DENDAM 22

1242 Kata
Enggar POV~ Kami berada dalam perjalanan pulang setelah mengantar mama dan papa ke bandara. Hari ini mereka terbang ke London. "Pak Dullah, antar kita ke Cafe Melody ya!" "Iya den." Aku menyodorkan Black Card ku pada Kanayu." Ini, pakai kartunya untuk membeli bolu pisang, 2 box, rasa original dan satu lagi rasa coklat. " Dia hanya melihat sebentar kartu itu lalu mengambilnya dan mengangguk. Apa dia ada masalah dengan suaranya atau dia bau mulut, sedari tadi diam saja, selain ngobrol dengan mama. Apa peduliku. Aku agak kecewa melihat ekspresi matanya yang seolah tak peduli. Aku ingin melihat bola matanya yang silau dan begitu menginginkan kartu itu. Aku benar-benar tak percaya apa yang mama katakan kalau dia berbeda dengan Calista. Aku ingin membuktikan kalau dia dan Calista adalah makluk yang sama. Silau dengan uang dan kekayaan. Bagaimanapun caranya aku pasti bisa membuktikannya. Bila tidak hari ini tentunya, aku yakin tak akan lama lagi kedoknya akan terbongkar. "Ma... mama dengerin penjelasan ku dulu ya! Mama harus yakin pada Enggar kalo Enggar gak menghamili Calista. Mama tau Calista itu siapa?" Aku melihat pada mama dan papa, mereka berdua menggeleng pelan. "Mama tau aku sudah berpacaran selama lima tahun kan? Dan dia Calista adalah mantan Enggar yang dulu Enggar akan nikahi tapi malah hamil dengan laki-laki lain," ucapku menjelaskan. Mama masih terdiam, menahan amarahnya, papa menepuk pundak mama pelan. Mama memandangku tajam. "Lalu apa maksudmu, mengatakan akan menikahinya dan berjanji memberikannya tempat tinggal?" Kata-kata mamaku terdengar penuh kekecewaan. Aku mengacak rambutku." Ma, Pa aku harus melakukannya untuk melihat niat jahat yang telah dia rencanakan. Aku butuh bantuan kalian untuk meminjam rumah mbok Sumi di kampung sebagai rumahku dan kalian harus mau mengaku jika kalian hanya sebagai orang tua angkatku." Aku memandang mereka bergantian, keduanya juga saling memandang . Mereka mengangguk bersama-sama. "Baiklah tapi, kamu harus janji untuk tidak menyakiti Yayu, mama percaya padamu, dia anak baik dan mama mau kau menjaganya, bila dia sampai tersakiti maka mama sendiri yang akan menghajarmu. Ingat itu!" Ancam mamaku. Aku memberanikan diri bertanya pada nya." Ma, kenapa harus wanita itu yang mama pilih, bukankah dia punya hubungan khusus dengan Saino?" Ckckck. Mamaku berdecak. "Kamu jangan cemburu, Saino tidak ada hubungan apapun dengannya, dia hanya dianggap adik kecil bagi Saino." Jelas mamaku. "Tapi, ma..." "Sudahlah Gar... jangan kebanyakan tapi. Percaya sama mama, seperti mama juga percaya dengan rencanamu itu, paham! Dan mama akan lebih bahagia bila kamu memberi mama cucu." Ucapnya dengan mata berbinar, lalu memandang papa yang juga ikut mengangguk memandangku. "Ma, itu di luar skenario." Mamaku terlihat kesal dengan jawabanku, lalu pergi keluar memanggil Kanayu. "Den... aden..." Suara Pak Dullah membangunkanku dari lamunan. Aku melihat ke sekeliling, mobil sudah terparkir di depan Cafe Melody. "Den kita sudah sampai, aden ingin keluar juga atau Bapak yang beli kue nya buat aden," tanyanya dengan memperhatikan Yayu yang sedang tidur di sampingku dengan lelap. Aku melihat ke arah Yayu yang memegang kartu ku dengan erat seolah takut terjatuh dan hilang. "Biar dia aja Pak yang beliin,"kataku, Pak Dullah mengangguk mengerti. "Kalo gitu saya permisi mau ke kamar kecil dulu ya den," ucap Pak Dullah meminta izin. Aku mengangguk lagi memutar tubuhku ke arah Yayu yang sedang terlelap dalam tidurnya. Dia terlihat sangat lelah, setelah tadi pagi aku kerjain.  Aku tersenyum bahagia dengan sikap kekanakanku, kulihat keningnya mengkerut dan hampir menyatu, aku menekan bagian tengahnya, dan kerutan itu hilang, aku mendekatkan wajah ku padanya, seperti ada hal yang mendorongku untuk mendekati bibirnya, tiba-tiba dia menggeliat sesaat ketika sinar matahari menerobos masuk melalui jendela kaca dan mengenai kulitnya.  Aku menarik tubuhku, merubah dudukku seperti semula. Pura-pura memejamkan mataku. Klek. Bugh. Suara seatbelt terbuka dan pintu mobil yang di tutup dengan lirih.Ku tolehkan wajahku dan dia sudah tak ada disana.  Sial bibirnya sangat menggoda, lebih merekah dan mengundang dari pada milik Calista. Tidak.tidak.tidak. aku tidak boleh tergoda oleh perempuan ini, bahkan dia belum aku kenal lama. *** Yayu POV~ Badanku terasa pegal-pegal. Semalaman aku tidak bisa tidur, dan pagi ini harus bangun pagi menyiapkan semua keperluan bayi gedhe yang sejak kemarin jadi suamiku itu. Dia seperti sengaja membuatku marah dan mempermainkanku. Menyuruhku untuk menyiapkan semua keperluannya padahal dia bisa sendiri melakukannya.Aku pun harus melakukannya sesuai perintahnya karena aku disini untuk membayar hutang dan aku tidak boleh mengeluh. Dalam hati ingin sekali ku jambak rambutnya, eh tapi, dia tidak mempunyai rambut jadi aku tak bisa melakukannya. Aku tertawa geli mengingat ketika pertama kali tau dia tidak memiliki rambut yang tersisa. Dan memandang Calista yang tertegun dengan penampilan mantan kekasihnya itu. "Yayu... jaga dirimu baik-baik ya! Mama percayakan anak mama padamu. Segeralah memiliki anak, karena mama sudah tak sabar pengen nimang cucu ya pa?" Pesan nya pada ku tapi tatapan nya juga di arahkan pada anaknya. "Ma.... kita ini baru saja nikah lo masak sudah di todong dengan bayi sih," protes ETO. Pipiku bersemu merah, entah apa penyebabnya. "Iya bu, ibu dan bapak juga jaga diri baik-baik ya!" "Mama,sayang, aku ini juga mama mu dan dia papa mu sekarang ini." "Iya bu, eh... mama, papa hati-hati," ralatku kemudian. Kamipun berpelukan dan melambaikan tangan kami pada mereka. Setelahnya kami langsung menuju ke tempat parkir untuk segera pulang. "Pak Dullah, antar kita ke Cafe Melody ya!" ETO memerintahkan kepada sopir pribadinya itu. Dia kenal Cafe Melody seperti Saino juga ternyata.  "Iya, den." Pak Dullah menjawabnya dengan cepat tanpa jeda waktu. Tatapannya tetap lurus memandang jalanan di depan, dia  terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menyodorkan padaku, dengan tatapan yang masih sama, apa sih maksud dia? "Ini pakai kartunya untuk membeli bolu pisang, 2 box, rasa original dan satu lagi rasa coklat," perintahnya padaku. Aku terima kartu itu dengan pandangan datar, apa maksudnya dia memberikanku Black Card untuk membeli dua bungkus kue.  'Benar-benar gila, bayi gedhe seperti dia memang harus di musnahkan, sikapnya sangat berbeda jauh dengan ETO idola ku dimasa remaja itu.'Gerutuku dalam hati. Aku butuh istirahat, kursi mobil SUV ini seperti sebuah pelukan hangat yang mengundangku untuk segera menempel padanya. Setelah menerima kartu dari ETO dan menggenggamnya erat mataku langsung terpejam. "Den... aden..." suara Pak Dullah membangunkanku dari tidurku. Aku mengerjap sebentar lalu menoleh pelan ke arah samping kananku, ETO dia sangat tampan dan terlihat sempurna, apalagi jika dilihat dari dekat tapi, sayang dia gila. 'Semoga aku tidak menjadi korban ke gilaannya nanti.' Batinku bersuara.  "Den... kita sudah sampai, aden ingin keluar juga atau bapak yang beli kuenya buat aden?" Pertanyaan Pak Dullah belum dia jawab, aku lihat dia masih termangu dalam pikirannya lalu tak lama kemudian dia tersadar dan bilang bahwa aku saja yang harus beli kuenya. Aku menutup mataku rapat hingga keningku mengkerut, ia menoleh kearahku, tak tau apa yang dia pikirkan, apa dia pikir aku masih tidur? Dia menekan bagian tengah keningku yang mengkerut , akupun membiarkannya rata kembali.  Dia memandang wajahku sebentar, deru napasnya menyapu wajahku, apa yang ingin dia lakukan, semoga dia gak akan macam-macam. Do'aku dalam hati. Seberkas sinar matahari menusuk mataku, aku menggeliat pelan menghindari wajah ETO yang semakin mendekat. Dengan segera dia menjauhkan diri dariku, duduk di tempat dia dengan tenang kemudian pura-pura tidur. Dengan cepat aku membuka seatbelt ku lalu membuka pintu dan keluar dari dalam mobil, menutupnya pelan dan berlari secepatnya ke dalam Cafe dan memesan kue pesanannya itu. Hati ku masih bertalu, mengingat kemungkinan apa yang akan dia lakukan padaku tapi, aku rasa itu cuma halusinasiku saja. Dia tak akan mungkin berbuat hal yang aneh padaku, karena pacarnya kembali dan aku merasa bukan tipenya.  Setelah dua puluh menit aku kembali ke tempat dimana mobil kami di parkirkan. "Pak Dullah, kenapa bapak di luar? Apa bapak merokok?" Pak Dullah menggeleng lalu mengarahkan telunjuknya ke dalam mobil. "Lagi ada tamu buk di dalam," jawabnya dengan bergidik. Aku mengernyitkan dahi. Berjalan ke samping dan membuka pintu mobil itu. Setelahnya aku harus menutupnya kembali dan beristiqfar berulang-ulang. Tanpa terasa hatiku seperti di remas dan air mataku luruh begitu saja. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN