“Sebenarnya apa yang mau Bapak katakan? Jangan berbelit-belit, Pak. Beri tahu saya, jelaskan!” seruku tak bisa menahan emosi. Semua kecemasan yang telah berada di ambang pintu seolah pecah saat itu juga. Pak Hadi tak mampu berkata-kata melihatku begitu berapi-api. Bukankah seharusnya ia menjelaskan semuanya secara gamlang padaku, bukannya berbelit-belit yang mengundang tanya dan rasa penasaran. Beberapa saat kemudian, seorang anak lelaki datang mendekat ke arahku dengan langkah tertatih. Ada luka goresan pada kaki dan tangannya. Pakaiannya kukenali bahkan postur tubuhnya pun sangat kukenali. Hanya wajahnya saja yang tidak kukenali, karena telah babak belur, lebam, bahkan sisa-sisa darah yang membasahi luka di wajah membuatku tak mengenalinya. Suaraku tercekat di tenggorokan dengan rasa

