Di tengah pikirannya yang kalut atas masalah ini, Oliver harus dihadapi pula dengan ribetnya Lyra yag terus berkeluh kesah karena dipaksa jalan hampir dua kilometer. Hal tersebut langsung membuat Oliver segera memberhentikan taksi lalu mereka berdua kini berada di dalam dengan perasaan canggung.
“Kita mau ke mana?” Tanya Lyra memastikan.
“Tentu saja ke rumah saya, Nyonya, memang mau ke mana?” Tanya balik Oliver yang langsung membuat Lyra membulatkan matanya secara sempurna.
Mendengar kata rumah Oliver saja sudah membuatnya berekspetasi jika nanti pasti sempit, panas, kumuh. Baru membayangkan saja sudah membuatnya merinding apalagi sebentar lagi harus tinggal di sana untuk sementara, ya, dirinya hanya mau sementara saja sembari nantinya mencari cara untuk sewa rumah yang layak. “Apakah tidak ada tempat lain, Oliver?” tanyanya kembali memastikan mesti dengan rasa pasrah.
“Untuk sementara waktu, kembali ke rumah saya adalah jalan terbaik, Nyonya.” Jawab Oliver tidak bisa dibantah lagi, hanya bisa menghela nafas panjang yang saat ini dilakukan Lyra.
“Jalan Bougenville hilss nomor 16 A, Pak.” Ucap Oliver lagi menyebutkan alamat rumahnya yang seketika langsung membuat Lyra terkejut.
“I-itu tidak mungkin tempat tinggalmu ‘kan?”
Oliver hanya diam saja karena malas membalas pertanyaan dari anak majikannya, dirinya pun tau jika saat ini sedang diragukan. Lebih baik diam dan nantinya biar Lyra melihatnya sendiri.
****
Tiba di rumah Oliver-
Kesan pertama yang langsung terlihat adalah terkejut dengan terus menatap sekeliling, “Serius ini rumahmu, Oliver?”
Lagi dan lagi, Oliver memilih diam dan terus berjalan masuk yang di mana ada beberapa pelayan yang menyambutnya dengan sopan. “Selamat datang, Tuan.”
“Apa? Tu-tuan? Oliver, apa maksud semua ini!” pekik Lyra terkejut ketika pelayan di rumah mewah ini membungkukkan badan ketika menghadap Oliver bahkan memanggil dengan sebutan tuan.
Oliver memberi isyarat kepada pelayannya untuk pergi dan setelah itu hanya ada mereka berdua saja di ruang keluarga yang luas dan juga mewah ini. “Silakan tinggal di sini sesuka hati anda dan nikmatilah fasilitas yang ada, maaf, jika jauh dari kesan mewah seperti rumah anda, Nyonya.”
“Kamu ini seorang sopir pribadiku, mustahil sekali jika memiliki semua kemewahan ini. Kamu sebenarnya siapa, Oliver?” desak Lyra sangat penasaran.
Tidak mendapatkan balasan lagi, sampai akhirnya Oliver menaiki tangga menuju sebuah ruangan yang juga di ikuti oleh Lyra di belakangnya. “Ada baju saya di dalam lemari, sementara pakai itu dulu, nanti akan saya belikan beberapa pakaian untuk anda,” ucapnya sebelum melangkahkan kakinya pergi dari kamar tamu.
Mengedarkan pandangan dengan berjuta pertanyaan yang masih bertumpuk di kepalanya, seorang sopir pribadi memiliki rumah mewah, terlebih lagi ini adalah kawasan perumahan yang elit bahkan memiliki beberapa pelayan juga. “Sebanyak apa gajinya sampai bisa memiliki kehidupan mewah seperti ini? Setahuku, pekerja Papah saja tidak memiliki rumah seperti ini, mereka lebih memilih menyewa apartemen,” gumamnya lalu memilih merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang tak kalah empuknya dengan yang ada di kamarnya. Saking capeknya sampai tertidur dengan pulas sampai beberapa kali Oliver mengetuk pintu tidak juga ada jawaban, karena pintu tidak terkunci, ia masuk untuk memastikan jika Lyra masih berada di dalam dan baik-baik saja.
Melihat Lyra tertidur dengan pulas membuatnya tidak tega untuk membangunkan. “Istirahatlah, Nyonya, maafkan keteledoran saya yang tidak bisa menjaga anda dengan baik, saya berjanji akan bertanggung jawab penuh dan saya bersumpah akan mencari bukti jika kejadian itu adalah sebuah jebakan.”
Tidak terasa hari sudah menjelang malam, Lyra terbangun dan dikejutkan dengan beberapa paper bag di meja rias yang di dalamnya berisi underware serta pakaian wanita yang tentu saja bermerk seperti yang ia gunakan sehari-hari. Mencoba salah satu underware dan melihatnya dari pantulan cermin, membuatnya merasa heran, kenapa bisa seorang sopir pribadi tau betul ukurannya tanpa bertanya terlebih dahulu.
Setelah mencoba dan merasa cocok, ia segera mandi setelah itu turun untuk meminta penjelasan kepada Oliver.
Sudah mencari ke berbagai tempat dan terus memanggil namanya, ternyata Oliver berada di dapur dan tengah fokus memasak. Lyra bergegas menghampiri dan hal tersebut membuat sopir pribadinya terkejut.
Mencium harumnya masakan Oliver membuat perutnya tidak bisa diajak kompromi lagi, dengan lahap ia memakan masakan yang sudah disiapkan di meja, “Kamu ternyata bisa memasak juga ya.” ucapnya sambil mengunyah yang dijawab dengan anggukkan kepala.
