DENDAM 25

2399 Kata
"Yayu ... Kanayu ... " teriak Enggar memanggil Yayu. Rasa amarah yang berusaha ia sembunyikan tampak terlihat jelas. Yayu berlari kecil ke arahnya, Enggar memperhatikan setiap langkah dan pergerakannya, sebuah plaster melingkar di jari kelingkingnya. Punggung tangannya tampak sedikit merah. "Iya ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" tanyanya dengan ekspresi datar, menahan rasa takut yang tiba-tiba menghampirinya, teringat kejadian siang tadi, dia pun tak ingin memancing kemarahan suaminya itu. "Simpan kembali kue ku, lalu antar aku ke ranjang, aku lelah ingin berbaring!" ucapnya memerintah Yayu. Yayu mengangguk mengerti, Saino yang muncul dari arah kamar mandi bersuara." Lo gak nemenin gue makan Gar? Gak enak lah makan sendirian, Yayu, kalo gitu kamu aja yang nemenin aku makan ya?" ajak Saino dengan senyum mengembang. Enggar semakin merasa jengkel, dia sendiri tak tau kenapa sikapnya aneh. Apalagi mereka baru menikah kemaren tapi dia selalu merasa tak suka bila Yayu berdekatan dengan orang lain. "Yayu mau bantu aku Saino, trus dia juga harus nyiapin makan malam ... kamu makan sendiri aja! Habis itu cepetan pulang!" usirnya. Saino merasa sedikit heran dengan sikap sepupunya itu namun, tak terlalu menghiraukannya, dia pun menghabiskan kue nya lalu berpamitan pergi. Yayu membereskan piring kotor di meja depan kemudian pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Sementara itu, Enggar berada di ranjangnya meneliti berkas yang di kirimkan oleh sekertarisnya tadi siang. Sebuah senyum mengembang di kedua bibirnya. ------------- Yayu telah menyelesaikan masakannya, dia melangkah menuju ranjang Enggar. Di tatapnya wajah idola nya itu dengan seksama, wajahnya masih terlihat tampan mesti rambutnya telas di cukur hingga plontos. Sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya, nasib benar-benar mempermainkan hidupnya, idola yang dulu hanya bisa dia mimpikan dalam tidurnya itu, kini resmi menjadi suaminya. Suami kontrak nya, seorang yang dia nikahi demi imbalan uang dan demi untuk membalaskan dendamnya, meski dia belum tau bagaimana caranya, tapi dia yakin dia akan bisa membalas rasa sakit di hatinya itu. "Belum puas memandang ku? Apa aku begitu tampan, hingga kau meneteskan air liurmu?" Celetuk Enggar membuat Yayu tersadar. Dia tidak menanggapi pertanyaan yang dia anggap narsis itu, walaupun tidak dia pungkiri bahwa Enggar memang benar-benar tampan. "Makan malam sudah siap, apa mau aku ambilkan ke sini?" Tanya Yayu kemudian, menutupi kecanggungan dan semburat merah di pipinya karena malu, dia ketahuan memperhatikan Enggar dalam waktu lama. Enggar menggeleng,tapi kemudian berubah pikiran. "Tunggu! Aku mau kau membawanya kesini!" ucapnya kemudian. Yayu meninggalkan ruangan Enggar lalu menuju dapur dan mengambil nampan berisi satu mangkuk sup jagung, satu piring nasi yang di tata rapi dengan lauk brokoli, wortel dan buncis rebus ditambah dengan perkedel kentang dan telur rebus serta segelas air. Yayu tersenyum melihat hasil masakannya. Meski terlihat sederhana namun, bernutrisi tinggi dan kaya akan gizi. Yayu tidak tahu apakah makanan kesukaan Enggar masih sama dengan yang dulu atau sudah berubah. Jadi dia memutuskan untuk memasak makanan yang bahannya tersedia di lemari es. Yayu