“Jangan pura-pura tidak mendengarnya, Hanum.” Mas Farid memecah keheningan di antara kami. “Aku tahu kamu mendengarnya dengan sangat jelas.” Kutundukkan kepala, mencoba memaknai hati yang seolah kosong. Rasa khawatir dan trauma yang kurasakan seolah enggan berlalu. Semakin lama menumpuk dan menjadikannya utuh pada sudut hatiku. Sudah cukup lama kucoba menata hati untuk membuka diri dan menerima kehadiran orang lain. Namun, tampaknya luka hati yang tertoreh cukup dalam, hingga waktu belum mampu menyembuhkannya. Kehadiran Mas Farid sempat menjadi penyemangat hidupku, tapi tak lebih dari itu. Sosok seorang lelaki yang kuanggap menjadi seorang kakak bagiku. Meskipun tahu bahwa rasa yang ia miliki jauh lebih dalam. Entah apa yang harus kulakukan untuk membalas kebaikannya. Karena untuk memb

