01. Skandal jebakan
Ada rasa kepuasan tersendiri saat Oliver menerima gelas dari tangan Lyra lalu menenggak sampai habis meskipun itu dengan terpaksa. Keduanya saling menyecap anggur pada gelasnya masing-masing sampai tak sadar telah menghabiskan hampir satu botol sampai akhirnya tiba-tiba Lyra mendekat ke sopir pribadi sembari mengatakan sesuatu di telinga Oliver. “Tubuhku rasanya aneh sekali, tolong bantu aku-“
Oliver yang juga mulai terkena efek obat dari minuman tersebut mencoba untuk tetap mempertahankan kesadarannya meski berulang kali Lyra selalu mendominasi dengan mencumbu serta meraba tubuh gagahnya, lelaki mana yang bisa menahan godaan seperti itu apalagi ditambah efek obat yang sepertinya sudah tercampur dalam minuman dengan dosis tinggi membuatnya hampir hilang kendali. "Maaf, Nyonya. Apa yang ingin Anda lakukan?" melihat majikannya semakin liar membuat Oliver merasa kebingungan harus bersikap bagaimana.
"Aku butuh kamu. Tolong, puaskan aku," Lyra berbisik di telinga Oliver sembari mengecup lembut yang tentu saja membuat Oliver berjingkat dan menciptakan rasa aneh di sekujur tubuhnya.
“Sadarlah, Nyonya.” tegur Oliver yang masih berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan diri.
“Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, tolong aku.” Pinta Lyra terus menempelkan tubuhnya hingga di antara mereka sudah tidak ada jarak sama sekali, mengalungkan kedua tangannya ke leher sopir pribadi sembari mencumbu bibir Oliver dengan buasnya.
Sekuat apa pun bertahan, nyatanya hal ini tidak bisa membuatnya untuk mempertahankan diri sehingga dirinya juga ikut dalam permainan yang dilakukan oleh majikannya. Keduanya saling b******u dengan mesranya bahkan dengan penuh nafsu. Oliver yang sudah lepas kendali sampai menjelajahi leher putih majikannya dan tidak lupa meninggalkan bekas kemerahan di beberapa bagian, semakin mendapat sentuhan, keduanya semakin menginginkan hal yang lebih hingga akhirnya mereka sudah saling menanggalkan pakaian. “Apa anda siap, Nyonya?” tanyanya yang saat ini tengah berada di atas Lyra dengan ekspresi wajah yang sudah tidak tertahankan.
“Jangan banyak bicara, Oliver! Segera lakukan sekarang, semakin lama tertahan membuatku gila!” perintah Lyra yang langsung memeluk tubuh sopir pribadinya dengan erat sehingga seluruh tubuh mereka saling menempel.
“Akan saya pastikan jika anda seperti terbang melayang di surga, Nyonya.” Ucap Oliver kembali mencumbu bibir Lyra dengan buasnya.
Sedangkan tangan Lyra dengan jahil memainkan p****g Oliver sehingga membuatnya merasa sangat kenikmatan dan terus mengeluarkan suara desahan yang indah.
Perlahan-lahan menerobos kepemilikan majikannya dengan susah payah sampai akhirnya pisangnya sudah masuk sepenuhnya di mahkota Lyra hingga membuat mengerang kesakitan tetapi juga nikmat sembari terus memeluk sangat erat. Keringat keduanya sudah mengucur dengan deras, permainan yang awalnya perlahan, kini semakin dipercepat oleh Oliver karena kepemilikan majikannya sudah mampu menerima ukurannya dan sudah licin. Desahan demi desahan yang diucapkan oleh Lyra semakin memacu ritme permainan Oliver yang tadinya perlahan kini mulai cepat dan hal tersebut semakin menimbulkan suara desahan indah dan permintaan untuk terus lebih cepat lagi dari Lyra karena sudah merasa tidak tertahankan.
Keduanya saling memberi kenikmatan sampai setengah jam kemudian mereka sudah sama-sama berada di puncak dan suara erangan panjang keduanya menjadi penanda jika permainan panas telah usai. Keduanya lalu tertidur dalam satu selimut yang sama dengan posisi saling berpelukan.
Ternyata kejadian panas yang terjadi antara majikan dengan sopir pribadi ini merupakan sebuah skandal yang sengaja sudah direncanakan oleh Ansel yang pernah menjadi kekasih Lyra.
Ansel yang sudah memperkirakan ini semua, bergegas masuk ke kamar hotel. Betapa senangnya ketika memotret dua sejoli yang tengah tak sadarkan diri itu dengan leluasa sembari mengatakan, “Ini akan menjadi senjata bagiku untuk menghancurkan keluargamu yang selalu mendongak ke atas!” lalu membagikan foto serta video ke salah satu rekan media untuk segera ditayangkan supaya menjadi berita skandal terpanas minggu ini.
“Akan aku buat sebuah skandal, di mana nantinya nama baik keluarga besarmu yang selalu di jaga dengan sangat baik akan hancur seketika bahkan hancur sehancur-hancurnya! Maafkan aku yang membuatmu menjadi korban, karena titik lemah kedua orang tuamu ada padamu,” batin Ansel dengan senyum smirk setelah itu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih belum sadarkan diri dengan menuliskan secarik kertas rasa kecewa atas apa yang sudah terjadi antara Lyra dengan Oliver. Dengan begini, mereka akan merasa bersalah, di mana Lyra merasa sudah mengkhianati cintanya dengan Ansel, sedangkan Oliver merasa gagal menjaga majikannya, karena justru dirinya sendiri yang merusak.
