Enggar POV~
Aku merasa bosan, harus sendiri di dalam mobil sementara wanita itu belum juga kembali, bagaimana kalau dia bertemu dengan laki-laki di dalam lalu mereka bersenang-senang.
Sial, aku merasa kesal dengan pemikiranku sendiri, aku tidak seharusnya memikirkannya dan tidak perlu khawatir apa yang akan dia perbuat, bila itu terjadi maka aku seharusnya senang karena tuduhanku terbukti. Aku tersenyum miring.
Drrrt...drrt....
"Hallo? Bagaimana San, apa dokumen yang aku minta sudah kamu buat?"
"Hallo Pak, iya semuanya sudah siap."
"Bagus, tolong antarkan ke Rumah sakit sekarang!"
"Siap pak, apa Bapak butuh hal lain yang bisa saya kerjakan?"
"Untuk saat ini belum, terimakasih San."
"Sama-sama pak."
Teleponnya dia matikan lalu berbunyi kembali.
"Hallo sayang? Sedang dimana?"
Aku masih diam dan enggan untuk menjawab pertanyaannya.
"Sayangg..."
"Mmm..."
"Sayang kamu dimana, aku hari ini jadi pindah ke rumah kamu kan, maksudnya rumah kita?"
"Enggak, maksudku bukan sekarang kamu pindah, tiga bulan lagi kita akan pindah ke rumahku bareng-bareng, aku masih harus menjalani operasi lagi. Aku tidak ingin merepotkanmu untuk menjagaku. Kamu mengerti?"
"Mmm... Tapi, aku ingin bertemu dengan mu sekarang, anak kita sedang kangen dengan ayahnya."
'Sialan' umpatku dalam hati.
"Datanglah ke Cafe Melody dalam 10 menit jika tidak aku tak akan menunggumu."
"Baiklah sayang da..."
Aku mematikan ponsel ku lalu menyandarkan punggungku pada kursi mobil, ku tolehkan kepalaku ke arah jendela karena mendengar ketukan disana, Calista sudah tersenyum manis disana. Cepat sekali dia.
"Masuklah!" Perintahku tanpa melihat padanya. "Ada apa?" Tanyaku tanpa basa basi.
"Sayanggg... kok kamu ketus banget sih ke aku? Aku dan anak kita kan kangen sama kamu."
Cih. Aku berdecih dalam hati, masih saja dia ngotot mengatakan aku adalah ayah dari bayi yang dia kandung. Apa dia benar-benar tidak menyadari kalau aku sudah tau siapa ayah dari bayi yang dia kandung.
"Aku sudah katakan, kita akan pindah rumah dalam tiga bulan lagi, untuk sementara kamu tinggal di tempat lama mu dan jangan mencariku, aku akan konsentrasi dengan operasiku. Pakai ini untuk kebutuhanmu."
Aku menyodorkan kartu ku yang lain padanya dan matanya mulai berbinar. Dia mengambilnya lalu beringsut memelukku, mendekatkan tubuhnya padaku.
Hal yang dulu sangat aku sukai tapi, kini menjadi hal yang menjijikkan bagitu entah kenapa. Aku berusaha menghindar saat bibirnya tengah mendekati bibirku. Aku memegang tubuhnya untuk memberi jarak. "Jangan lakukan Calista!" Perintahku dengan tatapan sadis.
Dia mengerucutkan bibirnya, dan berusaha menciumku kembali, namun belum sempat dia menciumku tiba-tiba pintu samping mobil terbuka dengan cepat, secepat itu pula pintu tersebut di tutup kembali. 'Yayu,' gumamku dalam hati.
Ku dorong tubuh Calista hingga menempati kursi di sebelahku. "Pergilah Calista, aku akan mencarimu tiga bulan lagi, jaga dirimu baik-baik. Jangan membantah! Kamu tau kan aku tak akan pernah main-main dengan omonganku?"
"Baiklah. "Dia mengangguk mengerti, membuka pintu mobil lalu berlalu pergi.
Hatiku tidak sakit ketika kali ini Calista meninggalkanku begitu saja. Hatiku terasa sedikit tercubit melihat Yayu yang menutup pintu mobil setelah melihat ku dengan Calista. Hatiku merasa tak ingin dia salah paham. Dan egoku lebih berkuasa, ingin kulihat reaksinya.
Setelah kepergian Calista aku membuka jendela pada bagian kananku dan memanggil Pak Dullah untuk segera kembali ke rumah sakit.
Yayu kembali ke tempat duduknya, kami pun kembali ke rumah sakit dalam diam. Tidak ada tanda-tanda dia marah atau menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Hai No, sudah lama nunggu?"
Saino menggeleng, menatapku lalu tersenyum pada Yayu. "Belum, kamu ada jadwal Psikologi jam 3.00 apa kamu ingat?" Tanyanya.
"Iya, bisakah hari ini aku tidak hadir?"
"Maaf, gak bisa. Kamu harus rutin melakukan pemeriksaan kalau kamu mau cepet sembuh. Dan ingat jam 2.00 ada Fisioteraphy, dan gak boleh bolos, ia kan Yayu?" Jelasnya padaku, tapi meminta dukungan Yayu.