“Oh iya, saya mau tanya, apakah kamu membelikan saya pakaian beserta underware?” tanya Lyra memastikan di sela-sela makannya.
“Benar, Nyonya, apakah pas?” tanya balik Oliver juga memastikan.
“Pas, sangat pas, kenapa kamu bisa mengetahui ukurannya?” Tanya Lyra sedikit curiga.
Dengan perasaan sedikit malu serta canggung, akhirnya Oliver menjawab. “Kita tidak sengaja pernah saling menanggalkan pakaian, setidaknya dari situ saya bisa memperkirakan.”
Keduanya kini berada di mode canggung dan saling diam hingga akhirnya ada panggilan masuk dari ponsel mahal Oliver, “Saya tinggal sebentar, permisi,” beranjak dari kursi makan dan mengangkat panggilan dengan jarak yang cukup jauh dari Lyra.
Tidak mau terus memikirkan jawaban absurd Oliver apalagi makannya sudah habis dan kini sudah merasa kenyang, ia memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri rumah mewah sopir pribadinya sampai akhirnya kembali ke ruang keluarga dan memilih menyalakan televisi karena merasa bosan. Baru juga menyala, dirinya disuguhkan berita yang berisi skandalnya dengan Oliver yang kini semakin meluas, awal-awal berita yang tersebar, kedua wajah mereka di blur oleh media bahkan tidak disebutkan pasti siapa orangnya, namun semakin kesini, berita di media semakin berani menunjukkan wajah keduanya bahkan yang di blur hanyalah tubuh mereka saja, nama mereka pun juga terpampang jelas dalam hideline berita.
Lyra berteriak histeris karena namanya semakin buruk, rasanya ia ingin tenggelam dalam lautan agar tidak lagi bertemu dengan orang lain karena saking merasa malunya. Mendengar ada teriakan dan jelas sekali itu suara Lyra langsung membuat Oliver bergegas menghampiri untuk menanyakan apa yang sudah terjadi. Belum sempat bertanya sudah menangis tersedu-sedu sembari matanya tidak bisa lepas dari televisi, kini ia tahu bahwa penyebab histeris adalah berita skandal mereka.
Oliver berusaha menenangkan Lyra tetapi di dalam hati tengah merasakan emosi yang meluap karena orang yang sengaja mencari masalah dengannya sepertinya sama sekali tidak takut mati. “Tolong tenanglah, saya tahu jika ini berat, saya pun juga merasa demikian, saya akan mencari bukti bahwa semua adalah jebakan, saya bersumpah, Nyonya!”
“Bagaimana caramu membuktikan semua ini, Oliver? Kita tidak tahu siapa musuh yang ingin menjatuhkan kita,” tanya Lyra penasaran.
Karena sedang emosi sampai membuat Oliver keceplosan berbicara. “Saya akan mengerahkan semua anak buah untuk mencari bukti sekecil apapun itu, anda tenang saja, urusan ini biar saya yang handle."
“A-apa? Anak buah? Ha ha, kamu mana punya anak buah? Jangan menghayal!” Lyra meragukan ucapan sopir pribadinya dan hal tersebut membuat Oliver merasa untung karena jika sampai terus diberi banyak pertanyaan, bisa-bisa kesusahan untuk mengelak dan nanti terkuak siapa dia sebenarnya.
Oliver hanya diam saja ketika mendengar keraguan dalam diri Lyra dan hal tersebut tidak membuatnya merasa pusing. Justru saat ini yang harus dilakukan adalah mengumpulkan semua anak buahnya di markas sesegera mungkin, dirinya tidak mau jika masalah ini dibiarkan malah yang ada semakin merajalela dan terdengar ayahnya. “Siapapun yang berani mengusik hidupku, jangan harap hidupnya akan tenang! Selama ini emosiku sudah lama padam! Karena skandal ini, seseorang berhasil memancingnya! Siapapun kamu, jangan harap bisa lolos dan hidup bahagia!!”
Dengan mengendarai mobil sport mewah limited edition dan menggunakan kaca mata hitam, penampilannya terlihat sangat mempesona bahkan mirip sekali seperti CEO.
Lyra yang mengetahui jika Oliver pergi dengan tergesa-gesa apalagi mengendarai mobil mewah yang ia tau betul berapa harganya, kini semakin dibuat penasaran sekaligus curiga. “Oliver sebenarnya siapa sih? Dia hanya sopir pribadiku tapi kenapa penampilannya semua serba branded? Bahkan mobilnya saja keluaran terbaru dan limited edition, rasanya mustahil sekali memiliki kemewahan seperti ini dengan pekerjaan aslinya bahkan tidak ada bedanya ketika aku berada di rumah dan di sini.”
****
Di markas, semua anak buahnya sudah berkumpul dengan menggunakan kaos hitam yang menjadi ciri khas. Kedatangan Oliver langsung disambut dengan penuh hormat bahkan tanpa bertele-tele ia langsung menyampaikan tugas yang harus dikerjakan anak buahnya. “Kalian pasti sudah mendengar skandal antara aku dengan seorang wanita, karena itu kehidupan kami menjadi asing di masyarakat sekitar bahkan tidak sedikit dari mereka yang masih menggunjing, hal itu membuatku semakin muak! Ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, jadi, tugas kalian adalah cari siapa dalangnya dan seret langsung ke markas! Dia tidak tahu siapa kita sebenarnya! Berani sekali macam-macam denganku!”