Satu hari sebelum keberangkatan Mas Farid membuatku semakin merasa tidak nyaman. Ada rasa ingin menahannya agar tidak pergi, tapi aku terlalu berkeras untuk mengabaikannya. Entah mengapa hangat pandangan matanya membuatku merasa tak ingin jauh darinya. Aku tahu, ini tidak boleh terjadi. Aku bukan muhrimnya, tidak sepantasnya memikirkan hal-hal itu. Namun, aku hanya manusia biasa. Seorang wanita yang menginginkan kebahagiaan untuk kedua orang anaknya, juga untuk dirinya sendiri. Apakah rasa yang kumiliki ini salah? Lalu, bagaimana dengan luka di hatiku? Apakah seiring waktu akan tersembuhkan? Apakah kelak kehidupan rumah tanggaku yang baru bersama Mas Farid akan menghilangkan rasa sakit itu? Aku terlalu takut untuk memulainya. Mungkin jalan terbaik adalah dengan membiarkan Mas Farid p

