“Permisi, Bu. Apakah saya boleh masuk?” Wajah yang tidak asing muncul dari balik pintu ruang kerjaku. Pak Sakti yang berada di dalam ruangan yang sama melihat heran ke arahku. Kemudian ia tampak semakin bertanya-tanya melihat kedatangan orang yang tampaknya asing bagiku. “Si-silakan, Bu. Ma-maaf, dari mana?” tanyaku terbata-bata. Pak Sakti tampaknya melihat perubahan air mukaku. Ia lekas berdiri, lalu berjalan mendekat ke arahku. Sejenak, kehadiran Pak Sakti sempat membuatku merasa sedikit tenang. Paling tidak, ada yang mendampingi saat ada berita buruk yang terpaksa kudengar. “Terima kasih. Perkenalkan, saya Anggun. Saya adalah guru BK di sekolah tempat Haydar menuntut ilmu.” Deg! Benar dugaanku. Mereka adalah guru-guru yang mengajar di sekolah Haydar. Tebakanku, wanita yang satun

