"Ta." panggil Fikar dengan tatapan yang sesekali melirik ke sampingnya. Talita yang tengah memperhatikan keadaan di luar kaca, sontak mengalihkan tatapannya ketika mendengar pria disebelahnya memanggil dirinya. "Apa Pak?" "Saya belum muji kamu ya?" Kernyitan di dahi Talita langsung muncul begitu mendengar kalimat yang Fikar katakan, "Muji? Muji kenapa Pak?" "Muji kalau kamu pintar dalam segala hal." Tatapan tidak percayanya Talita layangkan ke Fikar. Haruskan mau memuji harus izin lebih dulu? Kenapa tidak mengatakan langsung saja? Tapi bagi Talita, mau bertanya atau tidak hasilnya tetap saja membuat pipinya merona. Melihat semburat merah di pipi Talita, Fikar melebarkan senyum tipisnya. Dia sudah paham makna pipi merah itu. "Kenapa senyum gitu?" tanya Talita merasa ada yang aneh d