berjalan menuju ruangan Enggar dengan membawa nampan lengkap dengan tudung saji yang cantik, meletakkan nampan di atas nakas di samping ranjang Enggar kemudian berjalan untuk mengambil meja makan pasien namun, langkahnya terhenti ketika mendengar Enggar bersuara. "Mau kemana?" tanya Enggar. "Suapi aku atau aku gak akan makan makanan ini!" Lanjutnya memerintah. Yayu menghentikan langkahnya, memandang Enggar dengan raut muka penuh tanda tanya. Sedang Enggar hanya diam dengan ekspresi datarnya.' Dasar bayi gedhe, masih punya tangan aja gak mau menggunakan,' rutuk yayu dalam hati. Yayu menyatukan kedua tangannya lalu meremasnya dengan kuat. Dia ingat bahwa dirinya harus ekstra sabar untuk menghadapi bayi gedhe ini dan dia akan mencari cara untuk membuatnya terluka. Sementara itu Enggar juga sedang mencari cara untuk membuktikan keburukan Yayu. Yayu memutar tubuhnya, bergeming lalu berkata lembut. "Baiklah, aku akan menyuapimu, " ucapan Yayu yang tidak Enggar duga membuatnya senang dan kesal dalam waktu yang bersamaan. Yayu duduk di sebelah ranjang Enggar. Mengambil nampan di atas nakas, memangkunya dan mulai dengan tugasnya. Enggar tak lepas memandang setiap pèrgerakan yang Yayu lakukan. Entah kenapa hal itu menjadi hobby barunya beberapa hari ini. Enggar merasa nyaman karenanya. Yayu membuka tudung sajinya, lalu mulai menyendok sup jagung yang beraroma gurih buatannya itu, mencoba menyuapi Enggar namun dia harus kembali menahan amarah dan menulikan pendengarannya. "Makanan apa sih ini? Emangnya aku sapi harus makan rerumputan,huh? Kenapa kamu malas banget sih dan gak mau masak. Aku itu gak pernah makan makanan rumah sakit. Apa kamu dengar? Lagian mama kan udah berpesan padamu bahwa, kamu harus menjagaku dengan baik, tapi lihat apa yang kamu perbuat? Masak saja malas lalu bagaimana aku akan sembuh?" teriakan Enggar kembali memenuhi ruangannya. Enggar kembali murka, dia melihat ekspresi bingung pada wajah Yayu, matanya pun tampak sembab dan itu membuat Enggar puas. Dasar wanita kegatelan dari tadi asik ngobrol dan tertawa bareng Saino, giliran di bentak sedikit aja nangis. Batin Enggar bersuara, sementara wajahnya tetap datar. Yayu berdiri dari duduknya, mengangkat nampan di pangkuannya hendak pergi namun, Enggar mencegahnya kembali. "Mau kemana? Aku belum selesai, cepat suapi!" Perintah Enggar kemudian sembari menunjuk kursi Yayu dan mengisyaratkan agar dia duduk kembali. Yayu masih berdiri mematung, dia masih bingung dengan kemauan pasien plus bayi gedhe sekaligus suaminya itu. "Woooi ... ngapain masih bengong di situ, cepetan duduk dan suapi aku, setelah itu kamu makan dan kita bicara hal penting, cepetan!" Enggar kali ini menahan omongannya agar tidak terdengar terlalu keras. Yayu memalingkan wajahnya menghadap Enggar sebentar, lalu dia kembali berjalan menuju dapur. "Tunggu! Cepat kembali kesini dan suapi aku!" Teriakan Enggar kembali terdengar. "Kamu itu seharusnya nurut apa kata suamimu dan mengikuti perintahnya!" Suara Enggar bergetar dalam kata suami yang baru dia ucapkan, dia kaget mendengar perkataannya sendiri dan berusaha memasang mimik muka datar nya. "Katamu tidak mau makan makanan sapi jadi aku akan memakannya di dapur karena aku juga lapa," ucap Yayu menyuarakan kata hatinya, kemarahan yang dia tahan akhirnya dia keluarkan sedikit. Yayu sama sekali tak memperdulikan ucapan Enggar, kakinya kembali dia langkahkan namun, akhirnya harus terhenti karena suara barang pecah yang menghantam tembok membuatnya harus memalingkan wajahnya kembali. Yayu melihat ekspresi wajah Enggar yang kini penuh dengan amarah, matanya pun memerah. "Kembali kesini kataku!" Perintah Enggar dengan nada beratnya. Yayu yang sedikit gemetar belum mau beranjak dari tempatnya, dia memandang ponsel yang di genggam Enggar dengan penuh ketakutan, Yayu waspada bila Enggar kembali murka tentu kepalanya akan jadi sasarannya. "Cepet!" Teriakan Enggar kembali terdengar di susul suara nakas yang di gedor dengan kencang. Yayu beringsut dari tempatnya menuju ranjang Enggar, memegang erat nampan yang dia bawa. Yayu kembali duduk ke tempatnya semula membuka tudung sajinya lalu mulai menyendok sup jagung nya, Yayu mendongakkan wajahnya dan mendapati mata Enggar yang masih menatapnya dengan kemarahan. Yayu menundukkan wajahnya menatap nampan di depannya. Kenapa w*************a sepertimu tak mau bersikap manis padaku seperti Calista, dan kau malah membuatku selalu merasa jengkel.suara Enggar dalam hati. Dasar pemberontak seharusnya kau bisa semanis Calista hingga aku bisa mencintainya dan mempercayai kebohongannya selama lima tahun. Aku yakin kamu menikahiku karena uang dan ingin menguasai harta ku, tapi kenapa kau tidak mau bertindak sesuai keinginanku, kau malah mempersulit dirimu dengan menjadi pembangkang. Baiklah aku juga akan melihat sampai dimana kau akan terus jadi pembangkang. Karena aku yakin aku akan bisa merobek topeng yang menutupi wajahmu itu. Monolog Enggar dalam hati. Dasar bayi gedhe labil, katanya gak mau makan, tapi sekarang masih minta di suapi. Sudah gitu marah-marah, gak takut darah tinggi apa? Gerutunya dalam hati. Kamu harus sabar Yayu, kamu harus menuruti semua keinginannya jika kamu mau membalas dendammu. Ingat kamu harus mencari tau kelemahannya dan jangan membuatnya murka jika kamu tidak mau terluka lagi. Batinnya mengingatkan. Yayu menghela napas panjang dalam hati. "Wooi ... bukannya kamu itu lulusan terbaik, tapi nyatanya mana? ngurus satu pasien aja gak becus," ucap Enggar menyindir. Matanya melihat Yayu tajam sedang Yayu masih menatap nampan di pangkuannya menahan emosi. "Wooi ... jawab!" Merasa di abaikan Enggar kembali marah, dia bener-bener tidak mengerti dengan wanita di depannya yang sama sekali tidak mengacuhkannya. Yayu tidak mengindahkan komentar Enggar. "Kamu cepetan makan! Nanti telat minum obat dan vitaminmu," sela Yayu dengan nada bergetar. Dia mendongakkan wajahnya kembali dan tidak menghiraukan ekspresi Enggar yang masih marah. Disuapkan sesendok sup pada mulut Enggar, tapi tidak dia makan. Enggar masih sibuk memandang Yayu dan memikirkan bagaimana caranya mengerjai w*************a di depannya ini. "Makanlah!" Suara dalam Enggar memecah keheningan dalam kamar yang tercipta beberapa detik itu. "Makanlah! Kenapa kamu sama sekali gak mau nurut sih, dan selalu saja membuatku harus mengulang ucapanku. Cepet makan! Aku tau kamu juga lapar. Makan disini dan jangan coba-coba kembali ke dapur. Sekali lagi kau membuatku marah dan mengulangi ucapanku kau akan menerima hukuman dariku, mengerti?" Yayu mengangguk mengerti, dia bener-bener merasa ketakutan. Dia menarik tangannya yang mulai gemetar untuk kemudian dengan cepat menyuapi dirinya dengan makanan buatannya itu. Dia tidak lagi memperdulikan pandangan Enggar yang mengintimidasi atau menakutinya itu. Makanan di nampan sudah habis dia meminum air dalam gelas hingga tak bersisa. Merasa aman dan makanannya sudah habis, dia bermaksut ke dapur untuk mencuci piringnya. Dia bangkit dari duduknya tanpa melihat Enggar. "Tunggu!" Suara Enggar membuatnya mematung di tempat, dia tidak mau membuat Enggar mengulangi perintahnya itu. "Maaf aku mau mencuci piring ini, apa kamu mau sesuatu?" Tanya Yayu dengan rasa takut yang di sembunyikannya. "Mmm... ambilkan aku bolu pisang tadi siang. Cepat! Aku gak suka harus nunggu terlalu lama." "Baiklah," jawab Yayu, dengan segera dia beranjak dari tempatnya menuju dapur menaruh nampan di wastafel dan mengambil potongan kue yang Enggar minta. Yayu kembali menyodorkan piring berisi dua potong kue kepada Enggar kali ini Yayu berusaha menyuapi Enggar tanpa dia perinta karena dia tidak mau lagi mendengar bentakannya."siapa yang menyuruhmu menyuapiku, taruh di atas nakas!" Kembali Enggar bersuara. Lalu menyodorkan kertas yang sedari tadi dia pegang. Yayu lagi-lagi harus menahan emosi dan rasa takut karena dia salah lagi. Dia bener-bener bayi gedhe yang menyebalkan, tapi bagaimana mungkin pacar modelnya itu bisa tahan dengan sikapnya. Gumamnya dalam hati. Yayu meletakkan piring itu di atas nakas dan mengambil kertas yang Enggar sodorkan. "Ini apa?" Tanyanya. "Baca dong! Duh kenapa juga semua wanita menyebalkan, kenapa mereka hanya bersikap baik jika ada maunya," gerutu Enggar frustasi. Yayu membaca dan memahami isi kertas itu. "Maksudnya apa?" Tanyanya dengan raut penuh selidik. "Seperti yang telah kamu baca, itu adalah surat perjanjian pernikahan kita. Intinya pertama, kita hanya akan menikah selama 6 bulan dan dalam kurun waktu itu kamu tidak boleh berhubungan dengan laki-laki manapun. Kedua, kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing, tapi kamu tetap harus lapor padaku kemana kamu akan pergi dan bertemu dengan siapa. Ketiga, Tidak akan ada kontak fisik diantara kita, kecuali di depan umum dan di depan orang tuaku, karena memang tak ada yang menarik dari tubuhmu," ucap Enggar berbohong, padahal dia begitu mengagumi senyum Yayu dan tertarik pada mata beloknya. "Jika kamu melanggar dan memutus perjanjian lebih dulu, maka berapapun uang yang mamaku kasih padamu harus kamu kembalikan UTUH! Apa kamu paham?" Lanjut Enggar dengan senyum kemenangan. "Oh ya satu lagi panggil aku dengan nama lain aku gak mau kamu memanggilku dengan nama asliku atau kau mengakuiku sebagai suami. Dan aku akan memanggilmu dengan nama Kana." tambahnya. Yayu sempat kaget dengan nama panggilan itu, tapi dia tidak berani protes. Nama Kana adalah nama panggilan dari ayahnya untuk dirinya yang sudah lama tidak dia dengar. Jangan harap aku akan bisa menerimamu dan menyerahkan hartaku dengan mudah, kau pasti seperti Calista w*************a, guman Enggar dengan senyum miringnya. "Oh ya jangan sampai mama dan papaku tau! Kau paham?" Imbuh Enggar. Mata Yayu membola tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Namun dia cukup mengerti karena mereka pun menikah juga tanpa cinta. Kau hanya perlu menahan