Berdebar

1182 Kata

“Maaf, apakah saya mengganggu?” Reni dari balik pintu menatap kami dengan penuh selidik. Aku jadi salah tingkah dibuatnya, segera beringsut dari tempat duduk. Berusaha menjaga jarak dari Pak Sakti. Bertolak belakang dengan Pak Sakti yang malah terseyum lebar ketika melihat kemunculan Reni. Dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. “Tidak. Masuk saja,” jawab Pak Sakti. Ia lalu pindah duduk di seberang meja, dan posisinya sekarang berhadapan denganku. Seharusnya aku bisa merasa lebih nyaman karena sudah sedikit berjauhan. Nyatanya, posisi duduk Pak Sakti malah membuatnya lebih leluasa melihat ke arahku. “Maaf, makan siangnya terlambat, Pak Sakti.” Reni memohon dengan penuh penyesalan. Bukan salahnya juga. Karena guru Haydar, Bu Anggun dan Bu Elena juga cukup lama berada di ruangan in

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN