Kepulanganku tak membuat hatiku menjadi bahagia setelah pertemuan dengan Mas Dandi. Ada rasa lega, iba, kasihan dan kemarahan yang berbaur jadi satu. Iba dan kasihan karena pada akhirnya Mas Dandi menerima apa yang sudah seharusnya diterima. Semua hukuman atas tindakannya selama ini akhirnya harus dijalaninya. Marah? Tentu saja aku marah. Kupikir Mas Dandi menjadi sosok yang berubah, setelah permohonanku tempo hari ditolaknya. Kini, Mas Dandi kembali mengingkari ucapannya. Kesal dan kecewa lebih tepatnya. Namun, kini ada rasa lega menyelimuti hatiku. Seolah beban besar yang selama ini berada di pundakku telah berangsur menghilang. Kini, aku dapat berjalan dengan langkah lebih ringan. *** “Ibu, maafkan aku. Terpaksa kuambil jalan ini. Aku hanya tidak ingin menyakiti jiwa dan batinku l

