Aku mengangguk dan merekapun membantu memasukkan barang ke bagasi. Setelah selesai, Annisa mengunci pintu rumah lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahku bersama Fath. Sedangkan Mamanya, Fatih, dan Fatir duduk si bangku belakang kemudi.
"Sudah siap semua?" Ucapku semangat.
"Siap Om."
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Anak-anak sangat senang selama perjalanan. Fatih dan Fatir bernyanyi riang sedangkan Fath tertidur di pelukkan Annisa. Aku, Annisa, dan Mamanyapun mengobrol ringan. Terkadang, aku melirik dan melihat ke arah Annisa sambil tersenyum. Wajahnya yang cantik, teduh, dan tenang membuatku sangat nyaman.
"Kita makan siang di sini dulu mau?" Ajakku menunjuk restoran sea food yang cukup terkenal di Puncak.
"Boleh Pak."
Aku membelokkan mobil ke restoran tersebut dan mencari tempat parkir yang kosong. Setelah mendapat parkiran, kami bergegas turun dari mobil dan masuk ke dalam restoran. Aku meminta bantuan Annisa untuk memesan makanan dan minuman. Annisa menyetujuinya dan menanyakan makanan dan minuman yang aku inginkan terlebih dahulu. Setelah itu dia memanggil pelayan dan mulai memesan makanan dan minuman.
Anak-anak masih fokus dengan pemandangan sekitar. Setelah aku merasa mereka puas melihat sekeliling, aku mulai mengajak mereka mengobrol. Mereka bercerita dengan sangat antusias, dan membuatku bersemangat untuk menanyakan hal lainnya. Terlebih Fath yang sangat senang denganku. Sesekali dia bersandar dan memegang tanganku. Terkadang, aku merasakan khawatir dengan sikap Fath. Aku takut dia juga akan bersikap seperti ini kepada orang lain. Aku memandangnya dan dia tersenyum kepadaku. Wajahnya sangat mirip dengan Annisa. Akupun merasa harus melindunginya dan abang-abangnya.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang mengantar makanan dan minuman yang telah Annisa pesan sebelumnya. Fatih dan Fatir makan sendiri sedangkan Fath aku suapi dengan meminta izin terlebih dahulu kepada Annisa. Kamipun fokus dengan makanan dan minuman masing-masing. Selesai makan, aku memanggil pelayan dan segera membayarnya. Setelah itu kami berjalan menuju parkiran. Aku menggendong Fath, Annisa menuntun Fatih, dan Mamanya menuntun Fatir.
Sesampainya di parkiran, kami segera masuk ke dalam mobil. Ketika semua sudah masuk dan mengenakan seat belt, aku mulai melajukan mobil dan melanjutkan perjalanan menuju villa. Perjalanan cukup panjang. Mendaki dan menurun, alhamdulillah tidak ada kendala apapun selama perjalanan. Sesampainya di villa, kami bergegas turun dari mobil. Anak-anakpun segera berhamburan keluar dan bermain di taman.
Aku, Annisa, dan Mamanya, segera menurunkan barang bawaan dari bagasi. Setelah beberapa barang turun, 2 orang karyawanku datang menghampiri dan menawarkan bantuan. Aku mengangguk dan meminta agar barang-barang tersebut di taruh di kamar yang ada di bawah. Merekapun mengangguk dan segera membawa barang tersebut. Setelah semua barang turun, aku bergegas masuk ke dalam villa.
Selesai mengarahkan 2 karyawanku untuk menaruh barang di kamar, aku melihat Annisa masuk dan berjalan menuju kolam renang. Aku mengecek kotak bross yang aku taruh di kantong celana, lalu berjalan ke arah Annisa. Saat Annisa melihat ke arahku, akupun refleks tersenyum karena melihat wajahnya yang tampak senang.
"Kamu suka villanya Annisa?"
"Suka Pak, alhamdulillah. Terima kasih banyak sudah mengajak dan memberikan kesempatan kepada kami untuk berlibur di sini."
"Sama-sama Annisa. Lagipula kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih, karena villa ini akan menjadi milik kamu dan anak-anak juga nanti."
Aku membulatkan mata dan memandang Pak Anthony dengan penuh tanya, "Maksud Bapak?"