****
Beberapa jam kemudian, ponsel Oliver berdering tiada henti yang membuatnya harus segera menjawabnya meski dengan posisi kepala yang masih sangat pusing, tanpa melihat lebih dulu siapa yang menelepon ia menjawab, “Ha-halo…” dengan suara serak.
Betapa terkejutnya ketika melihat posisi dirinya sudah menanggalkan semua pakaian dengan posisi ada Lyra di sampingnya tengah tertidur dengan pulas tanpa memakai pakaian sehelai pun. Ponsel yang masih terhubung dengan seseorang pun segera diputus olehnya apalagi setelah tahu jika yang menelepon adalah ayah dari majikannya sendiri. Dengan segera Oliver membangunkan majikannya dengan mengguncang tubuh Lyra perlahan dan itu membutuhkan waktu lumayan lama karena majikannya benar-benar tidur terlelap sekali.
“Ada apa sih?” tanya Lyra kesal tetapi langsung kaget ketika menyadari jika keduanya sama-sama sudah melakukan hal yang di luar batas dan refleks berteriak histeris lantaran perbuatan yang dilakukannya sangat lah hina apalagi sudah melakukan dengan sopir pribadinya sendiri. Tidak bisa menerima ini, ia terus memukul tubuh Oliver secara membabi buta. Tidak ada perlawanan dari Oliver dan terus meminta maaf semakin membuat Lyra murka lalu mengatakan dengan nada tinggi, “Kata maafmu tidak bisa mengembalikan semuanya! Kamu yang ditugaskan untuk melindungiku malah kamu sendiri yang merusaknya.”
Dengan rasa bersalah dan penuh penyesalan, Oliver kembali meminta maaf dan mengatakan jika semua ini merupakan di luar kendalinya, setelah berkata seperti itu ia segera mengenakan pakaiannya kembali. Setelah selesai berpakaian, ia mengambil kembali pakaian mahal dan bermerek anak majikannya yang berserakan di lantai setelah itu memberikan kepada Lyra supaya segera dikenakan.
Dengan terpaksa Lyra menerimanya lalu berusaha berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, baru beranjak dari tempat tidur, ia sudah melihat ada sepucuk surat yang membuatnya merasa penasaran lalu di buka dan dibacanya dengan berurai air mata.
Untuk wanita tercintaku-Lyra Allegra Dominic. Maaf jika aku hanya bisa meninggalkan sepucuk surat untukmu, jujur saja, ketika menulis ini hatiku sangat hancur juga sakit ketika mengetahui apa yang terjadi antara kamu dengan bawahanmu, aku meninggalkan kalian tidaklah lama, tapi mengapa ketika kembali, posisinya justru begini? Apa ini namanya sopir yang ditugaskan menjaga anak majikannya? Atau jangan-jangan kalian memang ada hubungan di belakangku? Aku sudah tidak ingin penjelasan apa pun lagi, karena bagiku, ini semua sudah cukup untuk menjelaskan semuanya, terima kasih sudah merusak rasa percayaku terhadapmu, kamu yang meminta hubungan kita diperjuangkan, tapi kamu lebih melukai ketimbang ucapan papah kamu waktu itu, maaf, mulai hari ini aku mundur, jangan cari aku lagi, minta pertanggung jawab pada pengawalmu, jaga nama baik keluargamu sesuai apa yang pernah kamu katakan waktu kita bersama dulu, martabat keluarga besarmu sanggatlah penting.
Setelah membaca surat dari mantan kekasihnya, Lyra langsung pingsan karena tidak menginginkan ini semua terjadi, rasanya ini semua terasa mimpi paling buruk di dalam hidupnya.
Melihat majikannya pingsan, Oliver bergegas menghampiri dengan wajah yang sangat panik, “Nyonya, bangun, sadarlah, Nyonya,” karena tidak ada respon, akhirnya ia menidurkan Lyra kembali ke tempat tidur dengan hati-hati. Sembari menunggu siuman, kini Oliver kembali memunguti pakaian majikannya yang berserakan di lantai, ketika diletakkan di tempat tidur, betapa kagetnya ketika melihat bercak darah di seprai. “Da-darah siapa ini? Jangan-jangan Nyonya Lyra masih-” gumamnya lalu kembali memastikan dengan melihat lebih dekat dan benar saja memang itu adalah darah, artinya ia adalah orang pertama yang merenggut mahkota Lyra.
Mengetahui fakta baru lagi membuat kepala Oliver rasanya mau pecah dan itu artinya ia harus bertanggung jawab di hadapan ayahnya Lyra. Pikirannya yang tengah pusing memikirkan masalah ini, ada satu panggilan yang berdering terus tiada henti sehingga dengan terpaksa membuatnya harus menjawab, “Halo, ada apa?” tanyanya mengawali obrolannya dengan nada ketus .
“Gawat bos! Lihat berita sekarang juga,” jawab anak buahnya menunjukkan suatu kepanikan.