"Kapan kamu akan benar-benar memindahkannya? Kamu tahu kalau itu mungkin satu-satunya cara agar dia tidak menganggu kita berdua. Untuk kamu pahami saja, Diko, kalau aku benci dipermainkan seperti ini. Aku pikir kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang aku maksud." Ucapku. Diko diam saja. Aku perhatikan, dia hendak bicara, namun dibatalkan. Beberapa kali seperti itu. "Berilah sedikit waktu baginya, mungkin sampai keadaan keluarganya membaik." Nafsu makanku langsung hilang karenanya. Ia dengan terang-terangan menginginkan Zeline untuk tetap kerja dengannya. "Kamu pikir aku tidak bisa lelah dengan semua janjimu?. Ingat Diko, aku sudah sangat percaya padamu, jangan membuatku kecewa lagi. Menunggu sampai keadaannya membaik? Memangnya kamu siapanya? Hanya seorang pria yang mengaku

