“Mbak Hanum,” panggil Pak Sakti ketika kami sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. “Iya, Pak Sakti.” “Maaf.” Aku sampai mengerutkan kening mendengar permintaan maaf dari Pak Sakti. Dalam hati bertanya-tanya, mengapa harus meminta maaf, sementara tidak ada yang harus dimaafkan. Namun, lelaki itu tampak serius. Setelah mengucapkan kata itu, ia kembali konsentrasi melihat ke arah jalanan sambil mengemudikan mobil. “Untuk apa, Pak Sakti?” Pak Sakti saat ini yang mengerutkan keningnya. Ia lalu meliriku sekilas. Entah apa makna lirikan mata dengan alis mengkerut begitu. “Mbak, bisa tidak, jangan memanggilku dengan panggilan ‘Pak’?” tanya Pak Sakti tiba-tiba. Baru kusadari ternyata dia tidak nyaman dengan panggilan itu. Padahal, kami saling kenal sejak beberapa tahun yang la

