Setelah Zeline keluar, Diko langsung menghampiriku. Tumben sekali, tadi sempat aku mendengar kalau Diko menyuruh Zeline mengerjakan tugasnya di luar saja, karena ia butuh privasi denganku. Sempat juga aku mendengar kalau Zeline awalnya seperti menolak, namun dengan berat hati harus menuruti perintah Diko. Ia menghentakkan kakinya tidak suka. "Kenapa? Tumben sekali begitu cepat." Tanyaku, tanpa menyembunyikan apapun. "Tidak. Hanya saja, entah kenapa sekarang aku seperti tidak nyaman saja dengan Zeline. Ia seperti terlalu memaksakan dirinya padaku, tidak seperti seorang adik pada kakaknya. Aku tidak nyaman," ucap Diko. Akhirnya, ia menyadarinya juga tanpa aku berusaha terlalu keras. "Ini, minumlah." Aku memberikan teh itu pada Diko. "Bagaimana menurutmu kalau aku memindahkan Zeline?

