“Kalau Mbak Hanum tidak keberatan untuk membaginya sama saya, maka saya dengan senang hati akan menampung dan mendengarkan ketakutan itu.” Menggunakan punggung tangan, kuusap air mata yang membasahi pipi. Rasa sakit di tenggorokan terasa nyata, tapi kian lama kian berkurang. Ucapan dari Pak Sakti pun terasa seolah oase di padang pasir yang gersang. Mungkin aku hanya membutuhkan telinga untuk mendengar semua kisahku. Namun, di sisi lain aku harus sadar diri akan statusku. Setidaknya aku harus mengerti batasan kedekatan antara aku dan Pak Sakti. Bila akhirnya kuutarakan kegundahan hatiku, bukankah itu satu bentuk jalinan kedekatan emosional karena dimulai dari kepercayaan? Takut. Aku terlalu takut untuk memulai itu semua. Tiba-tiba hal yang coba kuhilangkan dari dalam benakku semua bermun

