Sulit

1537 Kata

“Saya berjanji, Yah. Apa pun yang terjadi, saya berjanji akan berusaha berada di sekitar Hanum untuk menjaganya.” Akhirnya kujawab pertanyaan Ayah. “Ayah jangan khawatir tentang hal itu.” Mata Ayah berkaca-kaca. Suasana haru pun meliputi kami. Aku akhirnya harus merelakan hatiku. Merelakan hati yang akan terluka sewaktu-waktu. Kemungkinan terburuk yang akan kuhadapi nantinya. Semoga saja itu hanya kemungkinan saja, bukan menjadi kenyataan. Karena aku pun tidak tahu apakah sanggup menghadapinya kelak. Satu hal yang pasti, aku berharap agar hatiku bersambut dan membina bahtera rumah tangga kedua bersama Hanum. Semoga saja. Ayah tampak menikmati santap siangnya dengan penuh semangat setelah segala yang memenuhi pikirannya dilampiaskan padaku. Senang melihat Beliau tampak lega seperti saat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN