“kenapa belum tidur sayang?” Airin mulai membiasakan diri berbicara santai kepada suaminya meski terkadang ia masih risih menggunakan bahasa yang tidak biasa ia ucapkan kepada Delano, namun ini semua ia lakukan demi Delano yang selalu memintanya untuk berbicara santai layaknya suami istri pada umumnya. Agar lebih akrab dan tidar terdengar seperti menjaga jarak, karena mereka bukan lagi majikan dan pembantu. “tidak apa-apa.” Jawab Delano sambil berusaha memejamkan matanya meski keringat membasahi keningnya. Airin tau jika suaminya tidak terbiasa tidur ditempat yang tidak ada pendinginnya. Ia segera mengambil kipas angina yang biasa ia letakkan diatas almari pakaiannya. Membersihkannya lalu meletakkannya dan menghidupkannya tepat didekat Delano. “aku harap kamu bisa tidur malam ini

