Lututku masih bergetar, meskipun sudah tak sekuat tadi. Jantung yang berdebar dengan ritme cepat membuatku hampir saja mengalami sesak napas. Berkali-kali ungkapan rasa syukur kupanjatkan atas apa yang telah kualami hari ini. Meskipun itu hanya sebuah kekecewaan. “Mbak Hanum?” Suara lembut Pak Sakti memanggil dari arah samping. Lelaki muda yang telah berjasa bagiku dan Haydar hari ini masih duduk di posisinya semula. Posisi duduk yang tidak berpindah demi melindungiku. Entah bagaimana caraku membayar semua kebaikannya. Terlalu banyak utang yang harus kubalas untuknya. “Ya, Pak Sakti.” Kubalas panggilannya dengan suara yang amat lelah. Bahkan mungkin terdengar hanya sebuah bisikan saja di telinga Pak Sakti. Aku hanya perlu beradaptasi untuk situasi saat ini. “Mbak baik-baik saja, buk

