“Tok, tok, tok.” Terdengar suara ketukan di pintu membuyarkan konsentrasiku dalam memeriksa laporan penjualan. “Masuk.” Pintu pun terbuka. Wajah Mas Bayu menyembul dari sela-sela pintu sambil tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama, Mas Bayu segera datang menghampiri. “Ada apa, Mas Bayu?” “Bu, ada tamu.” “Kenapa tidak disuruh masuk saja?” “Mereka kayaknya mau makan siang dulu. Padahal sudah ditawari makan di ruangan Ibu aja. Mereka menolak.” Aku memicingkan mata, mencoba mengingat apakah sudah membuat janji dengan seseorang. Yang kuingat hanya janji via telepon dengan Pak Sakti. Kalaupun Pak Sakti yang datang, dia pasti segera diajak Mas Bayu datang menemuiku. Pasti orang yang tidak dikenal oleh Reni. “Siapa, sih?” tanyaku penasaran. “Mau dipanggilkan saja?” “Tapi sedang makan si

