Tiga tahun yang lalu Suasana warung tidak begitu ramai pengunjung. Hanya beberapa meja saja yang terisi. Ada beberapa pasang muda-mudi menikmati makanan yang dipesan. Ada pula pasangan suami istri dan anak-anaknya memesan satu tempat di lantai dua. Saat-saat tidak banyak pengunjung begini waktu kumanfaatkan untuk mengecek laporan penjualan. Meskipun sudah ada staff yang mengurus, aku masih belum puas bila tidak langsung memeriksanya. Ada kepuasan tersendiri mengerjakan hal itu. Aku bisa memperkirakan pendapatan rata-rata warung yang kukelola. Setidaknya, aku harus pandai mencari uang untuk menghidupi keluarga dan membesarkan dua orang anakku. Suara ketukan terdengar disusul dengan terbukanya pintu. Sosok Mas Farid muncul dari balik pintu. Senyumnya mengembang lebar. “Hai! Sibuk sekal

