“Adik dengar kok, Bu. Tapi ... mengapa Ayah sekarang jahat?” Seketika tatapan Mas Dandi tertuju padaku. Namun, makna tatapannya berbeda dengan caraku menatapnya. Bila aku cenderung terkejut dan merasakan betapa Jasmine memendam perasaannya, maka Mas Dandi tidak demikian. Dalam kilatan matanya tebersit amarah, kecewa dan rasa malu. Hal itu semakin memperburuk suasana. Suasana yang harusnya menjadi hening dan penuh haru tiba-tiba berubah menjadi penuh ketegangan. Segera kuraih jemari tangan Jasmine, lalu merangkulnya begitu melihat amarah di mata Mas Dandi. Dari sudut mataku, terlihat jemari tangan Mas Dandi mengepal menyerupai tinju. Rahangnya mengeras dengan tatapan bengis tertuju padaku. Kalau saja tidak memikirkan Jasmine, tentu sudah kuucapkan kata-kata pedas untuknya. Sayangnya, Ja

