“Alea,” tegur salah seorang teman kelasnya saat Alea sedang berada di perpustakaan kampus. Bianca tersenyum sebelum meletakkan buku yang ia pilih untuk ia baca di atas meja besar perpustakaan. “Kau di panggil Sir William,” lanjutnya yang membuat Alea mengerutkan dahinya bingung. “Aku rasa aku tidak memiliki masalah apapun dengannya.” Alea mencoba berpikir, karena seingatnya ia mengerjakan midterm sebelumnya dengan lancar dan juga ia tidak telat pagi ini. Lalu, apa yang diinginkan lelaki itu? Bianca mengendikkan kedua bahunya. Untungnya gadis di depannya ini tidak fanatik kepada Willy jadi Alea bisa merasa lega karena tidak ditanya yang macam-macam seperti temannya yang lain. “Sebaiknya kau temui saja dulu.” Menghela napas pelan, Alea mengangguk. Ia kembali merapikan buku-bukunya dan seg

