Sejak Talita duduk di kursinya, Tia tatapannya terua mengarah ke perempuan itu. Raut wajah yang Talita pancarkan memang sangat bisa dibaca oleh orang sekitarnya termasuk Tia. "Lit? Lu kenapa sih?" tanya Tia yang langsung memegang dahi Talita. Tidak panas, tapi raut wajahnya murung seperti orang yang tengah merasakan sakit. Benar, Talita memang tengah merasakan sakit. Bukan sakit di badan, tapi hatinya. Seperginya mereka dari resto tadi, Fikar memang langsung membawanya balik ke kantor. Bahkan makanan yang dia makan saat ini pun, hasil dari memesan secara online. Talita tidak tahu pria itu makan siang atau tidak. Pertanyaan yang terus berkelana di otaknya adalah siapa gerangan wanita tadi sampai membuat bosnya itu menarik tangannya dan pergi begitu saja dari resto. Mau bertanyapun,

