Bab 5

1030 Kata
Empat bulan pun berlalu, pernikahan Arabella dan juga Raka hanya berjalan di tempat. Setiap kali Raka ingin menikmati malam bersama sang istri, pasti Arabella memberikan ramuan tradisional milik nya yang ia racik sendiri. Arabella tak sudi jika suami nya itu menyentuh diri nya yang masih suci. Selama empat bulan itu, Arabella juga mencari tahu siapa saja teman dan juga musuh adik tiri nya. Ia mengumpulkan banyak sekali informasi dari semua teman-teman nya. Saat itu, ia berharap rencana yang ia buat akan lancar. Tidak ada yang menyadari, jika selama Arabella tinggal di rumah itu, mereka sudah terlalu banyak mengkonsumsi ramuan buatan Arabella. Ramuan itu, ia dapatkan dari hutan yang ada di desa. Di hutan itu, banyak sekali tanaman obat. Bahkan, ada juga tanaman beracun yang bisa menyebabkan halusinasi. Dan tanaman itu lah yang telah di berikan pada Raka dan keluarga nya itu selama ini. "Sayang, kamu sedang apa?" Tanya Raka saat melihat Arabella sedang sibuk di depan layar laptop nya. "Aku sedang belajar. Supaya nanti, saat aku kembali bekerja di perusahaan Ibu, aku tidak membuat mu kecewa." "Bella sayang, untuk apa kamu capek-capek bekerja. Kan ada aku suami mu, yang siap untuk memberikan semua nya untuk mu." "Ya tapi tetap saja. Aku tidak mau jadi wanita yang manja." "Yasudah kalau begitu. Terserah pada mu saja." Ucap Raka kesal. Selama ini, ia lah yang berkuasa di perusahaan itu. Jika saja Arabella muncul di sana, maka bisa di pastikan ia tak akan bisa sesuka nya lagi di sana. Raka mengira jika Arabella tidak tahu apapun tentang yang ia lakukan di belakang wanita itu. Arabella masih berpura-pura tak tahu. Supaya ia bisa mendapatkan banyak bukti tentang semua perbuatan yang dilakukan oleh Raka di belakang nya. "Raka, sudah beberapa bulan kita menikah. Kok aku belum hamil juga, ya. Apa jangan-jangan aku man-dul?" Ucap Arabella. Raka yang mendengar hal itu langsung saja tertarik dengan pembahasan mereka. Raka tahu jika Arabella sejak dulu memang memiliki banyak sekali penyakit. Raka yakin sekali jika penyakit itu pasti ada hubungan nya dengan rahim yang di miliki oleh Arabella saat ini. "Bella sayang. Kan baru empat bulan. Kita masih bisa mencoba nya lagi. Apalagi kita ini pengantin baru, loh." "Tapi Raka, bagaimana kalau aku memang man-dul? Aku ikhlas kok jika kamu menikahi wanita lainnya demi melanjutkan keturunan mu." Arabella berbicara dengan nada yang sangat menyedihkan. "Jika memang seperti itu, aku juga tak bisa mengatakan apapun. Kamu kan tahu Arabella. Jika aku adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga ku. Tidak mungkin aku tidak memiliki keturunan." "Lalu, jika memang aku tidak bisa memberi mu keturunan, apa kamu akan mencari pengganti ku, Raka?" "Hmm,, jangan buat aku bingung, Arabella. Sebagai istri yang baik, harus nya kamu tidak mengatakan hal itu dan membuat aku merasa bersalah." "Ya. Aku memang tidak boleh membuat mu pusing. Tapi Raka, jika nanti kamu ingin menikah lagi, aku mohon jangan ceraikan aku. Dan, aku bersedia mencarikan mu istri kedua." Raka terdiam. Ia pura-pura sedih. Padahal hati nya begitu senang. Cita-cita Raka sejak dulu adalah memiliki banyak istri. Dan ternyata, Arabella mampu mewujudkan semua mimpi nya itu. Jika sudah begini, Raka tidak perlu mengatakan apapun lagi pada wanita itu. Jika