“g***a, Mbak Hanum.” “Gan ... gan ... ja?” Suaraku bergetar ketika mengulangi ucapan Pak Sakti. Benar-benar tidak memercayai apa yang baru saja kuucapkan. “Apakah itu benar, Mas?” Haydar yang sedari tadi menundukkan kepala semakin dalam menekuknya. Tubuhnya kian berguncang, kemudian terdengar suara isak yang tertahan. “Apa-apaan ini, Mas? Apa yang sebenarnya coba Mas Haydar lakukan? Mas marah sama Ibu? Benci? Kecewa? Kesal? Atau ... apa sebenarnya yang terjadi ini, Nak? Mengapa ini ....” Ucapan di mulutku tanpa sengaja tergantung begitu saja, tak kuasa melanjutkannya. Sakit, benar-benar sakit di d**a ini mengetahui kenyataan yang coba kuhindari sejak dini hari tadi. “Mbak Hanum, mohon bersabar. Kita harus mendengarkan Mas Haydar dulu. Karena saat ini hanya itulah yang paling penting

