Ayah menganggukkan kepala, ia tampak setuju dengan apa yang kukatakan. Semoga beliau bisa memahami cara pandangku. “Baiklah. Sepertinya kamu jauh lebih mengenal Haydar ketimbang Ayah,” ucap ayah sambil tertawa. “Bukan begitu, Yah. Ini hanya penilaian saya saja. Dia murid saya, sewaktu di SD,” jelasku cepat. Ayah menepis tangannya di depan wajah, lalu tersenyum semringah. “Ah ... sama saja. Yang jelas Ayah jauh lebih menyedihkan, tidak mengetahui perkembangan anak dan cucu-cucu sendiri. Ayah malah berterima kasih Hanum mengenalmu.” “Jangan bilang begitu, Yah. Ini hanya kebetulan saja,” elakku. “Baiklah. Ayah yakin kamu mengerti dan paham dengan maksud Ayah. Tapi ....” Ayah sengaja menggantung ucapannya. Aku benar-benar penasaran, dan jantungku ikut berdebar-debar dibuatnya. “Ayah san

