Hari menjelang sore ketika Mas Farid undur diri. Lelaki bermata sayu itu berdiri di depan pintu menanti kedatanganku. Sementara ayah juga berdiri di sampingnya. Wajah ayah semringah, tampak sekali ia sedang senang dengan mainan baru dan juga teman baru yang cocok. “Hanum, Nak Farid mau pulang, nih.” Aku segera berjalan menuju ke ruang tamu, menghampiri Mas Farid yang sudah bersiap-siap untuk pergi. Kedua orang ibuku yang juga menaruh respek terhadap Mas Farid pun ikut berjalan menghampiri Mas Farid. “Kok buru-buru, Nak Farid? Hanum cerita kalau Nak Farid memberikan hadiah sebuah alat pancing untuk ayah?” “Mohon maaf, Bu. Saya tidak bisa lama-lama, karena harus mengisi presensi di sekolah. Maklumlah. Lain kali, akan saja ajak Bapak pergi memancing. Secepatnya.” “Iya, Mas Farid. Mumpun