"Saya akan memberikan apapun yang kamu mau Annisa. Apalagi hal itu membuat anak-anak bahagia. Saya akan menganggap mereka seperti anak kandung saya sendiri. Apapun yang kalian inginkan, jika saya mampu pasti akan saya berikan. Dan jika memang saya belum bisa memenuhinya, saya akan mengusahakannya secara maksimal untuk memenuhi keinginan kalian." Aku tersenyum sambil memandang ke depan.
"Pak Anthony bercanda ya?" Annisa tersenyum tipis.
"Tidak Annisa, saya serius. Entah kenapa saya yakin dengan kamu. Walau saya tahu ini adalah awal, saya janji akan berusaha maksimal untuk memiliki kamu dan anak-anak dengan jalan yang baik sesuai kemampuan saya." Aku memandang lurus ke arahnya.
"Tapi..."
"Saya paham Annisa, kamu belum bisa menerima saya karena trauma dan rasa cinta yang masih tersisa pada mantan suamimu. Tapi tolong, jangan larang saya untuk masuk ke dalam kehidupan kamu dan anak-anak. Saya sangat ingin menjadi bagian dari keluarga kalian Annisa." Pak Anthony tersenyum dan memegang lembut tanganku.
"Maaf Pak." Aku melepas perlahan.
"Owh iya, maaf ya Annisa. Saya.." Ucapku menyesal.
"Tidak apa-apa Pak. Tapi maaf saya tidak bisa menjanjikan apapun kepada Bapak. Karena jujur kita juga baru kenal dan bertemu beberapa hari terakhir."
"Iya saya paham Annisa, saya hanya ingin kamu tahu maksud baik saya untuk kamu dan anak-anak."
Annisa mengangguk dan tersenyum, "Saya izin masuk duluan ya Pak."
"Sebentar Annisa, ini untuk kamu." Aku menyerahkan kotak kecil berwarna emas kepada Annisa.
"Apa ini Pak?"
"Hanya hadiah kecil untuk kamu. Tolong di pakai ya Annisa. Assalamualaikum."
Aku berbalik dan pergi meninggalkan Annisa. Akupun meminta seorang asisten rumah tangga untuk datang menghampiri dan menginformasikan kamar yang akan Annisa dan anak-anaknya tempati. Aku juga meminta karyawanku untuk menyiapkan makanan, minuman, dan alat serta bahan untuk kami melakukan BBQ nanti malam. Tidak lupa aku menyerahkan uang tunai kepada mereka.
Aku berjalan ke luar dan bermain bersama anak-anak. Andai Annisa tahu perasaanku saat ini, aku sangat senang dan bahagia bersama mereka. Melihat rasa bahagia yang terpancar dari wajah mereka membuatku seolah sedang bersama keluarga sendiri. Selesai bermain, kami masuk ke dalam villa. Mama Annisa tadi izin masuk lebih dahulu untuk membantu Annisa merapihkan barang bawaan. Aku mengiyakan karena sedang asik bermain bola dengan anak-anak.
Terlebih villa ini cukup aman, selain security yang aku siapkan di pintu gerbang depan, aku juga menaruh beberapa CCTV di beberapa tempat sehingga aku yakin villa ini aman dan anak-anak bisa terpantau dengan baik. Setelah capek bermain, aku dan anak-anak duduk beristirahat di atas rerumputan di taman. Annisa datang menghampiri sambil membawa minuman dan cemilan.
"Capek ya habis main bola? Nih nyemil dulu, habis itu mandi ya. Anak-anak Bunda asem.." Ucapnya sambil menutup hidung lalu menaruh minuman dan cemilan di pelataran villa.
Fatih, Fatir, dan Fath berlari menghampiri Annisa dan memeluknya. Setelah itu mereka mulai minum dan makan cemilan yang di bawakan Annisa. Akupun berjalan menghampiri mereka. Annisa menuangkan minuman dan menyerahkannya padaku.
"Silahkan di minum Pak."
"Terima kasih banyak Annisa." Aku menerimanya dengan senang hati.
Setelah minum dan makan cemilan yang Annisa bawakan, kami segera masuk ke dalam dan mandi. Benar kata Annisa, aroma badan kami sudah tidak enak. Akupun bergegas masuk ke dalam kamar, mandi, dan berganti pakaian. Setelah selesai, aku keluar kamar dan melihat Fath dan Annisa yang sedang kejar-kejaran. Fath belum memakai pakaian dan Annisa berlari mengejarnya untuk memakaikan baju dan celana.
Aku tersenyum memandang mereka, hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Akupun menghampiri Annisa dan menawarkan bantuan. Fathpun tertawa dan berlari menghampiriku. Lalu meminta di pakaikan baju dan celana olehku. Aku tersenyum dan segera memakaikannya. Setelah itu aku kembali bermain bersama mereka. Annisa memerhatikan dari dapur. Dia dan Mamanya sedang menyiapkan makan malam dan di bantu oleh asisten rumah tangga.
Adzan maghrib tiba, Annisa berjalan menghampiri kami yang sedang fokus menyusun lego.
"Ayo anak-anak, kita siap-siap shalat maghrib habis itu lanjut makan malam. Setelah shalat isya baru kita BBQan. Mau?" ajak Annisa kepada ketiga anaknya.
"Mau.." Jawab anak-anak bersamaan.
Di bagian belakang villa ini memang telah aku sediakan musholla. Aku sengaja membuatnya untuk Mami menunaikan shalat. Sehingga Mami bisa lebih leluasa beribadah di sana. Tapi sekarang sepertinya musholla tersebut tidak hanya untuk Mami tapi juga Papi, Annisa, dan keluarganya. Kalau untukku pribadi, aku belum tahu karena aku tidak mau terburu-buru mengambil keputusan terkait memeluk Agama. Karena hal tersebut merupakan suatu keyakinan yang harus aku pikirkan matang-matang.
Fath menghampiri dan menuntun tanganku, "Ayo shalat Om."
Aku tersenyum, bingung mau menjawab apa.
Annisapun berjongkok di depan Fath, dan memegang kedua pundaknya, "Om shalat di kamar sayang, karena beliau mau curhat sama Allah."
"Owh, jadi Om nggak bisa imamin kita Bunda?"
"Untuk saat ini belum. Kita doakan agar Om bisa segera selesai curhat sama Allah dan suatu hari nanti beliau bisa mengimami kita ya."
"Siap Bunda."
Fath tersenyum ke arahku dan aku ikut jongkok di hadapan Fath.
"Doain Om ya sayang."
Fath mengangguk dan tersenyum. Merekapun bergegas untuk berwudhu dan berjalan menuju musholla. Setelah mereka berwudhu, Mama Annisa menggiring anak-anak menuju taman belakang. Aku hanya bisa memperhatikan mereka dari jauh karena khawatir anak-anak akan bertanya tentang agamaku dan itu akan membuatku repot menjawabnya. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan Annisa tadi, mereka akan berdoa agar suatu saat nanti aku bisa mengimami mereka.
Aku tersenyum, dan berfikir sejenak. Apa itu artinya ada celah untukku menjadi bagian dari keluarga mereka? Memeluk Agama Islam, apa mungkin bagiku? Batinku. Akupun menarik nafas panjang. Sepertinya aku harus banyak belajar tentang Islam terlebih dahulu. Aku tidak boleh gegabah hanya karena ingin menjadi bagian dari keluarga mereka. Akupun memperhatikan mereka dari balkon kamarku di lantai 2.
Ternyata Fath dan Fatir melihatku dan melambaikan tangan ke arahku. Akupun tersenyum dan ikut melambaikan tangan ke arah mereka. Sepertinya anak seumuran Fath dan Fatir belum terlalu fokus untuk menunaikan shalat. Berbeda dengan Fatih yang saat ini menjadi imam shalat dan mengimami mereka semua. Annisa menanamkan agama dengan sangat baik kepada mereka bahkan dari mereka sekecil ini.
Mungkin agar mereka terbiasa beribadah dan mengenal Tuhan sejak dini. Sehingga anak-anak tidak ada yang seperti aku. Sampai saat ini belum memiliki agama dan keyakinan terhadap Tuhan. Rasanya malu melihat mereka, akhirnya aku memutuskan masuk ke dalam kamar sambil menunggu mereka. Kebetulan pintu kamar yang terhubung dengan balkon terbuat dari kaca sehingga aku bisa memperhatikan mereka dari jauh tanpa terlihat oleh anak-anak.