Setelah kepergian Mas Farid meninggalkan warung, aku merasakan persendian sekujur tubuh seolah lemas. Seolah tak ada daya dan upaya untuk bisa bangkit menyangga tubuh. Ada sesuatu yang tertahan bahkan menghimpit pada bagian d**a. Sesekali rasa berdenyut terasa menyakitkan. Di dalam ruangan kerja, aku hanya mampu mengulang kembali semua yang dikatakan oleh Mas Farid sewaktu berada di pemakaman Maura, mendiang istrinya sekaligus ibu dari Rafa. Seolah ada penyesalan tengah membebaniku. Penyesalan? Apakah itu semua memungkinkan disebut dengan penyesalan? Apakah terlambat bagiku untuk mengatakan isi hati yang selama ini tertahan? Ataukah aku hanya merasa sedang mencoba menahan egoku sebagai wanita terhormat? Kupijit pelipis secara memutar, berharap menghilangkan segala bentuk perasaan nyeri

