Suasana di kantor polisi tampak lengang. Hanya beberapa petugas yang berjaga di depan. Di atas pintu ruang penjagaan kulihat jam dinding besar menunjukkan pukul tiga dini hari. Baru kusadari bahwa sejak kepergian Haydar beberapa saat lalu, membuat mataku terjaga. Langkah lebar-lebar kulakukan menuju ke dalam ruangan. Seorang petugas yang baru saja keluar dari ruangan menyapa. “Selamat malam, Ibu. Ada yang bisa dibantu?” Polisi berusia kisaran kepala empat itu bertanya dengan ramah padaku. “Selamat malam, Pak. Saya Hanum. Beberapa saat lalu ada petugas yang menghubungi saya agar segera datang kemari,” ucapku dengan penuh kecemasan. Hingga detik ini belum mendapatkan berita apa pun tentang Haydar dan apa hubungannya dengan polisi yang menghubungiku. “Oh, Bu Hanum. Ibu dari anak SMP yang

