Pukul setengah dua siang, mobil hitam yang dikendarai oleh Mas Farid memasuki pelataran parkir warung. Lelaki bertubuh tinggi itu berjalan memasuki warung menuju ke ruanganku. Dari ruangan ini, aku bisa melihat suasana di luar maupun di dalam, lebih leluasa. Mas Farid akan mengetuk pintu ruangan ketika kubuka lebih dulu. Aku mencoba bersikap biasa-biasa saja, padahal jantungku berdebar tidak keruan. “Ayo,” ajaknya begitu melihat wajahku di balik pintu kaca. “Kita mau ke mana?” “Nanti kamu tahu sendiri,” ucapnya singkat. “Mas tidak mau makan siang dulu?” tanyaku lagi. “Hmmm ... tadi sudah makan siang di kantor. Ayo,” jawabnya lalu berbalik. Ia kemudian berjalan membelakangiku keluar dari warung. Setelah berpamitan pada Reni, aku berjalan tergesa menyusul Mas Farid yang sudah lebih du

