Tiga hari telah berlalu sejak malam pelarian itu. Kota tempat Aruna kini berada jauh dari gemerlap dunia Rafael, sebuah kota kecil di tepi pantai dengan jalanan sepi dan aroma laut yang lembut menusuk hidung. Ia menyewa kamar mungil di atas toko bunga, dengan jendela menghadap laut biru. Di sana, angin berembus tenang, dan suara ombak seolah menenangkan luka yang belum sempat sembuh. Setiap pagi, Aruna membantu pemilik toko, seorang wanita tua bernama Madame Risa, menyusun bunga-bunga segar di etalase. Tangannya yang dulu gemetar karena ketakutan kini mulai terbiasa menggenggam kehidupan baru. “Kau gadis yang kuat,” kata Madame Risa suatu pagi sambil tersenyum hangat. “Entahlah, Bu,” jawab Aruna lirih. “Aku hanya berusaha bertahan.” “Itu sudah cukup. Kadang bertahan saja sudah bentu