Yayu mengangguk, tersenyum manis padanya, lalu memandangku dengan tatapan datar. Aku bener-bener tidak suka dengan sikapnya yang dingin padaku tapi begitu hangat kepada Saino.
Bukankah aku suaminya, mmm... aku hanya suami kontrak dan akan seperti itu. Akan ku selesaikan semuanya malam ini.
Aku meminta Yayu membantuku untuk kembali ke atas ranjang, lalu menyuruhnya membangunkanku ketika waktunya tiba untuk sesi Fisioteraphy.
Dia mengangguk lalu kembali ke kamar yang di sediakan untuk nya.
"Yayu... aku mau minum! Cepetan...!"
Yayu berlari tergopoh-gopoh dengan mukena yang masih dia kenakan. Menatapku bingung karena melihat gelas air yang masih penuh terletak di atas nakas di sampingku.
"Kamu dengar enggak sih aku ngomong? Aku mau minum. MINUM. Ambilkan cepat!"
Aku kira dia akan menolak tapi dia meraih gelas ku lalu menyodorkan padaku." Ini air minumnya."
"Pegangin!" perintahku, dia melotot penuh, tapi tetap mengerjakannya.
Dia berlalu setelah menyuapiku air minum, tapi aku tahan." Tunggu! Aku lapar mau makan.
"Sebentar aku ganti bajuku. "ucapnya lalu pergi ke arah kamarnya.
"Yayu..."
"Iya..."
"Lama banget sih, ngapain?"
"Maaf."
"Mana makananku?"
"Ini," jawabnya sembari menyodorkan dua potongan bolu pisang yang tadi siang kami beli.
"Aku mau makan, bukan ngemil, lagian siapa yang suruh kamu buat potong kue itu?" Bentakku, ntah kenapa aku tiba-tiba murka melihatnya melakukan hal itu." Kamu gak tau itu kue biasanya aku makan setelah dinner, kamu gak tau kenapa kamu gak tanya,hah."
Aku kalap. Prang... kulemparkan potongan kue itu ke lantai dan berserakan dinama-mana.
"Maaf... "ucapnya lirih kemudian menyeka air matanya dengan punggung tangannya. "Aku belum memasak karena kita baru pulang, aku minta maaf, lain kali aku akan bertanya."
Dia memegang perutnya yang berbunyi,'apa dia juga lapar?' Batinku bersuara.
"Bantu aku ke kamar mandi lalu bereskan semua ini, setelah itu kita ke bawah!"
Dia menganggung mengerti. Aku mengeram, kenapa dia hanya diam dan menuruti perintahku.
Selesai sesi Psikologi kami kembali ke lantai 20, Saino mengikuti kami ke lantai atas.
"Maaf dok Anda mau minum apa?" tanya nya pada Saino.
"Gak usah repot-repot. Panggil aku Saino aja lah kita kan sudah jadi saudara. Oh ya ada yang mau aku bicarakan pada kalian. Dudklah!"
Dia menatapku lalu aku mengangguk, dia duduk lalu mendengarkan penjelasan Saino.
"Jadi dua minggu lagi operasiku akan dilakukan? "Tanyaku kemudian, memotong pembicaraan mereka yang sepertinya sangat asik, bahkan aku tampak tak terlihat disana.
"Ia, operasi ke duamu, jika hasilnya baik maka tak akan ada operasi lainnya, jadi kamu harus nurut apa kata Yayu, aku sudah memberitahukan padanya semua jadwal dan apa saja yang harus dia lakukan, tentunya dia akan lebih paham daripada aku untuk membantumu menjalani proses penyembuhan, karena dia adalah dokter terbaik di bidang ini."
Pipi Yayu bersemu merah, dia tersenyum tipis lalu menundukkan pandangannya ketika Saino memujinya, aku sangat tidak menyukai dia tersipu malu mendengar orang lain memujinya, aku mengeram dalam hati. Tapi menganggukkan kepalaku.
"Yayu potong kue bolunya dan bawa kemari, lalu masaklah untuk makan malam! No, kamu makan disini juga ya?"
"Mmm... enggak lah, aku mau keluar malam ini cari udara, melepas penat dan merayakan diriku terbebas dari merawatmu." Dia tergelak, kamipun tertawa.
"Sialan lu, baiklah selamat berpesta, tapi kau tidak menolakkan bolu pisang nya?" Tawarku, dan diapun mengangguk senang.
Yayu datang dengan dua gelas kopi dan bolu pisang, Saino terlihat panik melihat Yayu.
"Kamu kenapa? Air panas ya?"
Aku bingung, melihat Saino meraih pergelangan tangan Yayu menuju wastafel dapur, lalu membuka kran airnya.
"Gak apa-apa kok, tadi udah aku basuh."
"Diamlah biar aku olesi salepnya, jangan ceroboh lain kali, trus ini kenapa berdarah? "
"Oh, tadi terpotong, tapi beneran gak apa-apa kok, terimakasih."
"Yayu....."
Aku tidak suka melihat dia dengan Saino sangat akrab, padahal suaminya sedang ada di dekatnya. Kenapa aku peduli, tapi aku merasa dihianati. Aku benci penghianat.
"Iya..."
Yayu berjalan tergopoh-gopoh mendekatiku dengan ekspresi bingung.
***Bersambung...