DENDAM 24

1267 Kata
Kanayu  POV~ 'Yayu kamu gak boleh cengeng, kamu tau kan siapa dia?' hatiku bertanya sekaligus mengingatkan. 'Aku tau kalau pernikahanku hanya sebagai pembayaran hutang, tapi tak tau kenapa hatiku seakan di hianati.' pikiranku beradu argumen. Aku mengambil tissue lalu menyusut air mataku yang sempat luruh. Mereka sangat tidak tau tempat, bahkan ketika siang hari sudah melakukan perbuatan tidak terpuji. Kembali kugelengkan kepalaku mengenyahkan pikiran itu, bukankah wajar bila sepasang kekasih melakukannya. Huh... aku mendesah pelan. "Non... minum air nya!" ucap Pak Dullah sembari menyodorkan sebotol air mineral yang ku teguk hingga habis. "Terimakasih pak." Udara sangat panas hari ini, perutku sudah lapar, tadi pagi aku bahkan tidak sarapan karena sibuk mengurusi bayi gedhe itu. Kurang lebih sekitar sepuluh menit aku mengobrol dengan Pak Dullah, sebelum akhirnya terdengar suara jendela di buka dan nama Pak Dullah dipanggil, beliau diberitahu bahwa kita kembali ke rumah sakit, aku hanya diam kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk ke tempatku semula.  Kami pulang dalam diam dan tanpa obrolan, apalagi aku merasa takut bila dia marah karena tadi aku baru saja mengganggu keasikannya. Sesampai di rumah sakit aku membantunya dan mendorong kursi roda ke lantai 20, sampai di depan pintu kami menjumpai dr. Saino. ETO menyapanya, akupun menyapa dengan menganggukkan kepalaku ringan. Dr. Saino membalas sapaan ETO dan tersenyum padaku." Belum, kamu ada jadwal Psikologi jam 03.00 apa kamu ingat?" Oh, jadi dia kesini untuk mengecek dan memastikan ETO tidak lupa jadwal check up dan latihannya, aku belum tau jadwalnya karena belum di beritahu. "Iya, bisakah hari ini aku tidak hadir?" jawaban ETO membuat dr. Saino tidak senang dan menatapnya tajam. Lalu memberi jawaban yang tegas. "Maaf gak bisa. Kamu harus rutin melakukan pemeriksaan kalau kamu mau cepet sembuh. Dan ingat jam 02.00 ada Fosioteraphy, dan gak boleh bolos, ia kan Yayu?" ucapannya membuatku merasa bingung, tapi menurutku dr. Saino benar, dia tidak boleh absent seenaknya bila mau cepat sembuh.  Aku mengangguk dan tersenyum menyetujui pernyataannya, kemudian kualihkan pandanganku pada ETO dengan ekspresi datar, sepertinya dia memandangku dengan sinis, ETO memanggilku kemudian menyuruhku untuk membantunya kembali ke ranjang dan mengingatkannya agar membangunkan dia ketika waktu Fisioteraphy dimulai. ````` "Yayu... aku mau minum! Cepetan...!" Terdengar suara ETO memanggilku ketika aku baru selesai sembahyang. Aku berlari ke arahnya, melihat gelas air yang terisi penuh masih berada di atas nakas di sampingnya, aku bergeming karena bingung ,namun tak berani bertanya. Kemudian ETO kembali berbicara, kini dengan nada yang meninggi. "Kamu dengar enggak sih aku ngomong? Aku mau minum. MINUM. Ambilkan cepat!" Buru-buru aku melakukan apa yang dia perintahkan." Ini air minumnya." Aku menyodorkan padanya tapi dia malah memberi perintah yang lain padaku. "Pegangin!" Suruhnya, akupun melakukan apa yang dia mau. Setelah drama bayi minum airnya selesai, aku ingin kembali ke kamar dan mengganti baju serta mukena ku, urung ku melangkah dia sudah memberi ku perintah. "Tunggu! Aku lapar mau makan," ucapnya santai. Aku mengangguk ringan dan meminta izin padanya. "Sebentar aku ganti bajuku." Selesai ganti baju aku pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ETO makan sebelum sesi Fisioteraphy nya. Tidak ada makanan yang siap untuk di makan, semuanya masih mentah dan kami tidak punya waktu banyak, akupun ingat tadi pagi kami sempat membeli bolu pisang dari Cafe Melody. Aku mengambil kue itu lalu memotongnya, karena aku tidak tau rasa  apa yang dia suka maka aku memotong ke-2 nya masing-masing satu potongan kecil, perutku berbunyi ketika hidungku mencium aroma bolu yang sedang ku potong. Aku meletakkannya pada sebuah piring saji dan menaruhnya di atas nampan, membawanya ke tempat dimana ETO sudah memanggilku sejak tadi. "Yayu..." "Iya..." "Lama banget sih, ngapain?" "Maaf." "Mana makananku?" Aku menyodorkan nampan berisi dua potong bolu pisang itu padanya. "Ini," ucapku lirih dan mendapati ekspresinya sangat menakutkan. Dia membentakku dan melempar nampan itu sembarangan hingga berceceran."Aku mau makan, bukan ngemil, lagian siapa yang suruh kamu buat potong kue itu?Kamu gak tau itu kue biasanya aku makan setelah dinner, kamu gak tau kenapa kamu gak tanya,hah." Bahkan aku gak sempat membela diri, mulutnya sudah mececar ku. Mataku tiba-tiba memanas, bibirku terkatup menahan tangis. "Maaf... "ucapku yang keluar dari bibir dengan tubuh gemetar, takut bila dia melukaiku. "Aku belum memasak karena kita baru pulang, aku minta maaf, lain kali aku akan bertanya." Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan, aku shock dan kaget, apa salahku, apa karena tadi pagi aku yang mengganggu kemesraannya jadi kini dia uring-uringan atau dia lagi PMS dan mengalami mood swing, baru saja dia sangat manja dan kini dia membentak ku dengan semena-mena.  ETO sang idola yang terkenal ramah dan baik itu memperlakukan orang lain dengan kejam. Apa kabar dia? jika dulu para fans nya tau sikap aslinya, aku rasa semuanya dan termasuk aku tak mungkin mengidolakan dia. Bersamaan dengan kata maaf ku, perutku mendemokan diri di hadapannya tapi dia tak perduli, aku sepertinya harus menahan rasa lapar ini sampai makan malam. Tanpa peduli apapun dia kembali berkomando. "Bantu aku ke kamar mandi lalu bereskan semua ini, setelah itu kita ke bawah!" Aku mengangguk dan mengerjakan yang dia minta. Selesai sesi Psikologi kami kembali ke lantai 20, dr. Saino mengikuti kami ke lantai atas. Merasa perlu, aku menawarinya minum setelah kami berada di ruang tamu. Dan dia menolak. "Maaf dok Anda mau minum apa?"  "Gak usah repot-repot. Panggil aku Saino aja lah kita kan sudah jadi saudara. Oh ya ada yang mau aku bicarakan pada kalian. Duduklah!" Perintahnya padaku. Aku menatap ETO untuk meminta persetujuan, aku takut dia akan memukulku nantinya bila tidak bertanya padanya, membayangkan saja ngeri, meskipun dia sedang berada di kursi roda tapi tubuh kekar dan pundak nya yang berotot itu tetap terlihat mengintimidasi. Dia mengangguk, aku duduk di kursi dekat ETO lalu mendengarkan penjelasan Saino. Dr. Saino menjelaskan banyak hal termasuk jadwal operasi ETO, jadwal check-up dan lain-lain yang sekarang menjadi tanggung jawabku dan di bawah pengawasanku. Aku hanya berharap ETO mau mematuhi jadwal dan berdisiplin sesuai waktu yang aku cacat. "Jadi dua minggu lagi operasiku akan dilakukan? "Tanya ETO kemudian, memotong pembicaraan kami yang sangat asik, bahkan aku merasa nyaman berbicara dengan dr. Saino disana. "Ia, operasi ke duamu, jika hasilnya baik maka tak akan ada operasi lainnya, jadi kamu harus nurut apa kata Yayu, aku sudah memberitahukan padanya semua jadwal dan apa saja yang harus dia lakukan, tentunya dia akan lebih paham daripada aku untuk membantumu menjalani proses penyembuhan, karena dia adalah dokter terbaik di bidang ini." Paparnya. Pipi ku bersemu merah, ketika dr. Saino memujiku, seingatku belum pernah rasanya selama ini aku dipuji dengan tulus oleh seorang laki-laki dewasa di hadapanku. Aku tersenyum tipis lalu menundukkan pandanganku menahan rasa malu.  Tak lama suara ETO membuat ku menoleh padanya. "Yayu potong kue bolunya dan bawa kemari, lalu masaklah untuk makan malam! No, kamu makan disini juga ya?"komandonya, aku pun permisi dan bergegas pergi ke dapur menyiapkan semua bahannya dan memotong kue bolu yang katanya, akan dia makan sehabis Dinner, sangat menjengkelkan. Masih terdengar dr. Saino menjawab pertanyaan ETO. "Mmm... enggak lah, aku mau keluar malam ini cari udara, melepas penat dan merayakan diriku terbebas dari merawatmu," tutur dr. Saino merekapun tergelak, dan tertawa bersama.  Aku membawa nampan berisi dua gelas kopi dan bolu pisang. ETO meneruskan pembicaraan mereka. "Sialan lu, baiklah selamat berpesta, tapi kau tidak menolakkan bolu pisang nya?"  Dr. Saino tampak senang melihat bolu pisang yang ku hidangkan di atas meja, lalu suaranya tiba-tiba terdengar khawatir, meraih pergelangan tanganku dan membawanya ke wastafel dapur dan mengalirkan air kran di luka itu. Aku sempat melihat ekspresi bingung ETO. "Kamu kenapa? Air panas ya?" Ucapan dr. Saino membuat perasaan tidak enak. Aku menjawab sekenannya."Gak apa-apa kok, tadi udah aku basuh." "Diamlah biar aku olesi salepnya, jangan ceroboh lain kali, trus ini kenapa berdarah? " "Oh, tadi terpotong, tapi beneran gak apa-apa kok, terimakasih." Dr. Saino membantu mengoleskan salep khusus luka bakar dan plaster pada luka ku tadi pagi karena memunguti pecahan piring yang di lempar ETO. Aku terjengkit kaget mendengar suara teriakan ETO memanggil namaku. Aku berlari ke arahnya dan memandangnya bingung. Apa lagi salahku kali ini? "Yayu ..." "Iya ..." *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN