Yaa, beginilah kira-kira jika Nia juga punya akses untuk dapat masuk ke dalam ruangannya. Setidaknya dia tak lagi seterkejut di awal-awal kala Nia memilih untuk menggandakan kunci kamarnya. "Kenapa lagi lo? Udah lama nggak nangis-nangis gini," ucapnya, melangkah masuk ke dalam meletakkan tas dan bawaannya di atas meja, lalu membuka jendela. Nia yang tadinya berbaring dengan kepala dan wajahnya yang tertutup, kini berbalik badan, menampakkan wajah lusuhnya pada Areta. Itu memprihatinkan. Areta tebak, gadis itu sudah menangis sepanjang malam dan nekat di sini sendirian. Untung kawasan kampus ini termasuk ke dalam kategori aman. “Retaaa …,” re

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN