02. Di usir dari mansion

1342 Kata
Mendengar anak buahnya tengah panik langsung membuat Oliver bertanya dengan kesal. “Apanya yang gawat? Bicara yang jelas, jangan membuat saya bertambah pusing!” Bukannya menjawab, anak buahnya malah menutup panggilan secara sepihak sehingga ia sangat kesal dan melempar ponsel mahal berlogo buah ke tempat tidur. Karena penasaran sekali akhirnya menghidupkan televisi yang ada di kamar hotel tapi ternyata tidak ada sinyal sehingga banyak channel yang hilang. Tidak hanya ponsel mahal saja yang dibuang melainkan remote juga karena tidak ada clue sama sekali yang mampu menghilangkan rasa penasarannya. Di tengah tatapannya memastikan apakah Lyra sudah sadar atau belum, ada panggilan dari tuan besar yang tidak lain adalah ayahnya Lyra-Allegra Dominic. Tidak ada keberanian dalam dirinya untuk menjawab panggilan sehingga memilih membiarkannya saja. Tidak lama setelah panggilan terhenti, ada pesan masuk yang berupa amarah besar dari Allegra Dominic kepada dirinya dan Lyra yang berisi supaya mereka segera pulang ke rumah karena ada hal penting yang akan di bahas. Membaca pesan tersebut membuat pikirannya semakin kacau dan perasaannya gelisah, mengapa semuanya terjadi secara tiba-tiba. Belum sempat membangunkan Lyra, ternyata sudah lebih dulu terbangun yang langsung membuat Oliver merasa lega sekaligus bersyukur. Setelah anak majikannya posisi duduk, barulah ia mengatakan jika ayahnya sudah menanti di rumah dan ingin berbincang dengan mereka berdua. “Kamu pulang saja sendiri! Aku masih ingin di sini karena aku yakin Ansel akan datang, aku akan menjelaskan semuanya!” “Tapi kita diminta pulang oleh Tuan Besar, jika anda tidak mematuhinya, saya tidak bisa menjamin kalau nanti tiba-tiba saja datang kemari,” Oliver berusaha menakuti yang langsung membuat Lyra terpengaruh sampai akhirnya terpaksa setuju untuk meninggalkan tempat ini dengan posisi penampilannya yang acak-acakan dengan rambut yang ia kucir sembarangan tetapi masih terlihat aura kecantikannya. Baru saja hendak berjalan, ada rasa sakit di area pahanya yang membuatnya merasa susah untuk berjalan sampai akhirnya Oliver inisiatif menggendong Lyra sampai parkiran mobil. “Jangan asal main gendong anak orang ya! Kurang ajar!” protes Lyra memaksa untuk turun tetapi sama sekali tidak dihiraukan oleh Oliver. “Semakin lama kita di sini setelah tuan besar telepon, semakin besar pula potensi lokasi kita terlacak. Saya tidak akan lancang jika posisinya tidak urgent, lagian, baru saja kita saling menikmati satu sama lain. Apa yang mau dipermasalahkan lagi?” ucap Oliver membuat Lyra diam seribu bahasa karena menahan malu. **** Hingga akhirnya, mereka tiba juga di mansion milik keluarga Dominic yang merupakan konglomerat berpengaruh di negeri ini. Baru juga beberapa langkah, mereka sudah mendapat sambutan pedas dari tuan rumah yang tengah dipenuhi amarah. “Apa yang sudah kalian lakukan? Bisa-bisanya membuat malu keluarga besar Dominic! Lihat dan saya ingin kalian menjelaskannya sekarang juga!” pekik Allegra Dominic dengan wajah penuh amarah sembari memperlihatkan sesuatu kepada mereka setelah itu keduanya saling memandang dengan ekspresi terkejut dan ketakutan. Bukannya penjelasan yang akan didengarnya justru keduanya memilih dia membisu yang semakin membuat emosinya tersulur dan membanting vas bunga mahal yang dibelinya di Perancis. Suara pecahan vas bunga tersebut memecah kesunyian yang ada di sini sampai akhirnya Oliver memberanikan diri untuk bersimpuh di kaki majikannya sembari mengatakan. “Maafkan saya telah lalai menjaga anak semata wayang anda dan skandal tersebut ternyata sudah tersebar luas. Ini semua di luar kendali kami.” Kata-kata maaf yang terucap dari mulut Oliver nyatanya tidak mampu meredam emosi malah justru membuatnya semakin murka dan menatap tajam bahkan wajah Allegra Dominic pun memerah menunjukkan jika amarahnya kali ini tidak main-main. “Saya tidak membutuhkan kata maafmu itu, seharusnya kamu tau apa tugasmu! Bertahun-tahun saya mempercayaimu untuk menjaga dan memastikan keselamatan putriku malah justru kamu yang merusaknya! Rasa percayaku terhadapmu kali ini hilang sudah dan berganti rasa kecewa yang sangat dalam! Jika tidak mengingat ada hukuman di negeri ini, sudah aku pastikan nyawamu tidak akan aku biarkan hidup di dunia ini! Dan kamu, Lyra, Bisa-bisanya satu ranjang dengan bawahanmu sendiri! Di mana harga dirimu sebagai putri tunggal dari keluarga Dominic? Apakah kalian diam-diam menjalin asmara? Cepat katakan yang sebenarnya!” Lyra berurai air mata karena merasa ketakutan atas amarah ayahnya tetapi masih menjawab meski dengan suara bergetar, “Kami tidak ada hubungan apa-apa selain atasan dan bawahan, kejadian ini di luar kendali kami bahkan aku pun juga tidak menyangka hal ini terjadi.” Kenyataannya, penjelasan sang putri tidak juga membuat Allegra percaya bahkan meragukan alibi tersebut. “Saya bukan anak kemarin sore yang mendengar bualan receh begini langsung percaya! Asal kalian tahu, apa yang sudah kalian lakukan ini sungguh menjijikkan bahkan berita ini sudah tersebar di seluruh pelosok negeri! Mau taruh di mana muka saya! Skandal yang kalian lakukan sungguh mencoreng nama baik keluarga Dominic! Susah-susah saya menjaga martabat keluarga ini, dengan mudahnya kalian hancurkan dalam sekejap!” Karena merasa tidak percaya dan untuk membuktikan apakah ucapan ayahnya itu benar atau tidak, Lyra berlari menuju ruang keluarga untuk menyalakan televisi berukuran sangat besar, kebetulan ada salah satu stasiun televisi yang tengah memberitakan skandal yang mereka lakukan. Lyra yang melihatnya langsung berteriak histeris, dia tidak menyangka jika kejadian ini akan berbuntut panjang bahkan Oliver pun yang juga melihatnya merasa syok, dirinya yakin jika semua ini sudah direncanakan oleh seseorang. “Saya yakin Tuan, jika ini sebuah jebakan, ada seseorang yang memang sudah merencanakan semua ini untuk menjatuhkan Nyonya Lyra juga keluarga anda,” tebakan yang dijawab ejekan oleh Allegra bahkan malah justru membalikkan keadaan dengan mengatakan, “Jika benar ini adalah jebakan, mengapa kamu dengan mudahnya terperangkap? Sebelum memperkerjakan kamu sudah melalui serangkaian tes yang sangat ketat bahkan bisa dibilang berat, jadi, jika kamu menduga ini adalah jebakan, bisa saja kamu sendiri pelakunya namun seolah menjadi korban! Kamu sengaja merusak anak saya dan menyebarkan skandal murahan ini agar saya jatuh! Benar begitu?” “Saya bisa membuktikan jika saya tidak bersalah, saya bersumpah bahwa bukan saya pelakunya.” “Sumpah yang kamu ucapkan tidak ada artinya bagi saya karena itu tidak bisa membalikkan nama baik keluarga yang sudah tercoreng! Mulai hari ini, kamu saya pecat! Dan tidak hanya itu saja, Lyra Allegra Dominic, silakan angkat kaki dari rumah ini karena saya tidak sudi memiliki anak yang tidak bisa menjaga martabat keluarga dengan baik! Silakan angkat kaki dan jangan lagi tunjukkan wajah kalian di hadapan saya!” Lyra sungguh terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya bahkan merasa tidak terima. “Aku juga tidak mau semua ini terjadi, tega sekali mengusir anak kandungnya sendiri karena merasa malu dengan masalah yang bahkan aku saja tidak akan menyangkanya.” “Lebih baik saya kehilangan seseorang yang sudah merusak nama baik keluarga ketimbang terus mempertahankan dan nantinya terus menjadi aib dan membuat malu, kembalikan semua fasilitas yang saya berikan, silakan hidup berdua dengan sopirmu itu dan jangan lagi merengek apa pun!” usir Allegra menarik paksa anak semata wayangnya yang terus berteriak histeris hingga pintu depan rumah. Setelah sampai di depan pintu, barulah menghempaskan anaknya hingga terjatuh di lantai. “Tanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan! Ini adalah hal yang pantas kalian dapatkan!” ucap Allegra untuk terakhir kalinya setelah itu masuk ke rumah dan meminta pembantu menutup pintu serta melarang keras semua pekerjanya membukakan pintu untuk Lyra dan Oliver atau semua nantinya akan bernasib sama. Keluar dari rumah mewah yang menjadi saksi hidupnya sedari kecil tanpa membawa barang apa pun selain baju yang melekat di tubuhnya. Hingga keluar dari gerbang, tak ada pekerja yang menyapa malah justru mereka menundukkan kepala ada juga yang memalingkan muka. Sebenarnya, mereka kasihan kepada anak majikannya karena diusir oleh orang tuanya sendiri dengan cara yang kejam, namun mereka bisa apa? Membela Lyra sama saja menggali kuburan mereka sendiri. Di sini, mereka bekerja untuk mencari uang, jadi apa pun permasalahan yang terjadi terhadap majikannya, bukan kapasitas mereka untuk ikut campur, diam dan pura-pura tidak mengetahui itulah hal yang aman yang bisa mereka lakukan saat ini. Berjalan dengan tatapan kosong karena isi kepalanya berisik bagaimana semua ini bisa terjadi tanpa dirinya merasa waspada sedikit pun. Sampai pada akhirnya ia menyadari sesuatu, minuman berupa anggur merah yang sudah tersaji di kamar kemungkinan besar menjadi penyebab semua masalah ini. “Sial! Mengapa aku tidak kepikiran sampai sana, aku harus menyelidiki ini! Aku tidak terima!” batin Oliver penuh dendam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN