PERTEMUAN

1450 Kata
Siang itu, semua sibuk. Bahkan Laura juga tengah mendamaikan pertengkaran antara kakak beradik yang tengah adu mulut, entah masalah apa. Melinda sudah berkali-kali menyuruh Laura membiarkan anak-anak itu berdebat. Tapi, mungkin insting seorang nenek yang sayang sama cucunya. Malah peleraian itu membuat semuanya menangis ingin menang sendiri. Karena keributan itu. Mereka bahkan tak tahu jika pintu terbuka dan bel yang terpasang di belakangnya berbunyi. "Permisi!" Sosok wanita dengan dress midi berbahan sutra terbaik berwarna dusty pink dengan hiasan bordir aksen bunga kuning pucat di pinggiran leher dan ujung dress-nya. Make up tipis mampu menyamarkan kerutan di wajahnya yang masih sangat cantik. "Halo, syelamat datang di toko kami. Ada yang bisa saya bantu?" Suara imut menggemaskan mengucap salam selamat datang. Sosok wanita tua menatap gadis kecil cantik dengan pipi bulat kemerahan. Bibir mungilnya tak lepas dari senyum tulus. Rambutnya yang tebal pirang dan panjang dengan iris mata biru. Wanita itu memandang takjub cermin dirinya ketika berusia tiga tahun. "Hai, mana penjaga yang lebih tua darimu, apa begini mereka mempekerjakan anak di bawah umur?" Ujar wanita itu dengan nada tidak suka. Lilly mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti. Jemarinya ia sanggah di dagu sedang jari telunjuknya ia garukan di kening. Kepalanya miring mencerna apa yang dikatakan wanita di hadapannya itu. "Nyonya bilang apa. Lilly tidak mengerti?" Tanyanya. "Ah ... maaf, Nyonya. Ada keributan di dalam. Ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba Melinda datang menghampiri. Wanita tua itu menatap wanita muda yang ada di depannya. "Terima kasih Lilly. Kamu boleh masuk ke dalam," ujar Melinda sambil mendorong masuk putrinya. "Ok Mommy, apa di dalam sudah tenang?'' tanyanya bijak. "Sudah sayang. Sekarang minta s**u bagian mu pada Laura," jawab Melinda sambil memberi perintah. "Ah, maaf Nyonya. Kari silahkan, kue apa yang anda inginkan?' tanya Melinda setelah Lilly masuk ke ruang tengah. "Ya aku minta kue ini dan ini. Juga dua bungkus roti tawar," pintanya sambil menunjuk beberapa kue yang ia inginkan. "Aku kira kau mempekerjakan anak di bawah umur," ujarnya kemudian. "Ah tidak, Nyonya. Maafkan saya karena sedikit lalai," jawab Melinda ramah sambil memasukan kue dalam kotak kertas bermerk tokonya. Setelah membayar kue dengan harga yang sesuai. Wanita itu pergi. Melinda mengeluhkan d**a. Sungguh aura yang dikeluarkan wanita itu sangat mencekam dan menegangkan. Sosok dingin dan datar, mampu membuat Melinda sedikit takut. Setelah menenangkan diri. Tiba-tiba ia merasa familiar dengan wajah wanita itu. Melinda mengingat kapan dan di mana ia pernah bertemu dengan wanita tadi. Sayang. Sekeras apa pun ia mengingat, tak juga berhasil. "Ah sudahlah," ujarnya sambil menutup mesin kasir. Tak lama bel berdenting, menandakan ada pelanggan yang datang. Dengan senyum lebar dan wajah ramah. Melinda menyapa pengunjung yang datang. "Selamat datang di toko kue Nine Twins. Ada yang bisa kami bantu?" Sementara itu di sebuah mobil. Nampak sosok wanita yang duduk di kursi penumpang tengah menopang dagu dan menatap jendela. Sekelebat wajah imut dengan pipi gembul kemerahan mengusik ingatannya. Sungguh tadi ia sempat tergoda untuk mencium dan mencubit gemas pipi gembul itu. "Namanya Lilly kan? Sama dengan nama tengahku yakni Elizabeth?' tanyanya bergumam. 'Kenapa wajahnya mirip dengan mendiang Kak Eddiv. Gadis kecil itu juga sangat mirip denganku waktu seusianya,' ia bermonolog. Wanita bernama Paulina Elizabeth Guetta itu menghela napas. Sesekali ia melirik Maxwell yang tengah menyupir. Ya, wanita itu meminjam asisten pribadi ayahnya, untuk mengantarkan dia ke sebuah stand perhiasan yang baru saja didirikannya. Kebetulan, Eduardo tidak sibuk, jadi ia tak keberatan. "Max!'' panggil Paulina. "Ya, Nona," sahut Maxwell dengan tatapan fokus ke jalan. Paulina menatap spion yang ada di tengah mobil. Tampak Maxwell tak juga menatapnya melalui spion itu, hanya menghela napas. "Sudah lah. Tetap fokus pada jalanmu," gerutunya. Paulina membuang pandangan ke arah samping. Melihat gedung-gedung tinggi menjulang. Kotanya makin maju. Sedang ia sudah mulai lelah dengan semuanya. Usianya sudah melewati enam puluh tahun. Setetes bulir air bening mengalir di pipinya. Segera ia menghapusnya. Hatinya kosong dan dingin. Sedingin dirinya. Sedang Maxwell menatap anak majikannya yang sedang memandang kosong jalanan, hanya bisa menghela napas. Sedari tadi ia menetralkan detak jantungnya ketika berjalan berdampingan dengan wanita yang lima tahun usianya lebih tua dari dirinya. Mengubur perasaan yang tak mungkin. Wanita ini terlalu jauh ia gapai. 'Jangan cari mati, kau Max!' makinya dalam hati. Sampai rumah ayahnya, Paulina memberi bungkusan kuenya agar di tata di piring dan sebagian diberikan pada ayahnya sebagai penghantar minum teh. Sebenarnya, Paulina memiliki rumah sendiri. Tapi, hari ini ia ingin berkunjung ke kamarnya tentu ke kamar mendiang kakaknya Eddiv. Semenjak meninggalkannya Eddiv. Hubungan Paulina dan ayahnya buruk bahkan sangat buruk. Kelakuan Paulina yang menyimpang dengan kakak kandungnya, membuat Eduardo malu. walau, semuanya bisa ia tekan karena kekuasaannya. Sedang Paulina sangat marah, ketika ia tahu jika jantung Eddiv sudah bersemayam di d**a sang ayah. Gadis itu mengatasi Eduardo "monster pemakan jantung.". Setelah mengunjungi kamarnya. Dengan langkah perlahan ia mendatangi kamar mendiang kakaknya ketika kecil. Secara perlahan Paulina membuka pintu. Ketika masuk, nuansa putih dan hijau masuk ke retinanya. Dua warna kesukaan Eddiv. Lembut dan ceria. Sesuai karakter pria yang ia cintai itu. Paulina duduk di pinggir ranjang, yang dibungkus sprei warna hijau lumut dengan aksen bordir bunga di pinggirannya berwarna putih. Wangi wood dan musk langsung menyeruak. Wanginya Eddiv, parfum kesukaan Paulina. "Bibi," sebuah suara membuyarkan lamunannya. Sosok pria tampan yang sangat mirip dengan Eddiv datang. Pria yang dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang. Namun wanita pilihan pria yang kini duduk bersimpuh di depannya, membuat hubungan keduanya merenggang. Terlebih sekarang Laura menunjukan taring ketika semua kandidat yang diusungnya gugur. "Ada apa, Ed?" Tanya Paulina dengan wajah masam. "Apa aku juga dilarang datang ke kamar Ayahmu, yang notabene adalah kakak kandungku sendiri?" Sangat ketus dan keras. Edward hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu sangat sulit menaklukan wanita yang pernah merawatnya ini. "Bukan, Bu. Aku hanya datang kesini karena aku juga merindukan Ayahku," jelas Edward. "Bibi ... apa Bibi masih marah padaku, karena wanita pilihan ku?'' tanya Edward hati-hati. Paulina menghela napas dan membuang muka. Sungguh hatinya masih berat jika harus membahas wanita yang selalu menyudutkannya kini. "Istrimu kini makin berani. Setelah ia mampu meyakinkan para pemegang saham akan kepintaran putranya. Bahkan usaha yang dibangun semakin pesat di bawah kepemimpinan David!" Sarkas Paulina. "Tidak kah kau bangga, Bi? Dia juga keturunanmu," ujar Edward mengingatkan. "Hmmmh!" Hanya helaan napas panjang. Hatinya masih belum mau memuji kepintaran keponakannya itu. Bibirnya ia lipat ke dalam. "Sampai kapan kau membencinya. Dia sudah banyak mengalah untukmu, dan mengorbankan salah satu anak kami. Apa itu tidak cukup?" Tanya Edward sendu. "Lalu, apa sekarang kalian akan menuntut ku? Aku tidak akan menyerah begitu saja, Edward!" Pekiknya tertahan, Paulina meninggikan egonya. "Keturunan kita sudah habis, BI. Apa kau tidak sayang sama sekali!' teriak Edward frustasi. "Kau meneriaki ku Edward! Berani sekali!" Bentak Paulina tak suka. "Menyesal aku merawatmu!' lanjutnya sambil berlalu dari kamar itu. Betapa sakit hati Edward mendengar perkataan Paulina. Hatinya begitu teriris, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga. "Aku menyayangimu, BI. Teramat sangat, kau adalah pengganti ayah sekaligus ibuku. Tapi, aku juga menyayangi keluarga ku, lebih," ujar Edward bermonolog. Sedang Paulina kembali ke kamar. Ia membanting pintu. Tubuhnya ia lempar begitu saja ke atas ranjang berukuran queen size. Ia tersedu sedan. Menangisi kejadian tadi. "Sungguh ... Aku tidak bermaksud begitu Eddiv. Maafkan aku, hiks ... hiks!" Maxwell yang sedang berjalan ingin memanggil nonanya juga tuan muda Edward untuk datang ke taman belakang atas perintah Eduardo, mendengar tangisan Paulina. Pria itu mendengar pula nama mendiang tuan mudanya disebut oleh Paulina. Ada sedikit rasa sakit, ketika nama itu tersebut di bibir wanita yang kini mengusik pikirannya. Maxwell menekan dadanya. "Kenapa sakit sekali!" Ujarnya sangat pelan, hingga hanya ia sendiri yang mendengar suaranya. Edward yang keluar kamar ayahnya melihat perlakuan Maxwell. Pria itu sedikit khawatir. "Kau tidak apa-apa, Max?" "Ah ... maaf membuat anda khawatir, Tuan. Saya tidak apa-apa,. Terima kasih," jawab Maxwell sambil membungkuk hormat. Paulina yang mendengar percakapan Edward dan Maxwell, langsung mengusap wajahnya yang basah. Wanita itu bergegas keluar. Paulina mendapati Maxwell yang masih memegang dadanya. Ia jadi sangat khawatir. "Kenapa kau pegang dadamu? Apa kau tidak apa-apa?" "Ti-tidak, Nona. Saya tidak apa-apa," jawabnya terbata. Reflek Paulina ikut menyentuh tangan Maxwell yang memegang dadanya. Pria itu sedikit gelisah. "Kau pucat, Max. Aku akan memberitahu Ayah, agar memberimu cuti," saran Edward ketika melihat perubahan warna wajah pelayan pribadi ayahnya itu. "Tidak. Tidak perlu Tuan Muda. Saya tidak apa-apa," ujarnya kini melepas tangannya dari d**a , hingga membuat Paulina ikut melepas tangan yang menyentuh tangan Maxwell. Maxwell melakukan itu agar degup jantungnya yang cepat itu tidak teraba oleh Paulina. "Ah ... maaf, Tuan muda dan Nona muda. Tuan besar Eduardo memanggil anda berdua ke taman belakang untuk meminum teh bersama," ujar Maxwell menjalankan titah majikannya. Edward dan Paulina mengangguk, mereka berjalan beriringan. Sedang Maxwell berjalan di belakang putri dan cucu tuan besar Eduardo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN