Lima tahun kemudian “Bu, Mas Haydar bisa minta tolong, gak?” Haydar putra pertamaku yang sekarang sudah duduk di bangku SMP merangkul lengan kiriku. Itu artinya ada permintaan yang membutuhkan pertimbangan besar baginya. “Minta tolong apa, Mas? Kok kayaknya serius banget.” Kuletakkan pisau di tangan yang digunakan untuk memotong sayuran. Jarang sekali Haydar akan berbuat begini kecuali apa yang diinginkannya itu benar-benar penting dan bersifat urgensi. “Mas takut ibu akan melarang,” ucap Haydar lirih. “Kalau mas gak bilang, ibu juga nggak tahu. Coba dulu ibu dengarkan, baru setelah itu baru ibu bisa pertimbangkan dilarang atau tidaknya.” Haydar menundukkan kepala, lalu tangan yang tadinya merangkul lenganku itu dilepaskan. Jemarinya bertaut, saling meremas satu sama lain. Sudah dap