penyiksaan selama 6 bulan saja Yayu dan semuanya akan kembali normal setelah itu, kamu akan bisa mendapatkan kembali rumah dan sawahmu lalu kamu akan bisa kembali bekerja sebagai dokter sesuai cita-citamu, kamu harus menggunakan waktu singkat itu untuk membalas kan dendammu. Suara hatinya memprofokasi, tapi bagaimana dengan janjiku pada Bu Pranoto untuk memberinya cucu? Kembali dia bertanya dalam hati, tidak perlu, bukankah kamu tidak pernah berjanji akan memberinya cucu, lagipula suamimu itu tak akan pernah menyentuhmu dan kamu tentu bukan tipenya, dan bukankah Bu Pranoto sebentar lagi akan mendapat cucu dari wanita lain yang tengah mengandung anak Enggar. Jangam bilang kamu menginginkan Enggar dan tubuhnya apalagi hatinya. Hatinya kini kembali menjawab dengan nada ejekan. Tiba-tiba hatinya seperti di remas, ada rasa kecewa karena dia tidak diterima dan diakui namun Yayu menyadari siapa dia dan posisinya. Yayu mengangguk mengerti dan menyetujui perjanjian itu. "Boleh aku bertanya?" Ucap Yayu sedikit gemetar. Enggar menatapnya lekat dan mengernyitkan dahinya. "Mau tanya apa?" "Bolehkah aku meminta satu hadiah darimu?" "Apa?" "aku setuju dan akan melakukan apapun sesuai dengan perjanjian itu, namun aku minta satu saja hadiah darimu." Enggar yang tidak tau maksudnya menyetujui saja, toh dia juga gak bakal rugi. "Baiklah katakan saja, apa maumu aku akan turuti semuanya." Jantung Yayu berdetak dengan lebih kencang, entah dia mendapat keberanian darimana, tiba-tiba dia melangkahkan kakinya ke arah Enggar, sementara Enggar hanya diam dan memperhatikan wajah Yayu yang tiba-tiba bersemu merah dan langkah Yayu menuju ke arahnya lebih dekat. Cup. Satu kecupan lembut mendarat di bibir Enggar, sekitar 5 detik berlalu dan Enggar masih diam dan belum menyadari serangan tiba-tiba yang dia terima, matanya melotot sedangkan Yayu memejamkan matanya dan kembali menekan bibirnya lebih lekat ke bibir Enggar dengan lebih lembut meski dia tau Enggar tidak merespon ciumannya. Dia menarik bibirnya dari bibir Enggar ketika menyadari Enggar mulai bereaksi dan menggerakkan bibirnya. Yayu membuka matanya lalu menjauhkan tubuhnya yang mulai terasa panas dan wajahnya yang terasa terbakar. "Maaf dan terimakasih, ini adalah hadiah yang aku minta darimu," ucap Yayu dengan wajahnya yang memerah dan suara lirihnya, kemudian dia berlari menjauh menuju kamarnya. Yayu merutuki dirinya dan perbuatannya. Dia menghempaskan tubuhnya pada ranjang dan membenamkan wajahnya pada bantal, dirabanya bibirnya yang beberapa menit lalu menyentuh bibir ETO itu. Senyum sumringah tecetak jelas di wajahnya. Yayu pernah bermimpi untuk bisa bersalaman dengan idolanya itu atau berpelukan dengan nya dan hari ini kesempatan lain dia dapatkan yaitu dia memberanikan diri mencium ETO, karena dia rasa hari ini adalah hari pertama dan terakhirnya bisa mencium ETO setelah dia menandatangani perjanjian yang ETO buat. Yayu merasa puas karena mimpinya tercapai dan dia kini harus menghadapi realita baru di depannya. Yayu tidak bisa tidur dan hanya berguling-guling di atas ranjangnya. Dia seakan lupa kalau besok dia masih akan menghadapi Enggar selama 6 bulan kedepan. Sementara itu Enggar masih terpaku, menahan emosi baru yang menyerangnya. *** Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN