"Tidak apa-apa Pak. Tapi maaf saya tidak bisa menjanjikan apapun kepada Bapak. Karena jujur kita juga baru kenal dan bertemu beberapa hari terakhir."
"Iya saya paham Annisa, saya hanya ingin kamu tahu maksud baik saya untuk kamu dan anak-anak."
Aku mengangguk dan tersenyum, "Saya izin masuk duluan ya Pak."
"Sebentar Annisa, ini untuk kamu." Pak Anthony menyerahkan kotak kecil berwarna emas kepadaku.
"Apa ini Pak?"
"Hanya hadiah kecil untuk kamu. Tolong di pakai ya Annisa. Assalamualaikum."
Pak Anthony pergi meninggalkanku, akupun terdiam memandang kepergiannya dan membuka kotak pemberian Pak Anthony.
Beliau memberikanku bross yang sangat cantik dan indah. Sepertinya ini bukan barang yang murah, aku ragu menerimanya namun aku juga tidak enak untuk mengembalikannya. Aku berbalik dan masuk ke dalam. Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri dan menginformasikan kamar yang akan aku dan anak-anak tempati. Akupun mengikutinya agar tidak tersesat.
Sesampainya di kamar, aku segera merapihkan barang bawaan. Beberapa saat kemudian, Mama datang membantu. Akupun menanyakan keberadaan anak-anak. Mama bilang mereka sedang asik bermain bola bersama Pak Anthony. Kamipun bergegas merapihkan barang yang tersisa dan mandi. Setelah selesai mandi, kami ke dapur untuk menyiapkan makan malam, cemilan, dan minuman. Saat kami sedang menyiapkan bahan, asisten rumah tangga datang menawarkan bantuan. Kamipun mengiyakan dan menerima bantuan tersebut. Setelah selesai menyiapkan cemilan dan minuman, aku ke luar menghampiri Pak Anthony dan anak-anak yang sedang duduk sambil memanjangkan kaki di atas rumput. Sepertinya mereka sedang beristirahat.
"Capek ya habis main bola? Nih nyemil dulu, habis itu mandi ya. Anak-anak Bunda asem.." Ucapku sambil menutup hidung lalu menaruh minuman dan cemilan di atas meja.
Fatih, Fatir, dan Fath berlari menghampiri dan memelukku. Setelah itu mereka minum dan makan cemilan yang aku bawakan tadi. Pak Anthonypun berjalan menghampiri kami. Aku segera menuangkan minuman dan menyerahkannya pada Pak Anthony.
"Silahkan di minum Pak."
"Terima kasih banyak Annisa."
Setelah minum dan makan cemilan, kami segera masuk ke dalam dan membantu anak-anak mandi. Fatih dan Fatir sudah selesai mengenakan pakaian sendiri dan keluar dari kamar. Sedangkan Fath masih belum mau mengenakan pakaiannya dan berlari keluar. Akupun berusaha mengejar dan merayunya.
Beberapa saat kemudian, Pak Anthony datang menghampiriku dan menawarkan bantuan. Fathpun tertawa dan berlari menghampiri Pak Anthony. Tidak di sangka, dia meminta di pakaikan baju dan celana oleh beliau. Aku tersenyum dan melap peluh yang ada di dahi. Setelah itu, aku izin kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam dan beberapa bahan untuk BBQ nanti. Adzan maghrib tiba, Akupun berjalan menghampiri Pak Anthony dan anak-anak yang sedang fokus menyusun lego.
"Ayo anak-anak, kita siap-siap shalat maghrib habis itu lanjut makan malam. Setelah shalat isya, baru kita BBQan. Mau?"
"Mau.." jawab anak-anak bersamaan.
Fath menghampiri dan menuntun tangan Pak Anthony, "Ayo shalat Om."
Pak Anthony tersenyum dan sepertinya beliau bingung mau menjawab apa.
Aku berjongkok di depan Fath, dan memegang kedua pundaknya, "Om shalat di kamar sayang, karena beliau mau curhat sama Allah."
"Owh, jadi Om nggak bisa imamin kita seperti Ayah ya Bunda?"
"Untuk saat ini belum, kita doakan agar Om bisa segera selesai curhat sama Allahnya dan suatu hari nanti beliau bisa mengimami kita ya." Aku melirik ke arah Pak Anthony dan kembali melihat Fath.
"Siap Bunda."
Fath tersenyum ke arah Pak Anthony dan beliau ikut jongkok di hadapan Fath.
"Doain Om ya sayang."
Fath mengangguk dan tersenyum. Kamipun bergegas untuk berwudhu dan berjalan menuju musholla yang berada di taman belakang yang tadi sempat di infokan oleh asisten rumah tangga. Setelah selesai berwudhu, Mama ikut menggiring anak-anak menuju taman belakang. Selesai shalat, Fatir dan Fath info kalau Pak Anthony ada di balkon lantai 2. Sepertinya beliau memperhatikan kami dari tadi.
Akupun tersenyum menanggapi pernyataan mereka dan mengajak mereka kembali masuk ke dalam villa. saat kami kembali, Pak Anthony sedang duduk di sofa panjang di ruang tamu. Fath langsung berlari menghampiri Pak Anthony dan beliaupun menyambutnya dengan membentangkan kedua tangan. Aku dan Mama masuk ke kamar dan menaruh mukena lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang telah kami buat tadi di meja makan.
Setelah makanan dan minuman siap, aku memanggil Pak Anthony dan anak-anak untuk segera ke meja makan. Merekapun menghentikan aktifitas dan berjalan menuju meja makan. Kali ini aku yang menyuapi Fath, karena khawatir Pak Anthony lelah bermain dari tadi.
"Bunda, kapan BBQannya?" Tanya Fatih dan Fatir bersemangat.
"Insyaallah setelah kita shalat isya ya sayang."
"Asik." jawab Fatih dan Fatir berbarengan.
"Nanti Om juga akan siapkan api unggun agar kita lebih hangat saat di luar. Tapi ingat, jangan dekati apinya ya."
"Siap Om."
Selesai makan malam, kami bergegas shalat isya di musholla taman belakang seperti sebelumnya dan bersiap untuk melakukan aktifitas berikutnya yaitu acara BBQ dan api unggun. 3 orang karyawan Pak Anthony ikut membantu kami sehingga persiapan jauh lebih cepat. Pak Anthony juga memasang layar dan proyektor di sana untuk menyalakan film. Katanya agar tidak terlihat sepi saat makan nanti. Aku hanya mengiyakan saja. Setelah semua siap, kamipun mulai memanggang daging, ikan, dan lainnya. Pak Anthony ternyata cukup lihai dalam memasak.
Api unggun juga sudah di nyalakan di bantu oleh karyawan Pak Anthony. Setelah semua makanan matang, kami mulai makan dan minum bersama sambil menonton film kartun Upin dan Ipin kesukaan anak-anak. Kami juga sempat bercerita dan bernyanyi bersama. Anak-anak terlihat senang begitupun denganku, Mama, dan Pak Anthony. Saat anak-anak terlihat lelah, akupun mengajak mereka masuk ke dalam villa untuk sikat gigi, wudhu, berganti pakaian dan istirahat.
Mama sudah masuk terlebih dahulu karena cukup lelah. Setelah selesai mengurus dan menemani anak-anak tidur, akupun keluar dari kamar dan masuk ke kamar sebelah untuk beristirahat. Namun aku melihat Pak Anthony yang masih termenung dan memandang api unggun yang masih menyala. Aku berjalan menghampiri beliau dan berniat menemaninya sebentar. Akupun duduk berhadapan dengan beliau.
"Bapak tidak istirahat?"
"Belum, saya masih mau di sini Annisa. Hari ini sangat menyenangkan, rasanya saya tidak mau hari ini cepat berlalu." Pak Anthony tersenyum.
Aku tersenyum menanggapi, "Terima kasih banyak ya Pak, anak-anak sangat senang."
Pak Anthony mengangguk, "Saya juga merasakan hal yang sama. Bagaimana dengan kamu?"
"Saya juga demikian Pak." Aku tersenyum.
"Owh iya, anak-anak sudah tidur?"
"Alhamdulillah sudah Pak, tadi selesai beres-beres dan berganti pakaian mereka langsung terlelap bersamaan. Saya hanya berdoa secukupnya tanpa membacakan cerita apapun. Sepertinya, mereka sudah cukup lelah."
"Bagus kalau begitu."
Aku mengangguk dan bangkit dari tempat dudukku, "Saya masuk duluan ya Pak, selamat beristirahat."
"Tunggu Annisa."
"Iya kenapa Pak?" Aku memandang Pak Anthony dan kembali duduk.
"Bagaimana dengan hadiah saya tadi? Apa kamu suka?"
"Alhamdulillah suka Pak. Walau sebenarnya hadiah tersebut cukup berlebihan untuk saya."
"Itu hanya hadiah kecil Annisa. Saya senang kamu menyukainya."
"Terima kasih banyak ya Pak, saya izin masuk duluan."
"Ayo masuk bareng!" Pak Anthony bangkit dari duduknya.
"Pak Kasno dan Pak Ade, tolong bereskan semuanya ya." Ucap Pak Anthony kepada 2 orang karyawannya.
"Baik Pak."
Aku dan Pak Anthony berjalan memasuki villa dan pergi ke kamar masing-masing. Aku pun memperhatikan Pak Anthony yang menaiki tangga perlahan.
"Selamat istirahat Pak."
"Iya, kamu juga Annisa." Pak Anthony melihat ke arahku sejenak lalu kembali berjalan menaiki tangga.
***
"Anak-anak, ayo sarapan dulu." Aku memanggil Fatih, Fatir, dan Fath.
"Iya Bunda." jawab mereka bersamaan.
Mereka berlari menghampiri dan memelukku satu persatu. Pak Anthony juga ikut menghampiriku. Kebetulan, tadi mereka sedang asik bermain bersama.
"Fath, sini sama Oma. Kasihan Omnya mau sarapan, jangan di tempel melulu." Mama meledek Fath sambil menyentuh hidungnya.
Fath melirik ke arah Pak Anthony dan melihat ke arahku.
"Omnya sarapan dulu ya. Fath duduk di sini samping Bunda. Ok?"
"Iya Bunda."
Untunglah Fath mau menuruti ucapanku. Sejak bangun tadi, dia sudah menempel dengan Pak Anthony begitupun sebaliknya. Sedangkan Fatih dan Fatir duduk masing-masing sambil mengambil makanan di bantu Mama.
"Bapak mau nasi goreng atau roti bakar?"
"Nasi goreng saja Annisa."
Aku mengangguk dan mengambilkan makanan untuk Pak Anthony. Setelah selesai, akupun mengambil makanan untuk Fath dan aku sendiri. Setelah selesai, aku makan sambil menyuapi Fath.
"Pak, kita pulang selesai sarapan atau bagaimana ya?" Ucapku sambil menyuapi Fath.
"Kalau sore, takutnya anak-anak kecapekan ya Annisa?"
"Iya Pak, terlebih besok pagi kan mereka masuk sekolah."
"Ya udah, kalau bagitu Jam 10.00 atau 11.00 WIB saja kita pulangnya. Anak-anak kan belum berenang."
"Baik Pak."
"Kamu siapkan barang, biar saya yang menemani anak-anak bermain."
Aku mengangguk dan kamipun kembali fokus dengan makanan masing-masing. Selesai makan, aku dan Mama membereskan barang bawaan dan menaruh sebagian ke dalam mobil. Aku meninggalkan 1 pasang pakaian untuk anak-anak dan perlengkapan lainnya yang akan di gunakan setelah selesai berenang. Begitu pula dengan s**u dan cemilan.
Setelah selesai merapihkan barang, aku menghampiri Pak Anthony dan anak-anak di kolam renang. Mereka terlihat sangat senang. Akupun mengambil foto dan video kebersamaan mereka. Pak Anthony dan anak-anak melambaikan tangan ke arahku, akupun membalas lambaian tangan mereka. Setelah puas berenang, Fatih dan Fatir datang menghampiriku lebih dahulu. Setelah itu lanjut Pak Anthony dengan menggendong Fath.
"Sudah selesai?"
"Sudah Bunda." jawab mereka bersamaan.
"Ya udah, ayo mandi. Habis itu kita siap-siap pulang."
Kamipun masuk ke dalam dan aku bergegas memandikan ketiga anakku dan memakaikan pakaian mereka. Sedangkan Pak Anthony mandi dan berganti pakaian di kamarnya yang berada di lantai 2. Fatih dan Fatir sudah selesai mengenakan pakaian sedangkan Fath sekarang sedang berlari sambil di kejar Oma karena tidak mau mengenakan pakaian. Pak Anthony melihat hal ini lagi dan bergegas turun untuk membantu.