“Mas sungguh keterlaluan! Rupanya memang begitulah selama ini Mas menilaiku! Tidak ada hal baik yang Engkau ingat dari semua bentuk pengabdianku selama menjadi istrimu! Sungguh keterlaluan!” Aku berang mendengar ucapan Mas Dandi yang merendahkanku. Tak menyangka bahwa selama ini dia memiliki pemikiran yang buruk terhadapku. Seandainya saja aku mengetahuinya selama ini, tentu saja aku tidak perlu mengabdi hingga menomorsekiankan keinginanku. Bukankah selama ini aku sudah mengabdi dengan semaksimal mungkin? Mengapa dia tega mengatakan hal itu padaku. Tidakkah dia tahu bagaimana rasa di hatiku dengan semua tuduhannya itu? “Kamu yang keterlaluan! Kamu! Tidak pernah belajar dari kesalahan. Coba belajar menjadi istri yang baik itu bagaimana, pasti kamu tidak akan menuntut cerai padaku!” “M

