Kesempatan

1421 Kata

“Bapak mau makan siang dengan menu apa?” “Apa sajalah, Nak Farid. Ayah tidak mau merepotkanmu, sebenarnya.” “Bapak tidak perlu sungkan, saya yang mengajak, jadi saya harus bertanggung jawab.” “Baiklah, Bapak ngikut kamu saja, ya.” Aku tersenyum lebar melihat sikap menggemaskan Ayahnya Hanum. Lelaki paruh baya yang ramah dan bersahabat. Entah mengapa, aku merasa langsung akrab dengan Beliau. Mungkinkah ini yang dikatakan kecocokan? Kedekatan kami setelah pertemuan ketiga ini seolah menjawab semua pertanyaan mengapa kami bisa cepat akrab. Bukan karena hobi yang sama, tetapi ketika bersama Beliau, aku merasa nyaman. Mungkinkah karena selama ini aku tidak merasakan kehangatan seorang ayah? Ya, sejak usia remaja aku harus kehilangan sosok ayah yang meninggal dunia karena sakit. Sejak itu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN