04. Ternyata pelakunya adalah...

1322 Kata
Setelah memberi perintah kepada anak buahnya, Oliver segera kembali ke rumah karena tidak bisa meninggalkan Lyra sendirian. Harapannya, anak buahnya segera mengungkap siapa dalang dibalik semua ini dan apa tujuannya melakukan ini semua. Setibanya di rumah, Oliver bergegas menuju ruang kerjanya yang menjadi satu dengan kamar pribadinya. Saat ini tengah fokus berkutat di laptop sembari sebelah tangannya memegang ponsel yang terus berada di telinga yang menandakan jika saat ini tengah bertelepon dengan seseorang. Tanpa sepengetahuannya, ada seseorang yang sengaja ingin mendengarkan obrolannya yang ternyata sedang membahas skandal mereka. Tentu saja Lyra benar-benar mendengarkan dengan baik. “Masalah skandal kemarin, saya yakin jika semua ini jebakan, berita yang beredar susah sekali untuk dibungkam dan hal itu membuat saya murka, apa harus saya sendiri yang turun tangan? Kalian membungkam berita begini saja tidak bisa! Saya tidak mau ada orang lain yang tahu siapa saya sebenarnya, apalagi kalau skandal ini sampai ke telinga Papahku! Jadi, saya beri waktu sepekan ini semua berita antara saya dengan Lyra sudah hilang tanpa jejak, mengerti?” setelah mengatakan itu, ponsel langsung diletakkan di meja kerjanya dan Oliver kini sedang memijat kening karena merasa pusing dengan kinerja anak buahnya yang lambat. Tiba-tiba mucul Lyra yang entah kapan sudah ada di kamarnya. “Sebenarnya kamu siapa, Oliver?” “Se-sejak kapan anda ada di sana, Nyonya?” tanya balik Oliver terkejut. “Sejak daritadi, jelaskan pada saya siapa kamu sebenarnya! Sejak pertama kali tiba di rumah ini, saya merasa sangat curiga kenapa kamu bisa memiliki semua fasilitas mewah ini? bahkan rumah kamu berada di kawasan perumahan elite, belum lagi pekerja di sini juga banyak. Semua pakaian yang kamu gunakan merupakan branded apalagi mobil pribadimu itu termasuk mobil limited edition, ‘kan? Aku tahu jika mobil itu hanya ada empat di dunia. Katakan, siapa kamu yang sebenarnya!” cecar Lyra membuat Oliver harus memikirkan jawaban dengan cepat dan tepat agar tidak curigai. “Anda berbicara apa, Nyonya? Kenapa saya bisa memiliki kehidupan mewah serta mempekerjakan beberapa orang di rumah ini? Ya semua dari gaji saya ketika bekerja dengan ayah anda terbilang besar, makanya saya menginvestasikan di beberapa hal, termasuk rumah ini.” “Jangan berbohong! Aku tahu berapa gajimu! Lalu, ketika kamu bicara tadi, mengapa mengatakan, apa harus membuka jati diri, siapa kamu sebenarnya? Saya tidak suka kebohongan, jadi, katakan sejujurnya,” desak Lyra semakin membuat Oliver pusing. Karena kondisinya sednag tidak baik-baik saja, Oliver memilih menghindar dengan melangkahkan kakinya menuju garasi untuk melajukan mobil mewahnya dan melesat pergi tanpa memberikan sedikit pun jawaban yang membuat Lyra tenang. Mengetahui jika ditinggal pergi begitu saja, membuat Lyra memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju kamar Oliver dengan tujuan untuk mencari jawaban atas rasa penasarannya. Ketika masuk, banyak sekali buku-buku pengetahuan bahkan novel yang dikoleksi, itu menandakan jika Oliver gemar membaca. Hingga tiba di satu rak, terdapat sebuah foto sekelompok orang memakai kaos hitam. Di foto itu, ada Oliver bersama pria seumuran ayahnya. Jika dilihat lebih detail, keduanya sangat mirip dan menduga jika ini adalah wajah ayahnya Oliver namun ada hal lain yang menjadi pusat perhatiannya, terdapat kalimat ketua asosiasi. Jadi, foto itu menandakan bahwa sopir pribadinya memiliki seorang ayah yang mendirikan sebuah organisasi yang saat ini menjadi misteri baginya. “Aku harus menyelidiki ini,” ketika ingin mengetahui lebih lanjut, ia mendengar deru mobil, setelah dilihat dari jendela kamar, rupanya pemilik kamar ini yang datang. Bergegas, ia keluar kamar dengan terburu-buru agar tidak ketahuan. Ketika tiba di depan kamar tamu, Oliver mengajak Lyra berbicara serius dan kini bergegas mengajak ke sebuah tempat yang sama sekali tidak diketahui olehnya. “Saya ingin anda mengetahui sebuah bukti, lebih jelasnya mari ikut saya sekarang.” Oliver lalu menggandeng tangan Lyra menuju mobil. **** Tiba di sebuah bangunan tua yang kumuh dan banyak dedaunan kering yang berserakan membuat Lyra merasakan ketakutan apalagi sama sekali tidak ada orang di sini, pikirannya langsung buruk terhadap sopir pribadinya itu. “Mengapa kamu membawa saya ke tempat seperti ini? Mau apa?” Tak ada jawaban membuatnya merasa kesal sampai akhirnya sudah ada di dalam. Hal yang lebih mengejutkan terjadi di sini, ternyata sudah banyak segerombolan pria yang wajahnya mirip dengan foto yang barusan ia lihat di kamar Oliver, “Si-siapa mereka semua? Apa yang ingin kalian lakukan terhadapku, ha?” teriaknya ketakutan. Oliver mencoba memberikan penjelasan supaya Lyra tidak takut dan berpikir buruk. “Mereka semua teman saya, tujuan mengajak anda ke sini untuk menunjukkan sesuatu, silakan buka pintunya dan lihat siapa yang ada di dalam.” Setelah mengatakan itu, ia memberikan kode kepada segerombolan orang untuk membukakan jalan bagi Lyra untuk melangkah. Dengan penuh ketakutan, Lyra melangkahkan kakinya sembari terus menatap segerombolan orang yang katanya teman dari sopir pribadinya sampai akhirnya tiba di pintu, betapa kagetnya ketika mengetahui siapa orang yang ada di sana, “Ansel? Apa yang sudah kalian lakukan kepadanya?” teriak Lyra menghampiri mantan kekasihnya yang sudah berlumuran darah. “Lyra, to-tolong a-aku,” pinta Ansel seraya merintih kesakitan. Melihat raut amarah di dalam wajah Lyra, bergegas membuatnya melangkahkan kaki mendekat. Raut ketakutan terlihat jelas dalam wajah Ansel hingga tubuhnya pun gemetar. “Dia dalang dari semua ini yang sengaja menjebak kita hingga terjadilah skandal sehingga membuat anda diusir dari mansion,” jawab Oliver dengan tenang namun tatapan matanya sangat tajam terhadap Ansel. Tentu saja Lyra tidak percaya begitu saja, mustahil mantan kekasihnya jahat seperti itu kepadanya. “Gak mungkin! Saya tahu kamu memang menuduh dia tapi gak begini caranya! Siapa kamu dengan beraninya mencelakai Ansel! Kamu lupa siapa dia? Ansel anak konglomerat! Beraninya menyakiti dia tanpa melihat risiko yang nanti akan kalian terima!” Tidak mau terlalu banyak bicara membuat Oliver kini memaksa Ansel untuk jujur. “Katakan sejujurnya atau mereka yang akan membuat anda lebih menderita dari ini,” setelah mengatakan itu, segerombolan pria mirip gangster turut berdiri di belakang Oliver. Karena posisinya terpojok bahkan tidak bisa lagi membela diri, akhirnya Ansel mengakui jika dirinya adalah dalang dari semua ini, jebakan yang dilakukannya memang semua dilakukan sebagai bentuk rasa sakit hati atas ucapan ayahnya Lyra waktu itu. Rupanya Ansel tidak terima dihina bahkan diremehkan oleh keluarga mantan kekasihnya sehingga timbul rasa benci yang sangat dalam dan berniat membalaskan dendam. Mendengar pengakuan langsung dari mulut manis mantan kekasihnya, membuat perasaan Lyra menjadi hancur berkeping-keping dan tidak menyangka jika pelakunya adalah orang terdekatnya yang tidak lain tidak bukan merupakan pria yang dicintainya. “Aku tidak menyangka jika kamu pelakunya, jujur saja, aku kecewa dan marah sekali kepadamu. Enyahlah dari hidupku dan aku tidak sudi lagi bertemu denganmu bahkan dalam ketidak sengajaan apa pun!” Ansel terus memohon kepada Lyra dan mengatakan jika menyesal sudah melakukan ini semua bahkan berjanji akan membersihkan nama baik mereka berdua asalkan dibebaskan. Dirinya merasa takut sekali dengan kelompok Oliver yang sangat kejam, jika terus menerus di sini, yang ada nyawanya hilang di tangan mereka. “Saya hanya akan menuruti apa kata Nyonya Lyra, tadi beliau menginginkan jika anda enyah, maka dengan mudahnya akan saya kabulkan,” ucap Oliver dengan tersenyum smirk setelah itu memerintahkan anak buahnya menghabisi Ansel. “Habisi dia! tapi biarkan nyawanya tetap ada, saya tidak ikhlas dia pergi dengan mudah, minimal buat dia cacat permanen di salah satu anggota tubuhnya!” setelah mengatakan itu, ia mengajak Lyra untuk pergi meninggalkan Ansel yang sedang mengalami masa sial dalam hidupnya karena harus berurusan dengan pria yang bukan sembarangan dan tidak bisa dianggap remeh. Teriakan memohon ampun serta tangisan Ansel sama sekali tidak mengusik rasa empati mereka berdua. “Tadi mereka menyebutmu bos? Itu artinya, dia semua anak buahmu? Jadi, ucapan ketika kita naik taksi dulu, ternyata ini?” cecarnya menatap Oliver dengan tajam. “Saya hanya membayar mereka untuk memberi pelajaran pada Ansel, jadi wajar jika mereka menyebut saya bos” bantahnya tidak mau terus terang. “Aku sudah capek dibohongi terus, tolong jawab dengan jujur atau aku akan pergi dari hidupmu!” ancam Lyra ingin berlari namun ditahan tangannya oleh Oliver. “Kalau pun anda nantinya tau, manfaatnya untuk anda itu apa, Nyonya? Bukankah lebih baik anda mengetahui seperti ini saja?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN