05. Usaha sia-sia

1194 Kata
“Memang tidak ada manfaatnya tetapi aku tidak bisa hidup bersama pria misterius! Apa susahnya menjelaskan!” desak terus menerus Lyra merasa geram karena Oliver selalu menghindar. “Sedikit yang anda tau itu jauh lebih baik daripada nantinya tau sebenarnya yang akan membahayakan anda.” Jawaban yang membuat pertanyaan besar serta rasa penasaran yang kini tengah dirasakan Lyra, sedangkan Oliver justru bersikap biasa saja dan terus menggenggam tangannya untuk menuju mobil mewah yang terparkir di halaman depan. “Oliver, aku serius!” pekik Lyra kini tidak bisa lagi terus dihantui rasa penasaran. “Pilih jujur atau aku pergi!” ancamnya tidak main-main. Oliver sudah berjanji akan selalu menjaga Lyra dan membuatnya selalu merasa aman, membiarkannya pergi sama saja mengingkari komitmen dan itu adalah hal memalukan di dalam komunitasnya. Setelah dipikir kembali, Lyra sudah di usir dari mansion mewah Dominic dan tidak ada niatan keluarganya untuk mencari anak semata wayangnya. Melihat sorot mata tajam Lyra membuat perasaannya menjadi aneh sampai akhirnya terpaksa untuk jujur. “Mereka semua memang anak buah saya dan sudah lama bekerja untuk keluarga saya, terutama Papah.” “Ja-jadi, kamu tengah menyembunyikan jati diri? Rumah, mobil, ponsel mewah, itu semua bukan karena gajimu menjadi sopir, ‘kan?” Tanya Lyra terkejut sekaligus masih penasaran. Oliver keberatan jika harus membahas hal tidak penting seperti ini, yang jelas, untuk saat ini Lyra sudah tau siapa dirinya dan itu sudah lebih dari cukup. “Tidak tepat jika membicarakannya saat ini, ada hal penting yang harus kita selesaikan.” **** Di dalam perjalanan Lyra terus diam dengan tatapan kosong, melihat hal itu membuat Oliver memikirkan apakah tindakannya memberi pelajaran pada Ansel serta memberitahu semuanya adalah hal yang salah? “Apakah anda merasa menyesal, Nyonya?” tanya Oliver memecah keheningan di dalam mobil. “Sangat, saya sangat-sangat menyesal. Terlebih menyesali sudah sangat mencintainya yang pada akhirnya membuat saya patah hati dengan sangat,” jawab Lyra sendu. Oliver tidak menyangka jika penangkapan Lyra karena masalah Ansel padahal yang dia maksud bukanlah itu, melainkan apakah ia menyesali karena sudah tau siapa sebenarnya mantan sopir pribadinya ini. Tidak mau membahasnya dan memilih hanya diam sembari fokus menyetir karena yang dibicarakan adalah permasalahan hati, sangat susah baginya untuk mengatur harus memiliki perasaan kepada siapa, karena perasaan tidak bisa dipaksa. Setidaknya, saat ini dirinya merasa lega karena sumpahnya untuk membuktikan jika mereka dijebak terbukti, tinggal bagaimana saat ini meyakinkan keluarga Lyra agar menerimanya kembali. Ternyata mereka melakukan perjalanan menuju rumah Allegra Dominic, mendengar nama papahnya membuat Lyra merasa gugup bahkan rasa takut kembali melandanya. “Aku takut kembali ditolak oleh Papah, kejadian pengusiran kemarin sangat membekas di hati.” Oliver berusaha meyakinkan Lyra dengan berbicara baik-baik, “Tidak ada salahnya untuk mencoba, saya akan selalu ada di samping anda meskipun nanti ayah anda menolaknya. Fakta ini wajib diketahui agar beliau tahu, meskipun kita memang bersalah tapi kejadian itu murni jebakan, memang sengaja ada orang yang ingin merusak keluarga Dominic melalui anda.” Ketika tiba di gerbang megah dan menjulang tinggi milik keluarga Allegra Dominic, mereka langsung dihadang oleh sekuriti dengan mengatakan, “Maaf, kalian tidak boleh masuk atas perintah Tuan Besar.” Oliver tidak akan diam begitu saja sampai akhirnya menjawab dengan lantang. “Jika kalian tidak memperbolehkan saya masuk, tidak masalah, tapi lihatlah siapa yang ada di samping saya ini! Lyra Allegra Dominic-putri semata wayang Allegra Dominic, apa kalian berani menolak?” Kedua sekuriti saling memandang untuk memberi jawaban sampai pada akhirnya mereka menghubungi majikannya untuk mengkonfirmasi ini. Cukup lama menunggu, akhirnya mereka diperbolehkan untuk masuk meskipun hanya sampai halaman depan. “Aku terasa seperti orang asing di rumahku sendiri,” gumam Lyra yang terdengar di telinga Oliver. Orang yang dimaksud kini sudah menemui mereka berdua dengan wajah yang tidak bersahabat bahkan kesan angkuh, sangat terlihat dari raut wajahnya. “Ada apa kalian kembali lagi? Sudah saya tegaskan, jangan lagi langkahkan atau tampakkan batang hidung kalian dihadapan saya, rupanya kalian tidak punya malu!” sindir Allegra sangat ketus. “Saya memang tidak tahu malu karena kembali menunjukkan muka dihadapan anda, namun kedatangan kami kemari untuk membersihkan nama baik yang sudah tercoreng, sebab, skandal waktu itu kami sudah menemukan bukti jika sebuah jebakan dan pelakunya adalah Ansel-mantan kekasih Nyonya Lyra Allegra Dominic.” Oliver berbicara dengan lugas dan tenang. Mendengar hal itu langsung membuat Allegra tertawa dan menganggap perkataan mantan sopir pribadi anaknya hanya sebuah lelucon. “Ansel? Dia keturunan dari keluarga terpandang, meskipun saya menentang dengan keras hubungan mereka, sangat mustahil dia pelakunya. Manfaatnya apa membuat skandal menjijikan seperti ini?” Oliver tidak mau terlalu banyak berbicara dan memilih melakukan video call kepada salah satu anak buahnya yang tengah mengeksekusi Ansel, di sana, Allegra melakukan berbagai pertanyaan kepada Ansel untuk membuktikan apa yang dituduhkan benar atau tidak. Setelah mengetahui jika semuanya benar, bergegas mematikan sambungan telepon sembari wajahnya merah padam, menandakan jika dirinya tengah emosi. “Dimana posisinya saat ini?” tanya Allegra penuh amarah. “Ansel sudah saya serahkan kepada rekan-rekan saya untuk memberikannya pelajaran yang setimpal, jadi, anda tidak perlu mengotori tangan anda hanya untuk anak ingusan kemarin sore.” jawab Oliver dengan begitu menggebu-gebu dan tidak mau menyebutkan dimana lokasi markas besarnya. “Saya tidak akan puas jika belum melihatnya langsung, jika kalian menyembunyikannya malah membuat saya menjadi curiga jika Ansel kalian paksa untuk mengakui ini semua!” ucapan Allegra memancing emosi Arsenio. Pendirian Oliver tetap sama, tidak mau memberitahu di mana lokasi markas besarnya. “Silakan anda berkata apa, yang pasti Ansel sudah saya tangani sesuai apa yang anak anda inginkan. Yang terpenting adalah mengembalikan lagi nama baik kami dan anda tahu kebenarannya, itu sudah lebih dari cukup.” “Tidak mudah mengembalikan nama baik apalagi berita kalian tersebar sangat luas, meskipun semua orang nantinya tahu jika semua ini jebakan. Tetap saja, skandal kalian akan terus terpatri dalam ingatan masyarakat luas. Maka dari itu, meskipun nama kalian nantinya kembali baik, tetap saja saya tidak bisa menerima kalian dalam lingkup keluarga ini lagi. Jadi, lebih baik kalian pergilah, saya masih ada urusan lain yang lebih penting,” usir Allegra membuat Lyra emosi dan kini sudah tidak bisa tertahankan. “Apa Papah tidak melihat perjuangan kami membuktikan ini semua tidaklah mudah! Aku pikir dengan terbukanya semua ini membuat pemikiran Papah terhadap kami sedikit lebih baik! Kami dijebak, Pah! Skandal yang terjadi bukanlah atas dasar suka sama suka! Ternyata semua sia-sia saja! Harta serta martabat adalah hal paling penting di dalam hidup Papah! Aku anak kandung Papah tetapi kenapa dengan teganya berbuat seperti ini? Sejak kecil sampai dewasa selalu saja menuruti apa kata Papah bahkan setiap gerak gerik ku selalu diawasi seperti CCTV berjalan! Hanya karena satu kesalahan yang sengaja dilakukan orang lain untuk menghancurkan keluarga ini, membuat Papah menutup mata semua itu! Seorang Allegra Dominic yang terkenal berwibawa, dihormati serta disegani banyak orang, hanyalah tampak luar saja! Penilaian orang-orang rupanya tidak didasari dengan sifat asli yang sebenarnya!” pekik Lyra dengan penuh kekecewaan dan air mata. “Jaga ucapanmu, Lyra! Semakin dewasa kelakuanmu semakin meresahkan keluarga ini! Keputusan untuk mengusirmu dari keluarga ini rupanya pilihan yang sudah tepat! Kamu benar, harta, martabat serta pujian semua orang itu sangat penting untuk mengangkat nama keluarga supaya semakin terkenal luas! Pergi dari rumah ini dan jangan tampakkan lagi batang hidungmu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN