Apakah aku baik-baik saja dengan ucapan ibu mertuaku itu? Tidak. Aku merasa tersentuh, bahkan ikut merasa bersalah karena telah membuatnya begitu memikirkanku. Tidak pernah menyangka bahwa beliau sedalam itu perasaannya. “Sudahlah, Jeng. Semua sudah berlalu, jangan disesali. Kita harus melihat ke depan, jangan selalu melihat ke belakang. Apa yang Jeng Marni lakukan untuk Hanum sudah lebih dari cukup. Saya sebagai ibu kandungnya saja tidak bisa berbuat banyak.” Bu Marni mengusap air matanya, lalu tersenyum lebar. Semua tidak lepas dari perhatianku. Meskipun aku tidak berkata apa-apa, tapi aku cukup mengamati saja. “Ya, benar. Kita jangan selalu melihat ke belakang.” “Betul, Jeng Marni. Hanum saja baik-baik aja, kok. Kenapa kita harus pusing. Saya yakin dia bisa mengambil sikap terh