Raka begitu senang, berbeda dengan Mita yang saat itu sedang menguping pembicaraan mereka. Ia sama sekali tidak setuju jika Raka menikahi wanita lain lagi. Dengan Raka menikahi Arabella saja, sudah membuat nya sangat terlu-ka. Apalagi, jika nanti Raka memiliki wanita lain, pasti uang mereka akan berkurang banyak. Mita pun langsung mencari Ibu nya dan mengatakan apa yang ia dengar. Ia tak setuju dengan rencana Arabella. Kalau pun Raka mau mencari istri kedua, maka itu adalah diri nya sendiri. ****** Beberapa hari kemudian, rumah itu kedatangan banyak sekali orang-orang yang tidak dikenal. Orang-orang itu arsitektur. Arabella langsung menyambut kedatangan mereka dengan baik. Ia berencana membangun dua rumah di halaman belakang. Rumah itu memang tidak besar. Hanya saja di halaman belakang, memiliki lahan yang sangat luas. Jadi, di sana bisa di bangun dua rumah minimalis. "Bella, siapa mereka? Dan ada keperluan apa mereka mencari mu?" Tanya Ibu tiri nya Arabella. "Bu, aku ingin membangun dua rumah di halaman belakang." "Loh, untuk apa? Memang nya siapa yang akan tinggal di sana?" "Entah lah, Bu. Aku masih belum tahu. Aku hanya ingin saja. Mana tahu, jika aku bosan dengan rumah ini aku bisa pindah ke halaman belakang." Ibu tiri nya Arabella begitu senang mendengar hal itu. Ia tidak menyangka jika Arabella memilki pikiran seperti itu. "Hmm, jika kamu sudah mengatakan hal itu, Ibu tak bisa berkata banyak. Toh semua itu juga pakai uang mu." Arabella tersenyum. Jelas saja semua itu adalah uang nya. Warisan dari sang Ibu untuk diri nya sendiri. Sejak menikah, otomatis semua nya jatuh ke tangan Arabella. Ayah nya tak bisa berkutik lagi. Mereka semua pun, harus berpura-pura baik di depan Arabella supaya bisa mendapatkan uang jajann. Namun, Arabella juga tidak bisa langsung menghukum mereka. Ada satu rahasia yang belum di ketahui Arabella tentang kematian Ibu nya. Arabella yakin ada yang tidak beres dengan semua hal di masa lalu. Jika ayah nya bisa tega mera-cuni diri nya, bukan tidak mungkin Ibu nya juga pernah mendapat kan hal yang sama. "Bella, apa kamu sudah ha-mil? Ini sudah empat bulan sejak pernikahan mu." Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel nya. Ternyata itu adalah kakek guru nya. "Guru, aku tidak ingin memiliki anak. Jadi jangan bertanya tentang hal itu lagi. Oh ya, jika seseorang mengkonsumsi banyak ramuan halusinasi, apa yang terjadi pada nya?" "Bella, ada apa dengan mu? Apa kau mengkonsumsi tumbuhan itu?" "Bukan aku. Ada beberapa bina-tang liar yang terus saja menggangguku. Aku kesal sekali. Jadi, aku memakai ramuan itu untuk membuat mereka tenang." "Jika itu untuk binatang, ya silahkan saja. Tak akan ada efek apapun. Kecuali, jika di konsumsi oleh manusia. Lama kelamaan, mereka akan gi-la." "Ooh begitu. Terima kasih, guru." "Tapi Arabella, apa kamu yakin kamu baik-baik saja? Perasaan ku tak enak. Tidur tak nyenyak, makan pun cuma dua piring saja. Aku merindukan masakan buatan mu." Arabella hanya tersenyum saat melihat pesan itu. Ia memilih untuk tidak membalas lagi. Karena jika tidak, kakek tua itu tidak akan ada habis nya membahas hal yang tidak penting. Arabella pun kembali melanjutkan rencana nya. Entah apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Kita tunggu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN